M. Aldiansyah, Pramuka Patriot Lingkungan Surabaya 1853

Gerakan Sejuta Biopori Pramuka Jatim 2017 telah dicanangkan oleh Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka (Kwarda) Jatim Kak Saifullah Yusuf pada Rakerda Jatim, Kamis (23/3). Pencanangan itu diawali dengan aksi ngebor biopori peserta Rakerda Jatim 2017 bersama ketua Kwarda Jatim yang juga Wagub Jatim yang akrab dengan panggilan Gus Ipul ini.

Ialah Muhammad Aldiansyah, yang nampak piawai menjelaskan kepada Gus Ipul mengenai teknis pembuatan lubang resapan biopori itu. “Cara membuatnya cukup diputar bor ini searah jarum jam sambil ditekan,” kata Muhammad Aldiansyah, Pramuka Penggalang Terap dari Gudep 1853 pangkalan SMPN 36 Surabaya.

Dijelaskan oleh Aldi, panggilan Muhammad Aldiansyah, kepada Gus Ipul, bahwa lubang resapan biopori yang telah dibuat harus diisi dengan sampah organik. “Sampah organik itu akan menjadi makanan bagi cacing. Tapi, sebelum diisi sampah organik, pastikan kedalaman lubang mencapai 1 meter. Atau minimal 60 cm agar efektif,” terang Aldi yang juga peserta 2016 Kuala Lumpur International Scouts Jamboree ini.

Aksi ngebor lubang resapan biopori bukanlah hal baru bagi Aldi. Di sekolahnya, dia juga tergabung sebagai siswa kader lingkungan hidup. Di sekolahnya bahkan sudah ada lebih dari 400 lubang biopori.

Aldi dan anggota Pramuka Gudep 1853-1866 pangkalan SMPN 36 Surabaya saat pembuatan lubang resapan biopori di halaman Masjid Nasional Al Akbar Surabaya

“Saya membuat aksi pembuatan lubang biopori dan perawatannya sebagai salah satu aksi latihan Pramuka di Gudep 1853-1866 pangkalan SMPN 36 Surabaya,” terang Aldi yang kini menjabat sebagai ketua Dewan Galang ini.

Bagi Aldi, lubang resapan biopori memang terbukti meningkatkan kualitas tanah. Indikatornya adalah banyaknya cacing tanah pada tanah yang dibuat lubang biopori yang diisi sampah organik.

“Lubang biopori ini, saat kami buat bersama Gus Ipul sebulan lalu, tidak ada cacingnya. Hanya banyak batu dan kerikilnya. Kini jadi banyak cacingnya. Jadi terbukti bahwa sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang biopori bisa mengundang cacing,” terang Aldi setelah mengecek lubang biopori yang dibuat sebulan sebelumnya di halaman Masjid Nasional Al Akbar Surabaya ini.

Aldi dengan linggis mencoba mengangkat batu yang menghalangi pembuatan lubang biopori yang dibuatnya

Kawasan yang banyak dibuat lubang resapan biopori, menurut Aldi, juga akan lebih mudah menyerap air hujan. “Lubang biopori itu adalan jalan masuk yang efektif bagi air hujan ke dalam tanah. Banjir bisa diminimalisasi,” kata Aldi yang mengaku pernah gagal mengikuti seleksi peserta Jambore Nasional 2016 ini.

Pasca mendampingi Gus Ipul pada Aksi Ngebor Biopori, ada yang berubah dari prosedur Aldi dan timnya dalam membuat lubang biopori. “Sebelum membuat biopori, pastikan menyediakan bak untuk menampung tanah atau komposnya. Keindahan tempat harus tetap terjaga dengan pembuatan biopori,” tutur Pramuka yang tinggal di Jl Pagesangan Asri 1 AA 51 Surabaya ini.

Aldi juga lebih piawai ketika menjelaskan kepada banyak orang mengenai kiat membuat lubang biopori. Seperti yang dia lakukan kepada 250 orang anggota Pramuka Gudep 1853-1866 saat latihan rutin di pangkalan SMPN 36, Sabtu (13/5).

Aldiansyah saat mendampingi Kakwarda Jatim Kak Saifullah Yusuf ngebor lubang resapan biopori

“Ayo kita rawat biopori yang sudah ada di SMPN 36 Surabaya ini. Kita tambah juga jumlahnya. Kita olah sampah organik ke dalam lubang biopori yang sudah dibuat. Kita panen komposnya,” terang Aldi kepada anggota Pramuka Gudepnya saat latihan. Namun, terbatasnya alat bor menjadi alasan tidak banyak orang yang bisa praktek langsung. “Hanya 10 lubang biopori yang kami buat,” kata Aldi. (ron)

Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares