Peserta Perkemahan Pramuka Madrasah Jatim 2017 Identifikasi Masalah Lingkungan Trawas

Beragam jenis satwa liar berhasil diidentifikasi oleh peserta Perkemahan Pramuka Madrasah Jawa Timur 2017 pada hari kedua pelaksanaan kegiatan di Trawas ini, Selasa (28/3). Diantara satwa liar tersebut adalah ular, capung, kupu-kupu, katak, kelelawar, kadal, burung, belalang, cacing, kelabang dan kalajengking.

Beragam jenis pencemaran juga ditemukan peserta pada identifikasi mereka yang dilakukan pada pos 1, yang digawangi oleh anggota DKD Jatim Kak Sayyidul Kahfi dan Andalan Daerah urusan Lingkungan Hidup Kwarda Jatim Kak Zamroni. “Ada pencemaran udara, pencemaran air dan pencemaran tanah di kawasan Jara’an, Trawas ini,” kata Rifqi Hidayat, peserta dari wilayah kerja Besuki.

“Warga di Desa Jara’an jalan kamboja terganggu karena adanya warung makan yang membuang sisa makanan dan sampah non organik kemasan makanan langsung ke sungai kecil di belakang warung tersebut,” jelas Rifqi Hidayat menjelaskan hasil observasi lingkungan hidup bersama timnya.

Akibatnya, sambung Rifqi, terjadlilah pencemaran air. “Pada musim kemarau, pencemaran air di desa ini semakin terasa karena penurunan debit air sungai, sungai tidak dapat mengalir dengan lancar sehingga sisa makanan tersebut membusuk dan mengganggu indra penciuman masyarakat dan merusak ekosistem air di sungai sekitar Desa Jara’an, Jalan Kamboja, Trawas,” tambah Rifqi Hidayat.

Untuk keseharian warga sendiri, mereka cukup terganggu dengan hewan ternak yang di letakkan di rumah pemiliknya, bau hewan ternak tersebut cukup menyengat akan tetapi warga di desa jara’an menjaga keharmonisan dengan selalu berkomunikasi dengan perangkat desa setempat.

Menurut Sahidah Amalia, peserta dari wilayah kerja Surabaya, dari kondisi lingkungan hidup yang diamati bersama timnya, Trawas sudah tidak lagi seindah yang dipikirkan banyak orang. “Pandangan kita tentang Trawas adalah daerah perbukitan dengan hutan yang terjaga dan minim polusi,” kata Sahidah.

Namun di balik indahnya Trawas, ada beberapa masalah lingkungan hidup. “Salah satunya adalah pabrik atau industri pemotongan kayu yang mengeluarkan suara bising. Sehingga warga sekitar sering menutup rumahnya karna merasa risih dengan suara bising tersebut. Polusi udara tentunya banyak dihasilkan industri ini,” kata Saidah.

Akibat lainnya dari industri pemotongan kayu ini, menurut Sahidah, warga sekitar jarang melakukan interaksi sosial dengan warga lainnya. “Memang warga yang berada di sekitar pabrik pemotongan kayu sering kali menutup rumahnya dan enggan keluar rumah,” ungkap Sahidah dari hasil observasinya kepada warga sekitar.

Mayoritas masyarakat Desa Jara’an, Trawas yang berprofesi sebagai petani sawah, menurut pengamatan tim putri wilayah kerja Kediri, sering dijumpai dengan penggunaan pestisida pertanian. “Penggunaan pestisida dan pupuk kimia juga akan menyebabkan pencemaran air dan tanah sekitar,” kata Ulul Albab, peserta dari wilayah kerja Kediri. (ron)

Keterangan foto: Peserta putri Perkemahan Pramuka Madrasah Provinsi Jawa Timur 2017 mengidentifikasi permasalahan lingkungan hidup di Desa Jara’an, Trawas, Mojokerto

Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares