SURABAYA, Jawa Timur – Musyawarah Daerah (Musda) Gerakan Pramuka Jawa Timur 2025 tidak hanya menjadi ajang pergantian kepemimpinan, namun meletakkan fondasi fundamental bagi arah gerak organisasi lima tahun ke depan. Forum yang dihadiri oleh seluruh pemangku kebijakan Pramuka se-Jawa Timur ini menyepakati pentingnya prinsip perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) untuk menjawab tantangan zaman yang semakin dinamis.
Wakil Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Bidang Organisasi, Hukum, Perencanaan, dan Pengembangan, Prof. Dr. H. M. Asrorun Niam Sholeh, M.A., dalam arahan strategisnya menekankan bahwa Musda adalah ruang evaluasi yang harus menyentuh tiga dimensi krusial.
“Sebagai ajang evaluasi, setidaknya ada tiga hal. Yang pertama, menguatkan apa yang sudah baik. Yang kedua, memperbaiki yang kurang baik. Yang ketiga, meninggalkan yang tidak baik dan mengambil inisiatif-inisiatif baru yang lebih baik,” jelas Prof. Asrorun Niam.
Ia memperkenalkan filosofi organisasi yang adaptif dengan mengutip kaidah Al muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah (memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik), yang kemudian disempurnakan menjadi continuous improvement.
“Kondisi lebih baik dari kini, akan muncul terus yang disebut sebagai continuous improvement. Perbaikan terus-menerus. Karena bisa jadi menurut kita hari ini baik, esok dan esok lusa belum tentu baik. Hari ini excellent, esok atau lusa bisa jadi itu sudah kedaluwarsa,” tegasnya mengingatkan para peserta Musda akan pentingnya dinamisasi organisasi.
Dari sisi dukungan pemerintah, Wakil Gubernur Jawa Timur, Dr. Emil Elestianto Dardak, B.Bus., M.Sc., Ph.D., menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menerapkan langkah konkret untuk memastikan keberlangsungan pendidikan kepramukaan.
“Itu bisa terwujud karena ada afirmatif, ada afirmasi. Ada langkah afirmatif dari pemerintah bahwa Pramuka itu adalah gerakan yang harus, saya ulangi, harus diikuti oleh setiap insan yang ada di satuan pendidikan,” ujar Emil Dardak.
Komitmen ini dinilai menjadi kunci keberhasilan Kwartir Daerah (Kwarda) Jawa Timur dalam meraih predikat sebagai Kwarda tergiat di tingkat nasional. Emil menyebutkan bahwa prestasi konkret tersebut adalah buah dari komitmen Gubernur yang sangat besar terhadap gerakan ini.
Namun, Emil juga tidak menutup mata terhadap tantangan nyata yang akan dihadapi ke depan, terutama terkait kondisi fiskal dan penggalangan sumber daya. Ia mengajak seluruh elemen Pramuka untuk tetap optimistis.
“Tentu pelaksanaannya akan ada tantangan. Karena kita tahu kondisi fiskal, kemudian sensitivitas terkait adanya katakanlah sumber daya-sumber daya yang harus digalang. Tapi mari kita optimis, Insyaallah dengan komunikasi, dengan kolaborasi, kita bisa menyelesaikan tantangan-tantangan tersebut,” pesan Emil.
Dalam kerangka arah gerak ke depan, Prof. Asrorun Niam juga menyoroti posisi Gerakan Pramuka sebagai mitra strategis pemerintah. Ia menegaskan bahwa hubungan antara Pramuka dan pemerintah bersifat saling menguatkan, bukan kompetisi yang saling mematikan (zero sum game).
“Keberadaan Gerakan Pramuka adalah mitra strategis yang bersifat saling menguatkan dan juga menguntungkan. Bukan zero sum game. Dan juga bukan dalam posisi menjadi sparing, tetapi kita mengingatkan pada saat yang baik kita dukung, pada saat yang kurang kita tambah, pada saat yang luput kita perbaiki,” papar Prof. Asrorun Niam.
Peningkatan kualitas Pembina dan Pelatih juga digarisbawahi sebagai kunci utama agar nilai-nilai kepramukaan dapat diteruskan secara efektif kepada peserta didik. Hal ini sejalan dengan visi besar Musda untuk membentuk generasi muda yang tangguh, berkarakter, mandiri, dan berjiwa Pancasila yang siap menjadi pemimpin masa depan.
Musda Jatim 2025 ini diharapkan melahirkan keputusan-keputusan strategis yang substantif, bukan sekadar formalitas, guna memperkokoh peran Pramuka sebagai wadah pendidikan karakter utama di Jawa Timur.