Tumpang, 3 Desember 2025 — Selama 21 hari pelaksanaan Lomba Iklim Gugus Depan Jawa Timur 2025, Tim Aksi Scout La Negsatu dari SMP Negeri 1 Tumpang berhasil menuntaskan seluruh rangkaian tantangan dengan penuh semangat, kekompakan, dan dedikasi tinggi terhadap lingkungan sekolah.
Perjalanan dimulai dari rapat koordinasi hari pertama, di mana para anggota membentuk struktur kerja yang solid. Sebanyak 25 peserta dibagi menjadi beberapa unit: Tim Aksi yang bergerak pada teknis kegiatan, Tim Dokumentasi, Tim Jurnalistik, dan Tim Publikasi. Pembagian tugas ini memastikan seluruh program terlaksana secara terorganisasi dan efektif.
Challenge 1: “Hijaukan Gudepku”
Pada tahap pertama, Tim Aksi fokus pada upaya penghijauan. Mereka merawat tanaman sekolah, mengumpulkan daun kering, serta rumput yang tumbuh di sekitar tanaman. Tim Aksi juga menanam tanaman toga. Bukan tanpa alasan mereka memilih toga. Selain bermanfaat sebagai obat, toga juga membantu penghijauan dan menjaga kualitas udara. Penanamannya pun mudah dan hemat biaya.
Penghijauan tidak sebatas menanam bunga, pohon, ataupun sayuran. Tim Aksi juga memilih tanaman penyerap racun dan polusi udara, seperti lidah mertua dan sirih gading, untuk ditempatkan di lokasi yang tepat. Aksi tidak berhenti pada penanaman; Tim Aksi juga melakukan kampanye hijau kepada warga sekolah.
Challenge 2: “Jaga Setetes Air”
Memasuki tantangan kedua, Tim Aksi melakukan inovasi pengelolaan air. Mereka menambah lubang biopori dan merawat biopori yang sudah ada. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan daya serap tanah terhadap air hujan sekaligus memanfaatkan sampah organik sebagai kompos alami. Dalam mendukung ekosistem tanah, biopori menciptakan rumah bagi cacing dan mikroorganisme tanah yang membantu tanaman tumbuh lebih sehat.
Tim Aksi juga memanfaatkan limbah air minum agar tidak terbuang percuma. Inovasi baru pun mereka buat, yaitu saluran tadah hujan atau yang disebut Rainstick Flow. Rainstick Flow berfungsi mengalirkan air ke area tanaman yang tidak terjangkau air hujan. Pemanfaatan limbah air minum dan tadah hujan untuk menyiram tanaman juga mengurangi pemakaian air PDAM.
Tim Aksi masih memiliki proyek tambahan, yaitu mengalirkan air dari wastafel cuci tangan langsung ke lubang biopori sehingga air dapat kembali meresap ke tanah secara alami.
Challenge 3: “Gudep Tanpa Sampah”
Pada tantangan terakhir, Tim Aksi bergerak lebih aktif dalam pengelolaan sampah. Mereka melakukan patroli sampah dan membuat trashy trap. Dari sampah yang terkumpul, Tim Aksi memilah menjadi dua jenis, yaitu sampah organik dan nonorganik. Sampah organik mereka manfaatkan untuk ecoenzim, sebagian ditambahkan ke dalam lubang biopori, dan daun kering yang masih bagus disimpan untuk mempercantik hasta karya. Sampah anorganik juga dimanfaatkan menjadi karya kreatif yang bermanfaat dan bernilai ekonomi.
Tidak hanya mengolah sampah, Aktivis Scout La Negsatu juga mendukung program sekolah bebas sampah plastik. Mereka membawa wadah sendiri saat membeli makanan di kantin sekolah.
Keterkaitan Aksi dari Challenge 1–3
Rangkaian aksi dari Challenge 1 hingga Challenge 3 saling terhubung dan membentuk satu alur keberlanjutan yang kuat. Pada Challenge 1, kegiatan penghijauan menghasilkan banyak daun kering dan rumput yang kemudian dikumpulkan oleh Tim Aksi. Daun-daun tersebut tidak terbuang percuma, karena pada Challenge 2 dan 3 dimanfaatkan kembali sebagai bahan kompos alami bersama ecoenzim untuk menyuburkan tanaman yang telah mereka tanam. Inovasi pengelolaan air di Challenge 2—seperti pemanfaatan limbah air minum, Rainstick Flow, serta saluran air dari wastafel menuju biopori—juga turut mendukung penghijauan dengan menyediakan sumber air hemat untuk menyiram tanaman.
Saat memasuki Challenge 3, proses pemilahan sampah membuat tim terus mendapatkan bahan organik untuk kompos dan ecoenzim, sementara sampah anorganik dimanfaatkan menjadi karya kreatif. Dengan alur ini, setiap challenge menjadi langkah lanjutan dari challenge sebelumnya: penghijauan menyediakan bahan pengelolaan air dan kompos, pengelolaan air mendukung pertumbuhan tanaman, dan pengelolaan sampah memperkuat kembali siklus hijau di sekolah. Semua aksi berjalan berkesinambungan untuk menjaga lingkungan yang lebih hijau, sehat, dan produktif.
Meski sesekali terjadi miskomunikasi dan perdebatan kecil, hal tersebut justru menjadi bagian penting dari proses belajar mereka. Kerja keras selama 21 hari tentu menghadirkan kelelahan, namun semua terbayar oleh hasil yang tampak nyata:
sekolah menjadi lebih rapi, asri, hijau, dan segar.
Yang paling berharga, aksi mereka berhasil menumbuhkan kesadaran bagi teman-teman lain untuk ikut menjaga lingkungan. Semua kegiatan ini juga menjadi bentuk pengamalan Dasa Dharma Pramuka nomor 2: Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.
“21 hari bukan sekadar challenge yang harus diselesaikan, melainkan aksi berkelanjutan serta pemantik semangat kami untuk terus menjaga lingkungan,” tutur Ketua Tim Aksi.
“Merawat tanaman di sekolah itu menyenangkan, sayuran yang tumbuh subur hasilnya juga kami yang panen. Bisa kami masak setelah latihan dan kami makan bersama,” lanjutnya.
Dengan semangat kebersamaan, rasa peduli, dan kerja nyata, Tim Aksi Scout La Negsatu menunjukkan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang konsisten. Challenge lomba telah berakhir, namun aksi nyata harus terus berjalan.
Salam lestari dan Salam OEO A dari Aktivis Scout La Negsatu
Daiva Sylfa Kirana Ujur