Pramukarek.or.id – PRIGEN, JAWA TIMUR – Sebuah pengakuan jujur dan mengejutkan datang dari Pemerintah Provinsi Jawa Timur di tengah heningnya Hutan Cempaka, Prigen. Dalam Upacara Pembukaan Kemah Hijau 2025, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jatim secara terbuka menyatakan bahwa “tangan pemerintah terlalu kecil” untuk menahan laju kerusakan lingkungan yang kian masif dan kompleks.
Mewakili Kepala Dinas Lingkungan Hidup yang sedang bertugas mendampingi Gubernur di Bojonegoro, Sekretaris Dinas LH, Kak Nurul Muntasyiroh, S.Ag., S.H., M.M., tidak sekadar memberikan sambutan seremonial. Di hadapan puluhan delegasi terpilih, beliau membacakan amanat yang berisi “Sinyal SOS” kepada generasi muda: Pemerintah butuh bantuan, dan Pramuka adalah jawabannya.
Pengakuan Terbuka: Negara Tak Sanggup Sendirian
“Permasalahan lingkungan tidak dapat diselesaikan oleh pemerintah semata,” ujar Kak Nurul memecah keheningan upacara. Pernyataan ini menjadi sorotan utama, menandakan adanya eskalasi krisis yang membutuhkan penanganan luar biasa.
Beliau merinci deretan ancaman nyata yang kini mengepung Jawa Timur, mulai dari perubahan iklim yang ekstrem, pencemaran udara dan air yang mengancam kesehatan, kerusakan ekosistem, hingga kelangkaan keanekaragaman hayati. Dalam pandangan pemerintah, isu-isu ini telah mencapai titik di mana birokrasi saja tidak lagi cukup untuk membendung dampaknya.
Redefinisi Peran: Dari Ekstrakurikuler Menjadi Mitra Strategis
Dalam situasi genting ini, posisi Gerakan Pramuka—khususnya Satuan Karya (Saka) Kalpataru—dinaikkan derajatnya secara signifikan. Kak Nurul menegaskan bahwa Saka Kalpataru bukan lagi sekadar organisasi ekstrakurikuler sekolah atau pelengkap kegiatan pemuda.
“Saka Kalpataru menjadi mitra pemerintah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup, dalam menumbuhkan kader-kader lingkungan yang berwawasan, berkarakter, dan berkomitmen,” tegasnya.
Pernyataan ini menempatkan Pramuka sebagai mitra sejajar (equal partner) pemerintah. Kak Nurul mengingatkan bahwa pondasi utama pembangunan daerah adalah lingkungan yang lestari. Tanpa itu, kesejahteraan generasi masa kini dan masa depan hanyalah angan-angan semu. “Oleh karena itu, kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan harus terus ditanamkan sejak dini, khususnya kepada generasi muda,” pesannya.
Kurikulum “Aksi Nyata”: Bukan Sekadar Teori di Atas Kertas
Pemerintah Provinsi Jawa Timur menegaskan tidak ingin Kemah Hijau 2025 berakhir sebagai ajang kumpul-kumpul atau kemah biasa. Dalam arahannya, Kak Nurul menjabarkan kurikulum berat dan padat yang harus ditelan para peserta selama kegiatan berlangsung.
“Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga pengalaman praktis,” jelas Beliau. Kemah Hijau dirancang untuk melampaui pembelajaran teoretis ruang kelas.
Para kader digembleng untuk menguasai kompetensi teknis lapangan, yang meliputi:
1. Manajemen Sampah Terpadu: Praktik nyata menjaga kebersihan, memilah, dan mengelola limbah menjadi sumber daya.
2. Konservasi Biodiversitas: Teknik melestarikan keanekaragaman hayati yang tersisa di tengah ancaman kepunahan.
3. Efisiensi Sumber Daya: Pola hidup hemat sumber daya alam (air dan energi) dalam kehidupan sehari-hari.
4. Aksi Positif Berkelanjutan: Menjadi inisiator gerakan lingkungan di masyarakat sepulang dari perkemahan.
Penghormatan untuk “Akar Rumput” yang Bertahan
Menutup sambutannya, Kak Nurul memberikan apresiasi tertinggi dan penghormatan setulus-tulusnya kepada seluruh panitia, pembina, dan instruktur yang telah bekerja keras merealisasikan kegiatan ini di tengah berbagai tantangan dan keterbatasan.
Beliau menyebut dedikasi mereka sebagai “wujud nyata kepedulian terhadap masa depan lingkungan hidup dan generasi penerus bangsa”. Pemerintah menaruh harapan besar bahwa output dari kemah ini adalah lahirnya generasi yang tidak hanya cinta lingkungan, tetapi juga berdaya saing tinggi dalam menghadapi tantangan global.
Momen bersejarah tersebut ditutup dengan ketukan palu simbolis dan teriakan lantang “Dua Kali Tepuk Pramuka”. Suara tepuk tangan yang bergemuruh di kaki Gunung Arjuno itu menjadi tanda sah bahwa pemerintah secara resmi telah menyerahkan tongkat estafet penjagaan alam Jawa Timur ke tangan 60 kader terpilih yang siap menjadi benteng kelestarian nusantara.
Pusdatin Kwarda Jatim