Kak Arif Dwi Susanto, Pembina Ecopreneur 2019 Terbaik SD

Perkemahan Sabtu-Minggu (Persami) tanpa sampah non organik kemasan makanan/ minuman sekali pakai direalisasikan oleh Gudep 1463-1464 pangkalan SDN Rungkut Menanggal I Surabaya di akhir tahun 2019 lalu di halaman sekolah mereka.

Caranya, semua peserta Persami diminta membawa tumbler atau wadah minum berulang kali pakai. Mereka juga diminta membawa piring atau tepak makan berulang kali pakai. Peserta juga dilarang membawa jajanan dan minuman dengan kemasan sekali pakai.

Selain itu, makan malam dan sarapan peserta juga disajikan tanpa sampah non organik. Orang tua siswa yang tergabung dalam kelasnya masing-masing membantu dakam penyiapan makanan non instan.

Ialah Kak Arif Dwi Susanto, Pembina Gudep 1463-1464 pangkalan SDN Rungkut Menanggal I, yang mengawal realisasi perkemahan ini bebas dari sampah plastik kemasan makanan dan minuman sekali pakai. Arif mengaku sangat didukung dengan komitmen peduli lingkungan Kamabigus 1463-1464 Kak Ika Suci Rahayu.

Persami tanpa sampah non organik kemasan makanan/minuman sekali pakai yang direalisasikan Kak Arif Dwi Susanto bukanlah satu-satunya aksi peduli lingkungan. Gerakan pengumpulan jelantah juga sering dia lakukan saat latihan rutin pramuka setiap pekannya.

Persami Zero Waste Gudep 1463-1464 pangkalan SDN Rungkut Menanggal I Surabaya

Menurutnya, sudah seharusnya pramuka itu peduli lingkungan hidup dengan aksi-aksi nyata. “Pramuka harus peduli lingkungan dengan aksi nyata sesuai Darma Pramuka kedua, yaitu Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia,” tutur Kak Arif Dwi Susanto, peraih penghargaan Guru Pembina Terbaik Ecopreneur 2019 SD dari Walikota Surabaya. 

SDN Rungkut Menanggal I Surabaya termasuk sekolah yang sangat aktif dalam mengelola lingkungan hidupnya pada 2011 dan 2012. Beragam penghargaan lingkungan hidup pun diraih sekolah yang berlokasi di perbatasan Surabaya – Sidoarjo ini pada dua tahun tersebut.

Namun, pengelolaan lingkungan hidup di sekolah itu tidak berlanjut hingga sekitar 5 tahun setelahnya. Alasannya adalah pergantian pimpinan sekolah yang tidak lagi peduli lingkungan hidup. Sarana pengolahan sampah yang ada di sekolah ini pun seolah menjadi monumen.

Mulai tahun 2018, SDN Rungkut Menanggal I Surabaya kembali aktif melibatkan warganya mengolah sampahnya. Mereka pun aktif dalam setiap program lingkungan hidup yang digelar Tunas Hijau dan Pemerintah Kota Surabaya. Diantaranya Penganugerahan Pangeran & Putri Lingkungan Hidup, Ecopreneur, UKS dan Surabaya Eco School. 

Tidak ada sampah non organik kemasan makanan/minuman sekali pakai pada Persami ini

Beragam pengalaman seru dirasakan Arif Dwi Susanto selama sekolahnya kembali aktif melakukan pengelolaan lingkungan hidup. Tidak terkecuali pada program wirausaha lingkungan hidup Ecopreneur 2019 yang diselenggarakan Tunas Hijau bersama Pemerintah Kota Surabaya serta didukung oleh Hotel Mercure Grand Mirama Surabaya ini. 

Pada wirausaha lingkungan Ecopreneur 2019 tiap sekolah diajak membuat perusahaan siswa. “Student companyecopreneur dipimpin siswa. Modal dari pengumpulan jelantah dan sampah. Pengelolaan lingkungan sampai ada produk dan penjualan,” ujar Kak Arif Dwi Susanto, yang piawai membatik ini.

“Melalui program wirausaha lingkungan hidup Ecopreneur 2019, kami bisa mengajari anak-anak berani memasarkan produk ecopreneur yang pada awalnya malu untuk menjualnya. Biasanya kami lakukan penjualan dengan membuka stand di luar sekolah,” kata Kak Arif Dwi Susanto.

Melalui challenge yang dihadirkan pada Ecopreneur 2019, Arif mengaku jadi bisa mengajari anak-anak berani dan bisa berbicara. “Tugas membuat vlog ecopreneur membuat anak-anak mampu mengembangkan keberanian dan kemampuan bicara di depan umum,” tutur guru yang tinggal di Perumahan Gununganyar Asri C 20 Surabaya ini.

Komitmen zero waste juga terus direalisasikan oleh Kak Arif. “Saya pernah bermain petak umpet dengan pedagang kantin sekolah yang janji bahwa tidak akan lagi menjual makanan berpembungkus plastik.” katanya. Tetapi nyatanya besoknya, mereka tetap saja menjual makanan berpembungkus plastik sekali pakai.

Pengalaman bermain petak umpet itu pun disikapi Arif dan sekolahnya dengan terus mengejar dan memantau kantin. “Sosialisasi rutin kepada kantin sekolah harus dilakukan 1 atau 2 kali sepekan. Alhasil, sejak akhir Oktober 2018, SDN Rungkut Menanggal I Surabaya sudah bebas dari sampah plastik,” kata guru kelahiran Mojokerto, 26 Juni 1978 ini.

Menurutnya, program yang mengajak warga sekolah membawa tumbler dan wadah makan yang dapat dipakai berkali-kali merupakan cara jitu untuk bebas dari sampah plastik di sekolah. “Langkah itu sebaiknya ditindaklanjuti dengan menyediakan air mineral galon gratis untuk yang membawa tumbler di kelas-kelas,” tutur Arif Dwi Susanto.

Anti sampah plastik bahkan diterapkan Arif di SDN Rungkut Menanggal I dengan mengupayakan mengganti polibag tanaman dengan batok kelapa.“Kami juga senantiasa mengajak anak-anak dan warga untuk merealisasikan agar aktifitas yang dilakukan tidak lagi menimbulkan sampah plastik,” kata Arif Dwi Susanto, guru pembina lingkungan hidup SDN Rungkut Menanggal I Surabaya. 

Penulis: Mochamad Zamroni

Berbagi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

shares