Aulia Agista Nurwahyu Eka Putri, Peraih Medali Emas Festival Wirakarya 2019

Hasil memang tidak akan mencederai proses dan usaha yang dilakukan. Dan keberuntungan bisa datang kepada siapa saja dan bisa kapan saja. Tidak terkecuali kepada remaja putri dari Kabupaten Magetan yang aktif pramuka ini. Aulia Agista Nurwahyu Eka Putri, namanya.

Agis, sapaan Aulia Agista Nurwayu Eka Putri, ialah peserta Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka (FWKKP) 2019 Jawa Timur. Dia tidak pernah menyangka sebelumnya bahwa keikutsertaannya pada FWKKP 2019, kegiatan bakti pengecatan pemukiman warga serta perbaikan rumah tidak layak huni di Kabupaten Pacitan, mengantarkannya ke Singapura – Malaysia.

“Setelah menjuarai Festival Kecerdasan pada Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka  2019, saya berdiskusi dengan pembina gudep, keluarga dan teman-teman ambalan. Tujuannya membuat teknologi tepat guna,” kata Agis, pramuka yang lahir di Magetan, 30 Agustus 2002 ini. Dia juga banyak observasi permasalahan di sekitarnya.

Agis bersama para para peraih medali emas Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka 2019 di Bandara Changi Singapura

Menurutnya, banyak sampah daun dan penggunaan bahan bakar adalah permasalahan yang bisa dia olah menjadi potensi. “Saya memutuskan membuat briket biomassa sebagai bahan bakar ramah lingkungan untuk memanfaatkan banyaknya sampah daun jambu mente di sekitar,” kata Aulia Agista Nurwahyu Eka Putri, yang juga pramuka penegak garuda ini.

Limbah daun jambu mente yang banyak di sekitar itu, menurut Agis, seharusnya bisa dimanfaatkan lebih kreatif. “Umumnya sampah daun hanya diolah menjadi kompos saja. Saya mikirnya bisa dimanfaatkan lebih kreatif dengan nilai jual lebih tinggi jadi briket,” tutur Agis.

Sampah daun yang dimaksud Agis adalah daun yang masing mengandung getah. “Daun yang bisa digunakan bukanlah daun yang sudah mengering. Daun tumbuhan lain juga sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan,” terang gadis penghobi petualangan, seni dan olahraga ini.

Keluhan yang banyak dirasakan saat berkemah terkait kompos dan gas yang terkadang mengalami kebocoran juga menjadi alasan dia membuat briket biomassa. “Briket biomassa yang bahannya bisa mudah didapatkan dari alam sangat berpotensi dikembangkan,” ujar Aulia Agista Nurwahyu Eka Putri.

Agis, paling kiri. Teknologi briket biomassa membuatnya bisa mengunjungi Singapura – Malaysia pada September 2019

Bahan yang dibutuhkan Agis untuk membuat briket biomassa sangat mudah didapat. “Briket biomassa yang saya produksi menggunakan bahan-bahan berupa daun jambu mente, sekam padi, dan air,” terang Agis, yang aktif sebagai anggota gugusdepan pramuka yang berpangkalan di SMA Negeri 2 Magetan ini.

Agis menjelaskan bahwa cara membuat briket biomassa sangat mudah. “Setelah menyiapkan alat dan bahan, bakar sekam padi menggunakan kaleng bekas hingga berwarna hitam. Selanjutnya pisahkan sekam yang berwarna hitam dan haluskan sekam kemudian saring hingga halus,” terang Agis.

Lalu, haluskan daun jambu mente menggunakan blender dan tambahkan sedikit air. “Campurkan sekam dan daun jambu mente yang sudah dihaluskan dalam wadah dengan ditambahkan sedikit air,” terang Aulia Agista Nurwahyu Eka Putri.

Setelah tercampur, cetak adonan menggunakan alat cetak sederhana dengan bentuk sesuai selera. “Jangan lupa dipadatkan saat dicetak. Setelah itu keringkan adonan briket yang sudah dicetak,” kata Aulia Agista Nurwahyu Eka Putri, peserta Festiwal Wirakarya Kampung Kelir Pramuka 2019 zona Pacitan, Magetan dan Ponorogo ini.

Penulis: Mochamad Zamroni

Share
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  
  •  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *