Parbo Hadi, Pramuka Ponorogo Tanggap Bencana

Pramuka kelahiran Ponorogo pada 18 Februari 1977 ini tinggal di Jalan Jayakatwang 51, Surodikraman, Kabupaten Ponorogo. Dia aktif kepramukaan sejak muda, sehingga saat ini ia terdidik menjadi layaknya pramuka sejati yang intensif membantu sesama. Dialah Kak Parbo Hadi, anggota tim Brigade Penolong Jatim.

Pada akhir Desember 2018, tepatnya setelah bencana tsunami Banten, Kak Parbo Hadi berangkat  ke lokasi bencana. Di sana dia bergabung dengan tim penolong Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan lembaga terkait membantu pencarian korban bencana tsunami. 

Kak Parbo aktif merintis berdirinya satuan Brigade Penolong di Kwartir Cabang Gerakan Pramuka (Kwarcab) Kabupaten Ponorogo. Sebelumnya, dia bersama Pramuka Peduli Kwartir Daerah Gerakan Pramuka (Kwarda) Jatim menjadi relawan Gempa Tsunami Aceh tahun 2004.

Kak Parbo, berdiri paling kiri, saat di lokasi bencana Tsunami Banten

Pada tahun 2007, dia memprakarsai pelantikan Brigade Penolong (BP) Kwarcab Ponorogo. Selang beberapa hari setelah pelantikan, BP Kwarcab Ponorogo langsung terlibat dalam penanganan bencana banjir longsor dan gempa di Jawa Timur dan Jogja.

Saat bencana terjadi di Palu, Sulawesi Tengah, Kak Parbo bersama Kak Kholil, anggota Brigade Penolong Kwarcab Ponorogo, mendapat tugas sebagai tim pendahulu. Selama 12 hari, tepatnya 1-12 Oktober 2018, dia bertugas di lokasi gempa di Sulawesi Tengah. Tugasnya adalah memberikan assesment kondisi lapangan sekaligus aktivitas tanggap darurat lainnya.

Lulusan Kursus Pelatih Pembina Pramuka Lanjutan (KPL) tahun 2015 ini menuturkan bahwa banyak pengalaman menarik ketika berjuang di Palu, Sulawesi Tengah. Diantaranya perjalanan menuju Palu yang penuh perjuangan. 

Di tengah paniknya kondisi masyarakat yang memaksa keluar dari Palu, serta maraknya penjarahan, Kak Parbo dan tim harus melalui Makassar untuk sampai di Palu. Ketidakpastian hercules yang menuju ke Palu memaksa tim harus melalui jalur darat untuk menuju ke Palu. Tim mendapat tumpangan konvoi kemanusiaan dari klub pecinta mobil yang mengantarkan relawan sampai ke Palu dari Makassar. 

Kak Parbo saat di lokasi bencana Palu

Selama di Palu, kegiatan yang dilakukan Kak Parbo dan tim adalah menghimpun kebutuhan pengungsi, keberadaan pos-pos penting, akses komunikasi, serta beberapa informasi yang dibutuhkan relawan yang selanjutnya.

Alumni Universitas Merdeka Ponorogo ini menjelaskan bahwa saat di Palu, dia juga membantu evakuasi dan pengelolaan pengungsian. “Di Palu kami juga bergabung dengan semua anggota Pramuka Peduli dari seluruh Indonesia di bawah koordinasi tim Kwartir Nasional (Gerakan Pramuka),” jelas Kak Parbo yang juga Pembina Pramuka pangkalan SMKN 1 Ponorogo.

Bagi penghobi selam dan paralayang ini, pengalaman yang unik selama terlibat dalam penanganan bencana adalah tidak mandi selama 4 hari. Terlebih juga dilakukan pembatasan makan. 

“Dalam sehari, di Palu, tim kami hanya makan dua kali. Selain menghemat makanan, juga bertujuan mengurangi buang air besar para relawan. Di daerah bencana tidak tersedia MCK yang memadai,” tutur Kak Parbo.

Tidak hanya manusia, satwa juga terdampak bencana alam yang terjadi

Baginya, Pramuka memang harus bertahan dalam segala kondisi. Kemampuan bertahan dan adaptasi itu yang membuat Pramuka dipercaya terjun dalam kebencanaan dan kondisi darurat apapun. “Hidup sekali harus berarti bagi orang yang lainnya. Mengabdikan diri membantu korban bencana, terlebih di lokasi bencana, termasuk diantaranya,” ucap Kakak yang juga bertugas di Dinas Sosial Pemerintah Kabupaten Ponorogo ini.

Ikatan Batin dengan Masyarakat Lokasi Longsor Ponorogo

Dua pekan pasca terjadinya longsor awal tahun 2017 di Desa Banaran, Ponorogo, Kak Parbo Hadi tidak pulang sama sekali. “Ini sebagai bentuk hubungan batin dengan masyarakat terkena musibah. Bahkan untuk kebutuhan logistik seperti pakaian, diantar oleh keluarga saya ke lokasi bencana,” kata suami Yuliun Nadroti ini.

Beberapa hari sebelumnya, sudah ada kabar kalau tanah itu retak. “Kabar itu dari masyarakat dan Babinsa (Bintara Pembina Desa). Setiap hari terus terjadi penurunan. Itu terus dipantau. Sempat turun sampai 7 meter. Banyak warga yang bertanya karena khawatir mengenai tempat tinggalnya,” ujar Kak Parbo, ayah dari 3 orang anak ini 

Kak Parbo mendampingi Desa Banaran, tempat terjadinya longsor Ponorogo 2017, dalam kapasitas bukan sebagai aparat pemerintahan. Bukan juga sebagai pengurus desa. Himbauan mengungsi sempat dilaksanakan oleh warga selama sepekan. “Karena masyarakat merasa tidak ada longsor susulan setelah sepekan mengungsi, masyarakat akhirnya kembali ke tempat tinggalnya,” terang Kak Parbo.

Bencana longsor Ponorogo memberikan banyak hikmah bagi Kak Parbo. “Lokasi longsor Ponorogo umumnya daerah miring. Sebelumnya adalah hutan rimba dengan pohon keras yang akarnya menancap ke dalam tanah. Kemudian beralih ditanami tanaman pertanian yang akarnya kurang menancap ke tanah,” jelas Kak Parbo.

Baginya, relawan bencana tidak melulu soal penyelamatan korban bencana. Pendampingan pasca musibah juga merupakan peran penting yang dibutuhkan korban. Yang sering dipakai adalah pendekatan masyarakat dan bakti masyarakat. 

Upaya memulihkan korban dari trauma pasca bencana, menurut Kak Parbo, justru membutuhkan waktu yang lama. “Kemampuan trauma healing ini yang bisa diperankan oleh Pramuka. Prosesnya juga tidak bisa hanya sehari. Bisa berminggu-minggu juga dengan pendampingan,” jelas ayah dari Ghiyats Akbar Pratama, Assakina Mawra Alfaza Hadi dan Izdihar Khaliq Al Faza Hadi ini.

Bagi Kak Parbo, bakti masyarakat yang dilakukan oleh Brigade Penolong 13 Kwarda Jatim pada pembangunan hunian sementara pasca bencana di Palu dan NTB, termasuk yang harus dilaksanakan dengan serius. 

Penulis: Mochamad Zamroni

Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares