Afrina Nurlaili Hanifah, Peraih Medali Emas Festival Wirakarya 2019

Pelaksanaan Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka Jawa Timur 2019 di Kota Blitar berlangsung penuh kesan. Kesan ini berbeda dengan pelaksanaan di 10 zona lainnya. Kesan yang dimaksud adalah hujan deras yang mengguyur selama 3 hari pelaksanaan berturut-turut.

Akibat hujan lebat itu, sebagian besar peserta bergiat di gedung mewah, yaitu Gedung Kesenian Kota Blitar. Demikian juga dengan malam penutupannya dilaksanakan penuh kemewahan.

Bagi Afrina Nurlaili Hanifah, salah satu peserta dari Kota Blitar pada program bakti pengecatan pemukiman warga ini, juga merupakan berkah tersendiri. Dia termasuk 1 dari 16 orang peraih medali emas festival ini. Dia pun berkesempatan berkunjung ke Malaysia – Singapura.

Afrina Nurlaili Hanifah dengan teknologi tepat guna sensor bencana longsor dan banjir

“Setelah terpilih menjadi peserta terbaik Festival Kecerdasan Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka Jawa Timur 2019 Zona Kota Blitar, saya membuat karya teknologi tepat guna terkait mitigasi bencana,” kata Afrina Nurlaili Hanifah, peserta dari gugusdepan pramuka yang berpangkalan di SMAN 1 Kota Blitar.

“Teknologi tepat guna yang saya buat adalah sensor bencana yang menggunakan chip sebagai kontrol utama dalam sistem kerja sensor,” kata pramuka kelahiran Blitar, 11 Maret 2002 ini.

Afrina menjelaskan bahwa dalam satu chip karyanya itu mengaktifkan dua sensor bencana sekaligus. “Sensor bencana yang diaktifkan dalam karya saya adalah sensor banjir dan sensor tanah longsor,” tambah Afrina, yang juga pradana putri di gugusdepannya pada masa bakti 2018-2019 ini.

Afrina Nurlaili Hanifah saat mengunjungi Melaka, Malaysia, September 2019

“Sistem kerja sensor banjir yang saya buat cukup mudah. Dengan adanya pelampung yang terhubung dengan tali akan mengaktifkan sensor saat air mencapai ketinggian tertentu,” terang Afrina Nurlaili Hanifah, yang pernah mengikuti Kemah Penguatan Karakter melalui Pendidikan Kepramukaan 2018 di Jakarta ini.

Sensor tanah longsor yang dibuat Afrina juga cukup simpel. “Pada sensor tanah longsor, saya menggunakan kawat tembaga yang tergantung di tengah lingkaran kawat, sehingga saat terjadi getaran maka kawat tembaga akan bersinggungan dan mengaktifkan sensor,” Afrina Nurlaili menjelaskan.

Afrina Nurlaili Hanifah saat mengunjungi Singapura, September 2019

Dia menjelaskan bahwa sensor tersebut diaktifkan menggunakan pembangkit listrik tenaga air (PLTA) sehingga sensor tetap dapat bekerja dengan aliran dari air. “Idenya berawal dari tingginya angka korban jiwa maupun harta yang terjadi akibat setiap bencana. Lalu saya konsultasikan dengan yang sudah ahli di bidangnya,” tutur Afrina.

Afrina berharap ada dukungan dan kesempatan yang baik untuk bisa merealisasikan karya teknologi tepat guna yang telah dibuatnya “Saya yakin jika dapat direalisasikan maka teknologi ini pasti dapat bermanfaat untuk masyarakat khususnya dalam mitigasi bencana,” kata Afrina Nurlaili Hanifah, yang tinggal di Jalan Kalasan 60 Bendogerit, Kota Blitar.

Afrina Nurlaili Hanifah saat mengunjungi Menara Kembar Petronas, Kuala Lumpur, Malaysia, September 2019

Penulis: Mochamad Zamroni.

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *