Ada tiga jenis berkemah, yaitu kemah wisata, kemah kegiatan, dan kemah pendidikan. Kemah wisata biasanya yang dipentingkan wisata ke alam luar yang jarang masak sendiri.  Kemah kegiatan yang dipentingkan hanya kegiatannya di luar tenda dan jarang masak sendiri karena dianggap masak mengganggu kegiatan.

Kemah pendidikan itu kegiatannya menggunakan kegiatan di tenda sebagai proses pendidikan dan masak menjadi sarana pendidikan. Gerakan Pramuka selalu menumpukan pada kemah pendidikan secara integratif. Ketiganya mempunyai tujuan masing-masing.

Anehnya,  kemah pendidikan mulai disamakan dengan kemah yang lain. Memasak sendiri dianggap merepotkan. Bila perlu, mandi pun dimandikan. Anak dianggap emas yang tidak boleh disentuh karena takut terluka atau tersiksa. Anak akan mengikuti saja dominasi pembina.  Pembina menjadi pelayan setia anak.  Karena terlalu dianggap emas, tenda pun didirikan pembina atau petugas.

Bukankah, ketika masih peserta didik, seorang pembina banyak praktik langsung dengan mengambil air, piket masak, ronda malam, shalat berjamaah, menjemur kaos kaki, mencuci baju, dan seterusnya. Tetapi sekarang, pembina tersebut malah meniadakan semua itu dengan alasan tidak merepotkan anak. Padahal, di balik kata merepotkan justru terjadi penghalangan pertumbuhan anak.

Pola sentuh seperti itu tentu kelak merugikan anak. Anak akan ringkih karena tidak berotot.  Anak tidak paham problematis teknis di sekitarnya. Kelak pula, anak akan hanya bisa omong tetapi tidak bisa menjalani.

Oleh karena di Gerakan Pramuka itu ada kewajiban menjalankan metode kepramukaan,  salah satunya adalah belajar sambil melakukan, maka anak haruslah mengalami proses memasak, mendirikan tenda, mengelola air, menata lingkungan tenda, dan seterusnya. Dari situlah, anak akan tumbuh dan berkembang SESOSIF-nya. Anak Indonesia perlu keseimbangan antara berucap dan berbuat. Keseimbangan tersebut perlu terus-menerus dilatihkan. Kembalilah ke jatidiri kepramukaan.

Untuk itu, para Pembina Pramuka haruslah bersatu padu menjalankan kepramukaan secara penuh dan total. Back to Basic harus menjadivtekad nyata yang tidak hanya di lisan saja. Ajak anak ke alam terbuka. Lakukanlah belajar sambil melakukan dengan tepat. Kemas kegiatan pendidikan dengan menarik dan menantang. Lalu, pembina harus benar menjadi mitra bagi adiknya. Sekali lagi, kembalilah ke jatidiri kepramukaan. (Kak Prof Suyatno)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *