Pramukarek.or.id – PRIGEN, JAWA TIMUR – Sebuah kritik otokritik tajam namun membangun menggema di Hutan Cempaka, Prigen. Dalam pembukaan Kemah Hijau 2025, Ketua Pelaksana, Kak Immanuel Kharisma, S.T., M.T., tidak sekadar memberikan laporan seremonial. Beliau menyerukan “revolusi mental” bagi seluruh anggota Pramuka di Jawa Timur untuk mengubah mindset mereka tentang pengabdian lingkungan.
Di hadapan 60 lebih delegasi terpilih yang mewakili 17 Kabupaten/Kota, Immanuel menegaskan bahwa era Pramuka yang hanya bekerja secara reaktif—seperti membersihkan selokan saat banjir atau memotong dahan saat badai—harus segera diakhiri.
“Jangan menjauhkan diri dari kegiatan lingkungan. Tapi justru malah kita harusnya menawarkan diri menjadi bagian dari kegiatan yang mengendalikan kerusakan lingkungan,” tegas Immanuel. Pernyataan ini menjadi hook utama yang mengubah arah gerak Saka Kalpataru dari sekadar “pemadam kebakaran” saat bencana terjadi, menjadi arsitek pencegahan kerusakan ekologis.
Immanuel menekankan bahwa Pramuka memiliki kewajiban moral yang luar biasa untuk melestarikan lingkungan, mengingat tidak semua elemen masyarakat memiliki jiwa kepanduan tersebut. Beliau berharap kegiatan ini menyatukan frekuensi semangat (spirit) antara anggota penegak (SMA/SMK) hingga anggota dewasa agar memiliki visi yang sama ketika terjun kembali ke masyarakat.
Refleksi Bencana & Bahaya Egoisme
Dalam pidatonya, Immanuel mengajak peserta berkaca pada bencana yang menimpa Sumatera. Beliau menganalisis bahwa penderitaan saudara sebangsa di sana salah satunya disebabkan oleh “ketidaktahuan dan kurangnya literasi” terhadap kondisi lingkungan. “Negara ini luar biasa dikasih Allah, tapi kitanya kurang tanggung jawab,” ujarnya dengan nada prihatin.
Lebih jauh, beliau menantang para kader untuk membuang sifat egois. “Kalau kita ngomongin lingkungan, kita nggak bisa egois. Kita nggak bisa self-center. Kita nggak bisa mikirin diriku. Tapi juga dirimu, dirinya, dan kita semua,” tambahnya.
Membangunkan Raksasa Tidur
Kemah Hijau ini juga didesain sebagai momentum kebangkitan. Kak Immanuel secara terbuka mengakui bahwa Saka Kalpataru sempat mengalami fase dormant atau mati suri pasca-pandemi COVID-19. Ketiadaan anggaran dan arahan dari pusat membuat pergerakan di daerah berjalan di tempat (“gitu-gitu aja”). Melalui forum ini, beliau menargetkan terbentuknya kembali struktur Saka Kalpataru yang solid di tingkat Kwartir Cabang se-Jawa Timur.
Pusdatin Kwarda Jatim