Yogyakarta, 24 Oktober 2025 – Upaya penguatan ideologi negara di kalangan generasi muda memasuki babak baru dengan dibukanya Youth Leadership Course (YLC) 2025: Pembudayaan Nilai Pancasila di Era Digital. Program strategis ini diselenggarakan atas sinergi antara Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas, bertujuan membentuk kepemimpinan berkarakter bagi Pramuka Penegak dan Pandega.
Pembukaan resmi YLC berlangsung pada hari kedua, Jumat (24/10/2025), di Hotel Cakra Kembang, Sleman, DIY. Meskipun telah dimulai sejak Kamis, 23 Oktober 2025, acara seremonial ini menjadi penanda dimulainya rangkaian materi intensif yang akan berlangsung hingga Rabu, 29 Oktober 2025.
Pelatihan dibuka secara resmi oleh Direktur Jaringan dan Pembudayaan BPIP, Kak Toto Purbiyanto, S.Kom., MTI. Dalam sambutannya, Kak Toto dengan tegas menekankan bahwa dunia digital kini merupakan alat utama dan garda terdepan Penggerak Pancasila.
“Pembalajaran Pancasila harus terus dioptimalkan. Beragam berita negatif harus diguyur dengan hal-hal yang positif, termasuk dari apa yang nantinya dihasilkan dari pelatihan ini,” ujar Kak Toto.
“Tantangan terbesar saat ini adalah banyaknya konten-konten yang menggerus Pancasila. Kami berharap nilai Pancasila dapat muncul menjadi logos (pemikiran), pathos (perasaan/emosi), dan ethos (karakter),” harapnya.
Senada dengan BPIP, perwakilan Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas, Kak Anis Ilahi Wahdati, menyampaikan optimisme terhadap peserta yang mayoritas adalah Generasi Z. Melalui sesi refleksi yang telah dilakukan, Kak Anis melihat potensi karakter Pancasila yang luar biasa dan menantang peserta untuk memproyeksikan bagaimana Pancasila dapat terus terjaga dalam 50 hingga 100 tahun ke depan.
YLC 2025 diikuti oleh 40 peserta, yang merupakan perwakilan Pramuka Penegak dan Pandega atau anggota aktif Dewan Kerja dari enam Kwartir Daerah (Kwarda) di Jawa dan Bali, dimana Kwarda Jatim mendelegasikan 6 peserta yang terdiri atas 1 unsur DKD Jatim, yaitu Kak Muh. Vika Syauqy; 1 unsur DKC Bojonegoro; dan 4 DKC Tuban.
Ketua Panitia dari Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY, Kak Sri Budoyo, menjelaskan bahwa pelatihan ini berbeda dari kegiatan Pramuka pada umumnya, sebab dilaksanakan dengan metode Experiential Learning dan Project Based.
“Metode ini diterapkan secara khusus agar dapat meningkatkan kapasitas dan mempersiapkan peserta membuat aksi-aksi nyata di platform digital ‘Harmoni Indonesia’ dengan proyek-proyek yang berdampak ke masyarakat luas,” jelas Kak Sri Budoyo.
Para peserta antusias karena setelah pembukaan, mereka langsung mengikuti sesi materi dari narasumber BPIP, Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas, serta Pelatih Kwarda DIY, yang ditugaskan membuat proyek-proyek tematik yang dikaitkan langsung dengan isu digital yang sedang dihadapi.
Pusdatin Kwarda Jatim