Asyik, Banyak Cacing di Biopori yang Dibuat Sebulan Lalu

Anggota Pramuka Patriot Lingkungan Gudep 1853-1866 pangkalan SMPN 36 Surabaya mengamati perkembangan lubang resapan biopori yang dibuat sebulan lalu di halaman Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Rabu (26/4/2017).

Hasilnya, terbukti biopori membuat tanah lebih subur dengan ditandai banyaknya cacing. “Kak, ada banyak cacing di dalam lubang resapan biopori yang telah kita buat sebulan lalu bersama Kakwarda Jatim Gus Ipul,” kata Salim Bakhtir dengan riang sambil menunjukkan cacing di tangannya kepada Andalan Daerah Kwarda Pramuka Jatim urusan Lingkungan Hidup Mochamad Zamroni. Aksi ngebor biopori sebulan lalu itu dalam rangka pencanangan Gerakan Sejuta Biopori Pramuka Jatim 2017.

Dijawab oleh Zamroni, bahwa terbukti bahwa lubang resapan biopori bisa meningkatkan kualitas tanah dan lingkungan hidup sekitar. “Indikator paling mudah adalah banyak cacing di lubang biopori yang telah dibuat. Padahal, sebelumnya tidak ditemukan cacing,” terang Zamroni yang juga aktivis senior dan presiden Tunas Hijau.

Sampah organik yang telah diolah pun berubah menjadi kompos. Ciri-cirinya, warnanya sudah seperti tanah di sekitarnya dan tidak lagi berbau. Seketika itu, 20 orang anggota Pramuka Patriot Lingkungan Gudep 1853-1866 pangkalan SMPN 36 Surabaya mengecek semua lubang biopori yang telah mereka buat bersama pimpinan Kwarcab Gerakan Pramuka kota/kabupaten se Jawa Timur sebulan lalu.

Pangeran Lingkungan Hidup 2016 Gardana Wong Alit dan Puteri Lingkungan Hidup 2016 Ailsa Araminta bersama pimpinan hotel-hotel grup Accor Jawa Timur ngebor biopori untuk mengolah sampah sisa makanan

Aksi ngebor lubang resapan biopori kali ini digelar oleh Tunas Hijau bersama hotel-hotel grup Accor Jawa Timur dalam rangka Planet21. Aksi ini sebagai realisasi dari Stop Food Waste yang menjadi tema Planet21 ini. Aksi ini juga sebagai dukungan terhadap Gerakan Sejuta Biopori Pramuka Jatim 2017 yang telah dicanangkan oleh Kakwarda Jatim Saifullah Yusuf, yang juga wagub Jatim.

Sekitar 300 orang mengikuti aksi yang digelar dalam rangka Planet21 itu. Mereka adalah siswa kader lingkungan sekolah-sekolah Surabaya, Pramuka Surabaya dan karyawan 9 hotel yang tergabung dalam grup Accor Jawa Timur.

Pada aksi Stop Food Waste ini, mereka membuat lubang resapan biopori. Yaitu lubang berdiameter sekitar 12 cm dengan kedalaman sekitar 100 cm. “Lubang yang sudah dibuat, selanjutnya diisi dengan sampah organik khususnya sisa makanan dari hotel-hotel grup Accor ini,” kata Mochamad Zamroni.

Sekitar 100 kg sampah sisa makanan pun langsung lenyap seketika. Sampah organik sebanyak itu hanya bisa mencukupi 15 lubang dari 82 lubang biopori yang dibuat oleh seluruh peserta aksi. Untuk menutup kekurangan sampah organik, para peserta pun mengumpulkan sampah daun di sekitar.

Siswa dan guru SDN Jambangan I dan SD Darul Ulum Surabaya membuat lubang resapan biopori di halaman Masjid Nasional Al Akbar Surabaya

Dijelaskan oleh Zamroni, bahwa semakin dalam lubang resapan biopori yang dibuat, maka akan semakin efektif lubang itu meningkatkan kualitas lingkungan sekitar. “Lebih baik 1 lubang dengan kedalaman 100 cm, daripada 10 lubang berdiameter hanya setengah meter,” terang Zamroni di sela-sela aksi.

Perwakilan Accor Hotels Jawa Timur, yang juga General Manager Novotel Surabaya Sigit Budiarso mengatakan bahwa Planet21 adalah salah satu wujud kepedulian pada lingkungan hidup dan masyarakat oleh hotel-hotel grup Accor. “Diantara aksinya dengan ngebor lubang resapan biopori ini,” kata Sigit Budiarso kepada seluruh peserta yang terlibat aksi.

Lebih lanjut, Sigit Budiarso mengatakan bahwa hotel-hotel grup Accor akan berusaha mengolah sampah organik khususnya sisa makanan yang dihasilkan. “Aksinya tidak hanya dengan lubang resapan biopori ini, tapi juga dengan mengolah sampah organik menggunakan komposter (tong aerob),” tambah Sigit Budiarso.

Aksi ngebor lubang resapan biopori di halaman Masjid Nasional Al Akbar Surabaya ini dirasakan cukup berat oleh seluruh peserta. “Hampir semua lahannya diurug dengan pasir dan batu,” kata Kis Untari, guru pembina lingkungan hidup SDN Dukuh Menanggal I Surabaya. Alhasil, penggunaan linggis menjadi suatu keharusan untuk mencapai kedalaman lubang yang ideal.

EVERTHING IS POSSIBLE – Anggota Pramuka Patriot Lingkungan Gudep 1853-1866 pangkalan SMPN 36 Surabaya ngebor lubang resapan biopori. Batu besar bukan halangan untuk membuat kedalaman lubang yang ideal

Siswa kader lingkungan hidup sekolah yang terlibat adalah SD Darul Ulum, SDN Kaliasin I, SDN Dukuh Menanggal I, SDN Jambangan I, SMPN 4, SMPN 13, SMPN 17, SMPN 19, SMPN 23, SMPN 37, SMPN 40, SMPN 41, SMAN 8, SMKN 1 dan SMKN 8 Surabaya. Sedangkan gugusdepan Pramuka yang ikut serta adalah yang berpangkalan di SMPN 22 dan SMPN 36. Pangeran Lingkungan Hidup 2016 Gardana Wong Alit dan Puteri Lingkungan Hidup 2016 Ailsa Araminta Aurelia ikut serta aksi lingkungan hidup ini.

Bantuan 18 bor biopori juga diberikan oleh Accor Jawa Timur untuk aksi nyata pembuatan lubang resapan biopori. Undian berhadiah voucher menginap dan voucher makan gratis hotel-hotel grup Accor Jawa Timur menjadi penutup dari aksi lingkungan hidup ini. Makan bersama dengan nasi bungkus berkemasan daun pisang menjadi pengalaman unik bagi peserta. (ron)

Keterangan foto utama: Anggota Pramuka Patriot Lingkungan Gudep 1853-1866 pangkalan SMPN 36 Surabaya menunjukkan cacing yang ditemukan di lubang biopori yang mereka buat sebulan sebelumnya di halaman Masjid Nasional Al Akbar Surabaya, Rabu (26/4/2017).

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *