“Food security exists when all people, at all times, have physical, social and economic access to sufficient, safe and nutritious food…” — FAO, dalam pembahasan konsep dan pengukuran ketahanan pangan.
Ketahanan pangan tidak selalu hadir melalui lahan luas, produksi besar, atau gerakan pertanian berskala nasional. Kadang, ia tumbuh dari sebidang tanah keluarga yang semula kurang terawat, dari hobi menanam yang dipelihara bertahun-tahun, dan dari keberanian seseorang mengubah warisan orang tua menjadi ruang produktif yang memberi manfaat bagi banyak orang.
Di Jawa Timur, Lilik Dyah Wulandari menjalani jalan itu melalui green house perkebunan organik melon premium hidroponik. Di dalam bangunan tanam yang tertata, melon tumbuh dengan media air bernutrisi. Akar, batang, daun, buah, suhu, air, dan nutrisi menjadi bagian dari keseharian yang harus diperhatikan dengan teliti. Setiap perubahan kecil pada tanaman menjadi tanda yang perlu dibaca, dipahami, lalu ditindaklanjuti.
Bagi Lilik, green house bukan sekadar tempat bercocok tanam. Di sana, ia menemukan ruang untuk menyalurkan kecintaan pada tanaman, perhatian pada lingkungan hijau, sekaligus jalan untuk membangun produktivitas. Sebagai pelatih Pusdiklatda Argasonya Jawa Timur, ia melihat aktivitas pertanian ini sebagai bentuk nyata bahwa nilai Pramuka tidak hanya hidup di ruang latihan, tetapi juga dapat tumbuh dalam kerja produktif yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Usaha melon premium hidroponik ini mulai dijalankan pada tahun 2025. Pilihan pada bidang pertanian dan perkebunan bukan muncul secara tiba-tiba. Sebelum berkonsentrasi pada melon hidroponik, Lilik sudah lama memiliki hobi menanam bunga dan sayuran di lingkungan rumah. Kegemaran itu kemudian berkembang menjadi pemikiran yang lebih serius: bagaimana hobi menanam dapat diubah menjadi kegiatan produktif yang bernilai ekonomi, sosial, dan ekologis.
Keputusan membangun green house juga berangkat dari keinginan memanfaatkan tanah peninggalan orang tua. Lahan yang sebelumnya berupa kebun pisang dan kurang terawat dipandang perlu dihidupkan kembali. Dari situ muncul gagasan untuk menjadikannya sebagai tempat budidaya melon premium hidroponik. Green house didirikan agar lingkungan lebih tertata, lahan lebih produktif, dan hasilnya dapat memberikan nilai tambah.
Pada awal perjalanan, usaha ini menunjukkan perkembangan menggembirakan. Panen pertama berhasil. Panen kedua juga berjalan sukses. Keberhasilan itu menjadi tanda bahwa pilihan mengubah lahan keluarga menjadi pusat budidaya melon hidroponik bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga memiliki peluang untuk dikembangkan lebih jauh.
Namun, perjalanan pertanian tidak pernah sepenuhnya bebas dari risiko. Tantangan besar muncul pada tahun 2026, tepatnya bulan Juni, ketika tanaman melon terserang jamur. Serangan itu berdampak serius karena mengenai bagian akar. Ketika akar terganggu, batang dan daun mulai membusuk dan layu. Dampaknya merembet pada proses penyerapan air dan nutrisi. Buah yang sudah besar tidak mampu lagi menyerap nutrisi secara optimal.
Akibatnya, kualitas rasa buah ikut menurun. Melon yang seharusnya memiliki rasa manis premium tidak mencapai hasil sebagaimana diharapkan. Kondisi itu berdampak pada harga jual. Nilai buah jatuh. Pada panen tersebut, hasil yang diperoleh hanya cukup untuk balik modal. Sebagian besar buah bahkan lebih banyak disedekahkan kepada rekan, sahabat, dan masyarakat sekitar.
Kegagalan itu tidak membuat Lilik berhenti. Ia memaknainya dengan sikap spiritual yang dalam. Baginya, rezeki sudah ada yang mengatur. Yang dapat dilakukan manusia adalah berikhtiar, mengevaluasi, memperbaiki, dan kembali bangkit. Dari pengalaman itu, ia meninjau ulang proses yang telah dilakukan: apa yang sudah tepat, apa yang masih perlu diperbaiki, dan bagaimana mencegah penyebab kegagalan agar tidak berulang pada musim tanam berikutnya.
“Rezeki semuanya sudah ada yang mengatur. Yang penting kembali bangkit, mengevaluasi apa yang sudah dilakukan, lalu memperbaiki bagian yang perlu diperbaiki untuk musim tanam selanjutnya,” demikian pesan yang ia pegang dari pengalaman tersebut.
Saat ini, proses penanaman kembali sudah mulai dilakukan. Tanaman melon tumbuh dalam pemantauan intensif. Dengan izin Allah SWT, pertumbuhan tanaman terpantau sehat dan aman. Harapannya, panen berikutnya dapat kembali berhasil sebagaimana panen-panen sebelumnya.
Kehadiran green house melon premium hidroponik ini tidak hanya memberi manfaat bagi pemiliknya. Masyarakat sekitar ikut merasakan dampaknya. Banyak warga dari luar daerah datang untuk melakukan kunjungan dan wisata petik melon. Pengunjung dari Surabaya, Lamongan, Babat, dan daerah sekitar hadir ke lokasi untuk menikmati pengalaman memetik buah langsung dari green house.
Kunjungan masyarakat dari luar wilayah itu membawa dampak lanjutan bagi ekonomi sekitar. Usaha makanan, penjualan snack, dan aktivitas ekonomi pendukung di sekitar lokasi ikut meningkat. Dengan demikian, green house tidak hanya berfungsi sebagai tempat produksi pangan, tetapi juga menjadi ruang wisata edukatif, penggerak ekonomi lokal, dan sarana memperkenalkan pertanian modern kepada masyarakat.
Hubungan usaha ini dengan nilai-nilai Pramuka tampak pada semangat produktivitasnya. Bagi Lilik, Pramuka harus mampu memberi contoh bahwa pengabdian tidak berhenti pada kegiatan latihan, bernyanyi, berkemah, atau upacara. Pramuka juga harus hadir sebagai gerakan yang produktif, kreatif, dan bermanfaat bagi kehidupan masyarakat.
“Harapannya ini menjadi inspirasi bagi Pramuka lain, bagi pelatih-pelatih di Kwartir Daerah Jawa Timur maupun seluruh Indonesia, bahwa Pramuka tidak hanya bisa berpramuka dan bernyanyi, tetapi juga bisa produktif,” ujarnya.
Pengalaman sebagai pelatih pembina Pramuka juga berpengaruh besar terhadap cara Lilik mengelola usaha. Dalam dunia kepelatihan, seorang pelatih terbiasa ditempa untuk memiliki kemampuan manajerial: merencanakan, mengorganisasi, melaksanakan, mengontrol, dan mengevaluasi kegiatan. Pola yang dikenal dengan prinsip planning, organizing, actuating, dan controlling itu diterapkan dalam pengelolaan green house.
Perencanaan green house dilakukan secara matang. Pelaksanaan dijalankan dengan sungguh-sungguh. Ketika muncul kendala, proses evaluasi dilakukan untuk menentukan langkah perbaikan. Dengan cara itu, pengalaman kepelatihan tidak berhenti sebagai kemampuan mengelola kegiatan Pramuka, tetapi berubah menjadi keterampilan nyata dalam mengelola usaha pertanian.
Di titik inilah nilai Pramuka menemukan bentuk yang lebih membumi. Produktivitas hadir dalam keberanian menghidupkan lahan. Tanggung jawab tampak dalam perawatan tanaman. Disiplin terlihat dalam pengaturan nutrisi dan pemantauan pertumbuhan melon. Ketangguhan muncul saat menghadapi kegagalan panen. Kepedulian sosial hadir ketika hasil panen yang kurang maksimal tetap dibagikan kepada orang lain.
Ke depan, Lilik berencana menambah green house. Dari satu lokasi yang sudah berjalan, ia berharap dapat membangun satu lokasi lagi, kemudian berkembang menjadi tiga atau lebih. Rencana itu tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan ketahanan pangan keluarga, tetapi juga membuka peluang kerja dan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.
Pesan yang ingin ia sampaikan kepada para pelatih dan pembina Pramuka sederhana, tetapi kuat: tetaplah produktif, jangan diam, terus bergerak, maksimalkan kompetensi yang dimiliki, dan lakukan sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang.
Dari green house melon premium hidroponik, sebuah pelajaran tumbuh perlahan. Produktivitas bukan hanya soal hasil panen, tetapi juga tentang keberanian mengubah lahan yang semula tidak terawat menjadi sumber manfaat. Melalui melon, air bernutrisi, tanaman hijau, dan kerja tekun, Lilik Dyah Wulandari menunjukkan bahwa pelatih Pramuka dapat menjadi penggerak ketahanan pangan, penguat ekonomi sekitar, sekaligus teladan bahwa karakter terbaik selalu menemukan jalannya dalam karya nyata.
Pusdatin Kwarda Jatim

