Adinda Hafita Dewi, Peraih Medali Emas Festival Wirakarya 2019

Semakin berkurangnya lahan pertanian menjadi gedung atau bangunan mendapat perhatian dari Adinda Hafita Dewi, anggota pramuka Gugusdepan 69.46 pangkalan SMK Negeri 3 Pamekasan. Teknologi hidroponik dia pilih untuk dikembangkan setelah dinyatakan lolos sebagai finalis Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka 2019.

Karya hidroponik ini yang membuat dia menjadi peraih medali emas Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka 2019 yang diselenggarakan oleh Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur. Dia pun berkesampatan mengunjungi negara Singapura dan Malaysia sebagai hadiahnya.

“Saya membuat hidroponik skala rumah tangga. Cara ini bisa menjadi solusi bercocok tanam di lahan sempit contohnya di rumah,” kata Adinda Hafita Dewi, pernah ikut Perkemahan Bakti (Perti) Saka Kencana XII 2019 Kwartir Cabang Kabupaten Pamekasan ini.

Adinda Hafita Dewi dengan hidroponik DFT karyanya

Bercocok tanam dengan cara hidroponik memang identik dengan cara bercocok tanam tanpa media tanah. “Bercocok tanam hidroponik bisa dilakukan dimana saja. Bisa di atap rumah. Bisa juga di lahan yang semuanya sudah tertutup paving block atau semen,” ujar Adinda Hafita Dewi, siswa kelas XI Perhotelan 1 SMK Negeri 3 Pamekasan ini.

Teknologi hidroponik yang dibuat oleh Adinda juga sebagai bentuk keprihatinan dengan kondisi sekitarnya. “Saya miris terhadap petani yang mata pencahariannya sudah tidak ada lagi. Bercocok tanam dengan cara hidroponik dalam lingkup rumah tangga ini bisa dilakukan bagi yang memiliki rumah namun tidak memiliki lahan,” terang Adinda.

Menurutnya, bercocok tanam hidroponik ini sehat karena tanpa pestisida. “Bercocok tanam dengan teknologi hidroponik di rumah bisa membantu perekonomian ibu-ibu rumah tangga dengan cara menjualnya. Tanamannya sehat karena tanpa pestisida,” kata pramuka yang tinggal di Jl Gersik Putih Timur, Kalianget, Sumenep ini.

Adinda bersama para peraih medali emas Festival Wirakarya 2019 saat di Universal Studio Singapura

Adinda menjelaskan bahwa dia merangkai sendiri instalasi hidroponik yang digunakan. “Di sekolah, saya membuat instalasi hidroponik dibantu oleh guru pembimbing. Cuma beli paralon, pompa air, bak dan nutrisi AB mix saja. Setelah itu buat bersama dibantu teman-teman juga,” ujar Adinda Hafita Dewi.

Mengenai olahan pasca panen, Adinda biasanya menjualnya ke guru-guru di sekolah. “Saya juga biasanya menjual ke teman-teman siswa tata boga sekolah untuk digunakan sebagai olahan makanan garnish,” terang pramuka yang hobi mendengarkan musik dan beladiri taekwondo ini.

Penempatan instalasi atau modul hidroponik sangat menentukan keberhasilan bercocok tanam. “Sebelum menempatkan modul atau instalasi hidroponik, perlu dipastikan bahwa di tempat tersebut mendapatkan sinar matahari langsung minimal 5 jam,” tambah Adinda Hafita Dewi.

Penulis: Mochamad Zamroni

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *