Dheta Putri Nr ‘A Wiratama, Duta Museum Penerangan 2016-2021

Raimuna Nasional XI Tahun 2017 yang diselenggarakan di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta telah berlalu. Kegiatan akbar Pramuka Penegak dan Pandega itu tidak hanya heboh dengan jumlah peserta yang mencapai 15.000 orang. Peserta kegiatan nasional yang diselenggarakan 13-21 Agustus ini juga diikuti oleh para pemuda hebat.

Diantara pemuda hebat peserta Raimuna Nasional 2017 itu ialah Dheta Putri Nr ‘A Wiratama dari Gugusdepan 24.780 pangkalan SMK Negeri 6 Surabaya Jurusan Pariwisata. Dheta adalah Duta Museum Penerangan 2016. Dia bertugas mempromosikan museum yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta hingga 2021.

Keterlibatan Dheta sebagai Duta Museum Penerangan berawal dari informasi dari ketua jurusan sekolahnya. “Awalnya ada museum dari Jakarta yang datang ke sekolah buat cari duta di museumnya. Ya akhirnya saya berminat. Waktu orang museumnya datang, semua kelas 12 di setiap jurusan hadir buat ikut sosialisasinya,” kata Dheta yang lahir di Surabaya, 17 Juli 1999.

Saat itu petugas museumnya buat semacam kuis. “Orang museumnya itu cari kandidatnya di sekolah saya dengan cara siapa saja yang bisa maju ke depan lalu bisa menjelaskan ulang mengenai museum khususnya museum penerangan dengan jelas dan lengkap serta pengetahuan yang banyak itu nanti yang jadi pertimbangan,” terang Pramuka yang tinggal Jl. Petemon IV Nomor 95 B Surabaya ini.

Dheta saat di Raimuna Nasional 2017 di Bumi Perkemahan Cibubur, Jakarta

Ada sekitar 30 orang peserta yang maju, dan yang terpilih cuma 2 orang. “Awalnya saya gak tahu kalau bakal ke Jakarta dan diseleksi lagi. Ternyata saya bersama teman yang lolos diberangkatkan ke Jakarta buat diseleksi dan ketemu sama perwakilan dari seluruh Indonesia juga,” terang Dheta yang juga purna peserta Jambore Daerah Jatim Serut, Blitar 2014 serta purna Raimuna Cabang Surabaya 2014.

Menurut Dheta, minat remaja saat ini terhadap museum sangat minim. “Gak bisa dipungkiri lagi kalau remaja era milenial seperti sekarang ini mengganggap museum sebagai hal yang kuno dan ketinggalan zaman,” ungkap Dheta yang hobi mempelajari kebudayaan dan sejarah dalam maupun luar negeri.

Sebagian besar pengunjung di museum saja cuma keluarga dan anak kecil yang itupun kegiatan edutour dari sekolah masing-masing. “Biasanya kebanyakan remaja berkunjung ke museum kalau ada tugas riset atau hanya untuk hunting foto saja. Padahal museum di Surabaya, misalnya, sudah digratiskan harga tiket masuknya,” jelas cewek yang bercita-cita sebagai Duta Besar dan penerjemah bahasa asing ini.

Menurut Dheta, minimnya minat masyarakat Indonesia ke museum berbeda dengan wisatawan dari luar negeri yang malah suka datang ke museum yang ada di Indonesia. “Mungkin minimnya minat terhadap museum itu yang bikin Indonesia kurang maju bila dibandingkan dengan negara lainnya,” terang Dheta Putri Nr ‘A Wiratama.

Dheta (berdiri tengah belakang) bersama kontingen Raimuna Nasional 2017 dari Kwarcab Surabaya

Cara meningkatkan minat remaja terhadap museum seharusnya dari sekitarnya sendiri.  “Kalau sekitarnya tidak mendukung adanya museum dan dari masing-masing pun juga tidak menyadari dan gak mau tau adanya museum ya agak susah,” tutur Dheta.

Pengelola museum juga perlu mempromosikan museumnya lewat website atau media sosial. “Kebanyakan remaja jaman sekarang gak mungkin gak memiliki media sosial. Atau mungkin juga museum bisa berkerja sama dengan angkutan umum seperti bus atau taxi untuk pasang gambar-gambar dari museum tersebut jadi masyarakat pun bisa kenal museum,” saran Dheta.

Bisa juga pihak museum mengadakan event-event yang dibuka untuk umum seperti museum di Jakarta yang biasanya mengadakan acara seperti  “Night at the museum”. “Pengelola museum juga perlu menggelar acara-acara menarik yang menggugah minat masyarakat ke museum itu sendiri dan kalau bisa sih museumnya ngadain pameran atau sosialisasi ke sekolah-sekolah,” saran Dheta.

Menghidupkan museum, tambah Dheta, juga bisa dengan menyediakan spot khusus foto di dalam museum. “Bangunan/koleksinya yang bagus untuk spot foto itu juga bisa buat minat remaja bangkit ke museum, seperti Museum HOS Sampoerna. Memang tidak menarik museumnya, tapi spot untuk fotonya yang menarik minat remaja buat datang ke sana jadi museum itu juga ga kelihatan mati,” tambah Dheta. (ron)

Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares