Brigade Penolong Kwarda Jatim Simulasi Penanganan Korban Gempa di Poltekkes Surabaya

Brigade Penolong 13 Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jatim menggelar simulasi penanganan bencana gempa bumi dalam rangka Hari Kesiapsiagaan Bencana 2019 di Gudep Pangkalan Poltekkes Kemenkes Surabaya, Selasa (22/4/2019).

Simulasi ini diselenggarakan bersama Pramuka Gudep Pangkalan Politeknik Kesehatan Kementerian Kesehatan (Poltekkes Kemenkes) Surabaya. Simulasi ini juga melibatkan Pramuka Gudep Pangkalan ITS, UNAIR, UINSA, UNUSA, UNESA, UNIPA, dan UPN Veteran Jatim.

Pada simulasi ini, dilakukan evakuasi penanganan gempa bumi dari gedung bertingkat. Ada tiga jenis korban yang dievakuasi setelah dilakukan penanganan awal, dimana korban masih berada di lokasi saat terjadi gempa. 

“Ada evakuasi korban lampu hijau untuk korban yang masih bisa berjalan bahkan berlari. Korban ini cukup didampingi bergerak menuju lokasi berkumpul. Evakuasi korban ini dilakukan pertama,” kata Kak Endang Sulistyowati, ketua panitia simulasi dari Brigade Penolong 13 Kwarda Jatim.

Brigade Penolong 13 Kwarda Jatim sedang melakukan vertical rescue terhadap korban gempa yang kondisinya parah

Kepada para korban kategori lampu kuning yang tidak memungkinkan berjalan sendiri menjadi prioritas penanganan kedua. “Mereka dievakuasi dari gedung bertingkat dengan turun melalui secara tandom atau berdua dengan anggota penolong,” kata Kak Oelis, panggilan akrab Andalan Daerah Kwarda Jatim ini.

Simulasi dengan tandu yang harus diturunkan melalui tali menjadi upaya penyelamatan ketiga yang dilakukan pada simulasi ini. Cara evakuasi ini khusus bagi korban kategori lampu merah atau yang kondisinya parah dan harus segera dirujuk ke rumah sakit terdekat. 

“Simulasi evakuasi korban dengan tandu melalui teknik pertolongan vertikal melalui tali menjadi cara evakuasi yang paling membutuhkan waktu,” tambah Kak Oelis. Begitu korban sampai di tempat aman, selanjutnya ambulance 118 yang sudah dihubungi memindahkannya ke rumah sakit terdekat.

Kak Dian Harmuningsih, ketua Brigade Penolong 13 Kwarda Jatim, kepada seluruh Pramuka pangkalan perguruan tinggi yang ikut serta simulasi ini berharap simulasi bisa dilakukan di pangkalannya.

“Yang paling penting dari simulasi adalah adanya sirene tanda bahaya. Selanjutnya adalah upaya evakuasi sederhana ke daerah terbuka. Tidak harus menggunakan tandu atau dengan verical rescue seperti yang kita peragakan tadi,” kata Kak Dian Harmuningsih. 

Penulis: Mochamad Zamroni

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *