Laitsa Ruhul Amin, Baterai Belimbing Wuluh Berujung Korea

Pramuka Penegak putra ini berasal dari Kabupaten Pacitan. Dia peserta Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka 2017 yang diselenggarakan di Desa Ngantru, Kabupaten Trenggalek pada 12-15 April 2017. Dia kini bersiap untuk mengunjungi Negeri ‘Ginseng’ Korea Selatan.

Laitsa Ruhul Amin, namanya.  Dia anggota Pramuka aktif di Gugus Depan 01.04-107 pangkalan SMA Negeri 1 Pacitan. Karya teknologi tepat guna (TTG) yang dibuatnya sebagai finalis Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka 2017 di Kota Surabaya berjudul ‘Avrerhoa Bilimbi Aeromotorik’ membuatnya menjadi salah satu juara dan mendapat hadiah ke Korea Selatan.

“Avrerhoa Bilimbi Aeromotorik, TTG yang saya buat, adalah sebuah alat yang memanfaatkan energi angin sebagai penggerak dinamo, sehingga menghasilkan listrik yang kemudian disimpan dalam cairan belimbing wuluh,” kata Laitsa Ruhul Amin, yang lahir di Pacitan, 18 Agustus 1999.

Nama karya tersebut juga diambil dari nama ilmiah belimbing wuluh.  “Zat asam yang dimiliki buah belimbing wuluh dapat menyimpan dan menghasilkan listrik. Alat ini bisa dipakai dalam keadaan darurat.  Ramah lingkungan, murah, dan simpel. Belimbing wuluh dapat ditemui dimana saja. Bahkan yang sudah busuk pun masih bisa dipakai,” terang Laitsa Ruhul Amin.

Laitsa menjelaskan bahwa teori karya sudah ada sebelumnya.  “Di daerah saya banyak ditemukan belimbing wuluh yang busuk dan mengotori lingkungan.  Maka, saya gunakan sebagai cairan penyimpan listrik. Energi listrik akan disimpan di dalamnya,” terang Pramuka yang bercita-cita sebagai perwira tinggi TNI ini.

Daerah tempat tinggalnya di Kabupaten Pacitan juga merupakan daerah pesisir selatan.  “Daerah pesisir selatan diketahui banyak potensi angin besar.  Hal ini membuat saya berpikir untuk memanfaatkan angin sebagai pembangkit energi listrik dan disimpan dalam cairan belimbing wuluh,” ucap Laitsa.

Dia mengaku banyak mendapatkan kendala saat membuat karya TTG ini. “Terutama penemuan ide.  Karena kita dituntut untuk mengembangkan potensi kearifan lokal dan lingkungan.  Sangat susah untuk menentukan alat apa yang sesuai dengan tema tersebut,” lanjut Pramuka yang hobi olahraga dan game ini.

Bahan-bahan yang digunakan juga menyesuaikan dengan alatnya.  Pencarian bahan yg sesuai sangat susah.  “Proses perhitungan rumus juga membuat saya berpikir keras,” tutur Laitsa Ruhul Amin.

Karya TTG ini memang masih digunakan pada skala kecil.  Sebab perlu pengembangan lebih lanjut agar energi yang dihasilkan maksimal.  “Tetapi alat ini dapat dipakai dalam keadaan darurat.  Seperti ketika berkemah dan penjelajahan. Listrik miniaturnya bisa sampai 12 volt. Ukuran besar sekitar 24-220 volt,” kata Laitsa.

Sementara itu, Festival Wirakarya Kampung Kelir 2017 juga meninggalkan banyak kesan bagi Laitsa. “Pernah lukis tulisan Pacitan di tembok warga, kami terus disuruh menghapusnya.  Terus dicat lagi. Kami lantas dapat soto gratis dari si pemilik rumah,” jelas Laitsa. Pada kegiatan bakti pengecatan itu, dia juga dapat tempat menginap di rumah bekas yang baunya ayam. (ron)

Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares