AHMAD BASORI, Ketua Umpi Putra Banyuwangi – Raimuna Nasional 2017

Ternyata Raimuna Nasional 2017 tidak seperti yang sebelumnya dipikirkan Ahmad Basori, sekretaris Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pandega Kwartir Cabang (DKC) Banyuwangi. Dia beranggapan bahwa akan bertemy dengan Pramuka Penegak dan Pandega dari seluruh Indonesia.

“Dari rumah, terlintas dalam benak saya akan bertemu dengan rekan-rekan Pramuka Penegak dan Pandega peserta Rainas 2017 dari seluruh provinsi di Indonesia. Ternyata pada kenyataannya tidak hanya itu. Saya malah bisa bertemu dan bertukar pengalaman dengan rekan-rekan scout dari negara tetangga seperti dari Malaysia, India, Nepal  dan Taiwan,” kata Ahmad Basori, yang pernah menjadi peserta Perkemahan Wirakarya Nasional 2015 di Lombok ini.

“Bisa talk show bersama Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah Pak Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga di Metro TV adalah kebahagiaan tersendiri. Saat itu kegiatan tur edukasi Raimuna Nasional 2017 ke Metro TV bersama presenter terkenal Bang Andy F Noya,” terang Basori, yang pernah menjadi fasilitator Kursus Pengelola Dewan Kerja Jawa Timur 2017 ini.

Basori dan kontingen Banyuwangi pada Raimuna Nasional 2017

“Seumur hidup baru pertama kali melihat secara langsung aktivitas karyawan Metro TV. Ternyata apa yang terlihat di TV membutuhkan proses yang lumayan rumit mulai dari peliputan, editing sampai dengan penayangan,” jelas Ahmad Basori, alumni peserta Perkemahan Santri Nusantara 2009 Sumedang – Bandung.

Raimuna Nasional XI di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta juga berarti perjuangan keras bagi Basori menyelamatkan tapak perkemahan. “Kami harus mengamankan perlengkapan kemah ketika hujan lebat. Tidak hanya untuk putra saja, namun juga tapak kemah putri yang mengalami kebanjiran dan membuat panik,” tutur Basori yang alumni peserta Latihan Pengembangan Kepemimpinan Jatim 2014 ini.

Untungnya, kontingen Banyuwangi sudah menyiapkan sebuah perencanaan yang matang pra-Raimuna Nasional 2017 ketika training center (TC) yang di Kwarcab Banyuwangi. “Berbekal kemampuan seni berkemah di alam terbuka kami dapat mencegah insiden dengan langkah-langkah yang harus dilakukan ketika hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Diantaranya cara antisipasi banjir, angin kencang dan longsor,” ujar Basori.

Baginya, sebuah perencanaan dan latihan yang maksimal sebelum bergiat merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan. “Lebih baik bermandikan keringat di medan latihan, daripada bermandikan darah di medan perang,” tutur Basori.

Terlebih kontingen daerah Jawa Timur mengusung tema “Eco Camp” dalam perhelatan akbar ini. “Diantaranya dengan pembuatan lubang resapan biopori yang salah satu fungsinya menyerap air hujan. Lubang biopori ini sangat membantu bagi siapa saja yang hendak berkemah dalam kondisi atau cuaca penghujan sekaligus mengolah sampah organik yang dihasilkan,” pungkas Basori.

Sementara itu, udeng atau ikat kepala khas Banyuwangi yang menjadi kostum kontingen Banyuwangi pada Raimuna Nasional XI juga banyak diminta oleh kontingen lainnya, termasuk sangga kerja. “Rasa bingung dirasakan karena udeng yang dibawa dari Banyuwangi hanya 1 dan yang minta banyak,” jelas Basori.

“Saya berpesan kepada teman-teman yang akan bergiat di tingkat cabang, daerah, terlebih nasional dan internasional salah satu yang perlu dipersiapkan, yakni aksesori atau kenang-kenangan khas daerah masing-masing yang bisa ditukar dengan kontingen lain,” pesan Basori yang hobi fotografi ini. (ron)

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *