Binar A’ian Chariza, Peraih Medali Emas Festival Wirakarya 2019

Binar A’ian Chariza ialah salah satu penerima medali emas Festival Wirakarya Kampung Kelir Pramuka (FWKKP) 2019 Jawa Timur. Dia anggota pramuka penegak Gugusdepan 01.113 pangkalan SMAN 3 Nganjuk. Binar pun mendapat kesempatan mengunjungi Singapura – Malaysia pada September 2019 lalu.

Dia peserta zona 7 Nganjuk. Pelaksanaan kegiatan bakti pengecatannya di Kelurahan Keramat, Kabupaten Nganjuk. Pesertanya adalah 1000 orang pramuka penegak dari Kwarcab Nganjuk, Kota Madiun, Jombang dan Kabupaten Madiun.

Perlu usaha ekstra keras bagi Binar A’ian Chariza untuk bisa meraih medali emas FWKKP 2019. Usaha itu khususnya dalam penyiapan teknologi tepat guna (TTG). Penyiram bawang  merah (PB) dan perangkap serangga (PS) adalah teknologi yang dia siapkan.

Binar menyiapkan panel surya

“Saya menciptakan penyiram bawang dan perangkap serangga untuk memudahkan pengerjaan petani usia lanjut agar tetap produktif dan bebas pestisida,” kata Binar A’ian Chariza yang tinggal di Desa Paron, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk ini.

Sesuai nama karya yang dibuatnya, fungsinya untuk menyiram bawang merah dan menghindari penggunaan pestisida serangga. “Melalui teknologi ini, akan dihasilkan bawang merah yang baik dan bebas pestisida menuju pertanian sehat,” terang Binar A’ian Chariza.

Bahan yang digunakan Binar untuk pembuatan teknologi tepat guna ini termasuk sangat mudah didapati di sekitar. Bahannya adalah pipa PVC dan pipa besi, pompa air DC, panel surya dan lampu ultraviolet.

Binar menyusun pipa PVC dan pipa besi dan pompa air DC

Binar mengaku bahwa pembuatan teknologinya ini diilhami oleh keberadaan para petani yang rata-rata berusia di atas 50 tahun. “Banyak petani bawang yang sudah berkurang produktifitasnya karena usia,” jelas Binar, pramuka dengan nomor tanda anggota 030820030216 ini.

Binar memandang bahwa banyak petani bawang merah yang ingin menyingkirkan hama dengan hasil panen yang bagus. “Umumnya petani menggunakan cara instan dengan menggunakan pestisida seperti inseksida, herbisida, fungisida, akarisida, dan prodenisida,” tutur Binar.

Menurutnya, penggunaan pestisida itu memang tergolong cepat membasmi serangga dan gulma dengan biaya tinggi. “Padahal kenyataannya, jika digunakan berlebihan akan sangat berbahaya bagi lingkungan, ekosistem, dan konsumen,” lanjut Binar A’ian Chariza.

Binar merangkai lampu ultraviolet

Binar tidak mau setengah-setengah dalam membuat karya teknologi ini. “Saya buat tiga teknologi tepat guna sekaligus. Sumber energi dari panel surya untuk penyiram bawang merah dan perangkap serangga, alat penyiram bawang merah, dan lampu perangkap serangga,” kata Binar.

Banyak tantangan yang dia hadapi. “Dukungan dari sekolah kurang. Saat itu saya memerlukan dispensasi untuk mengerjakan TTG, tetapi sekolah tidak memberikan. Sekolah juga mengambil lagi dana yang telah diberikan untuk pembuatan TTG karena uang gedung dan SPP saya belum lunas,” ujarnya.

Binar bersama para peraih medali emas Festival Wirakarya Kampung kelir Pramuka 2019 saat di Universal Studio Singapura

Dia pun pasrah pada Allah SWT. “Dengan pertolongan Allah, saya mendapatkan sponsor dan bantuan dari Joglo Nganjuk. Saya juga dibantu oleh karyawan Joglo Nganjuk untuk ngelas dan memotong besi. Saya hanya mengatur dan mengarahkan cara membuat TTG sesuai ide saya,” terang Binar.

Penulis: Mochamad Zamroni

Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares