Wahyu Sulistyorini, Sosialisasikan Rhesus Negatif Pada Masyarakat

Lulus SMA atau kuliah semester 1 Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya sudah mendapat amanah sebagai ketua Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pandega Kwartir Cabang (DKC) Kabupaten Sidoarjo masa bakti 2011 – 2016. Dia menjabat sebagai ketua DKC Sidoarjo pergantian antar waktu mulai 2014 – 2016. Sebelumnya, dia menjadi bendahara DKC Sidoarjo sejak 2013.

Wahyu Sulistyorini, namanya. Saat purna sebagai ketua DKC Sidoarjo, dia masih Pramuka Penegak. Tantangannya selama kepengurusan DKC saat itu adalah memperbaiki hubungan DKC dengan lembaga terkait di tingkat Kabupaten Sidoarjo. Rini, begitu panggilan akrabnya, juga memperbaiki hubungan  dengan DKD Jatim dan Dewan Kerja Ranting se Sidoarjo.

“Target saya pada 3 tahun masa bakti di DKC itu adalah memperbaiki hubungan dengan Kwartir Cabang Sidoarjo, hubungan dengan DKR, hubungan dengan DKD Jawa Timur, dan hubungan dengan Brigade Penolong Kwartir Cabang Sidoarjo,” kata Wahyu Sulistyorini, yang juga mahasiswa Psikologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA).

Beragam tugas diemban oleh Rini pasca purna sebagai ketua DKC Sidoarjo. Diantara amanah itu adalah andalan bina muda Kwartir Ranting Kecamatan Balongbendo 2015-2017. Rini juga aktif sebagai relawan Forum Padang Bulan Kwarcab Sidoarjo dan aktivis Rhesus Negatif Indonesia daerah Jatim-Bali.

Rini juga sebagai tim evaluasi Kwarda Jatim pada Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka 2017, khususnya untuk pelaksanaan di Banyuwangi, Jombang dan Sidoarjo. Pramuka kelahiran Sidoarjo, 6 Januari 1996 ini juga aktif sebagai trainer dan pemateri leadership di Outbound Indonesia Surabaya (OBIS).

Terkait dengan aktivis Rhesus Negatif Indonesia daerah Jatim-Bali, bagi Pinkoncab Sidoarjo pada Jamnas 2016 ini, bertemu orang baru adalah momen untuk mensosialisasikan pengetahuan mengenai Rhesus Negatif. Tidak terkecuali saat dirinya menjadi trainer dan pemateri.

“Rhesus sangat berpengaruh, karena paradigma masyarakat bahwa darah hanya ada O, A, B dan AB. Saat ini, penggolongan itu masih dibedakan lagi dengan rhesus vektor. Jadi, penggolongan darah itu ada O positif dan O negatif, A positif dan A negatif, B positif dan B negatif, serta AB positif dan AB negatif,” kata Rini yang ingin melanjutkan studi S2 psikologi ini.

Menurut Rini, rhesus negatif jumlahnya sangat minim. “Hanya 10 % dari keseluruhan penduduk Indonesia. Individu dengan darah rhesus darah negatif sangat dibutuhkan hanya pada saat ada permintaan. Jadi pendonor darah dengan rhesus negatif tidak bisa mendonorkan darahnya secara rutin,” ujar Rini.

Masih belum banyak masyarakat yang mengetahui rhesus darahnya. “Tidak sedikit masyarakat baru mengetahui rhesus darahnya setelah sakit, kecelakaan, butuh darah, atau bahkan setelah meninggal. Jadi, kenali rhesus darahmu sebelum terlambat,” pungkas Wahyu Sulistyorini. (ron)

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *