Pramukarek.or.id – PRIGEN, PASURUAN – Hutan Cempaka menjadi saksi bisu otokritik paling tajam yang pernah dilontarkan dalam sejarah kepramukaan lingkungan di Jawa Timur. Pada pembukaan Kemah Hijau 2025 (20/12), Ketua Pelaksana Kegiatan, Kak Immanuel Kharisma, S.T., M.T., tidak naik ke podium untuk sekadar memberikan laporan manis. Beliau membawa palu godam untuk meruntuhkan stigma lama tentang peran Pramuka di mata masyarakat.
Di hadapan 60 lebih delegasi terpilih dari 17 Kwartir Cabang, Kak Immanuel menolak keras jika Pramuka hanya dianggap sebagai tenaga cadangan yang dipanggil saat selokan tersumbat.
Menolak Mentalitas “Musim Hujan”
“Jangan menjauhkan diri dari kegiatan lingkungan. Tapi justru malah kita harusnya menawarkan diri menjadi bagian dari kegiatan yang mengendalikan kerusakan lingkungan,” tegas Kak Immanuel dengan nada berapi-api.
Beliau membedah realita pahit di lapangan: Pramuka seringkali hanya hadir secara reaktif. “Jadi nggak ada lagi cerita kalau misal kita diminta kerja bakti. Mungkin hampir setiap hari ada, apalagi di musim hujan, ya. Bersihkan selokan, menjalar, pohon, dan dahan pohon,” ujarnya. Bagi Immanuel, peran “tukang bersih-bersih” ini harus dinaikkan kelasnya menjadi “pengelola dan pengendali”.
Refleksi Tragedi Sumatera: “Negara Dikasih Tuhan, Kita Kurang Tanggung Jawab”
Kak Immanuel membawa peserta merenungi bencana ekologis yang baru saja menimpa Sumatera. Beliau tidak menyalahkan alam, melainkan menunjuk pada kegagalan manusia.
“Teman-teman saudara kita di sana itu menderita karena mungkin ketidaktahuan, kurangnya literasi terhadap kondisi lingkungan. Sebenarnya negara ini luar biasa dikasih Allah, tapi kitanya kurang tanggung jawab,” kritiknya tajam.
Pernyataan ini menjadi landasan filosofis Kemah Hijau 2025: Literasi lingkungan adalah pertahanan hidup. Tanpa itu, kekayaan alam Indonesia hanyalah bom waktu.
Membunuh Egoisme: “Tidak Bisa Mikirin Diriku Sendiri”
Dalam forum tersebut, Kak Immanuel menanamkan doktrin anti-egoisme. Beliau menegaskan bahwa aktivis lingkungan tidak boleh memiliki sifat self-center. “Kalau kita ngomongin lingkungan, kita nggak bisa egois. Kita nggak bisa self-center. Kita nggak bisa mikirin diriku. Tapi juga dirimu, dirinya, dan kita semua. Ya kan?” tanyanya yang disambut teriakan “Siap!” dari peserta.
Membangunkan Saka Kalpataru dari “Mati Suri”
Secara blak-blakan, Immanuel membuka data internal organisasi. Beliau menyebut Saka Kalpataru—yang lahir pada Desember 2013 (bintang Sagitarius, candanya)—sempat aktif sebelum pandemi. Namun, pasca-COVID, organisasi ini mengalami fase dormant alias mati suri.
“Enggak ada anggaran, enggak ada inisiasi, dan enggak ada arahan dari pusat. Akibatnya, kita jalannya gitu-gitu aja. Do nothing,” akunya transparan. Beliau bahkan berdialog dengan peserta, menanyakan nasib hubungan yang “gitu-gitu aja”, apakah disambung atau dilepas. Jawaban peserta beragam, namun semangat untuk “memperbaiki” menjadi konsensus akhir.
Data di lapangan menunjukkan betapa beratnya tantangan ini. Dari 38 Kabupaten/Kota di Jawa Timur, hanya 17 yang mengirimkan delegasi. Sisanya? “Beberapa Kabupaten/Kota memang menyatakan sudah tutup buku, nggak bisa mengirimkan, sudah bendera putih,” ungkap Immanuel. Namun, beliau mengapresiasi 60 peserta yang hadir sebagai kader yang tidak menyerah pada keterbatasan birokrasi dan siap menjadi patriot lingkungan Jawa Timur.
Pusdatin Kwarda Jatim