TULUNGAGUNG – Tak ada yang lebih membahagiakan bagi seseorang selain memiliki tempat tinggal yang aman untuk berteduh, beristirahat, dan melepas lelah setelah seharian berjuang mencari nafkah. Kebahagiaan sederhana itulah yang kini dirasakan Marsiyah, atau yang akrab disapa Mak Yoyo, seorang penjual sayur keliling di Desa Blendis, Kecamatan Gondang, Kabupaten Tulungagung.

Di tengah keterbatasan hidup yang dijalaninya, Mak Yoyo mendapatkan secercah harapan melalui program Aksi Pramuka Peduli Tahap II Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur. Rumahnya yang sebelumnya memprihatinkan dan nyaris roboh kini diperbaiki melalui aksi nyata anggota Pramuka Kwartir Cabang Tulungagung di bawah komando Brigade Penolong.

Program renovasi rumah yang diberikan Kwarda Jatim sebanyak 2 rumah, namun oleh Kwarcab Tulungagung yang berkoordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Tulungagung dikembangkan memjadi total 6 rumah, dengan melibatkan puluhan anggota Pramuka Penegak di tiap titik.

Pada Sabtu (10/10/2026), Kwarda Jatim melaksanakan monitoring untuk melihat langsung hasil pelaksanaan program renovasi rumah tersebut. Namun, lebih dari sekadar memantau pembangunan fisik, kunjungan itu menjadi momen untuk menyaksikan kebahagiaan seorang perempuan yang selama ini berjuang dalam kesederhanaan.

Bagi Mak Yoyo, rumah yang kini lebih layak bukan hanya bangunan yang diperbaiki. Rumah itu adalah tempat berlindung, sumber ketenangan, dan bukti bahwa masih ada orang-orang yang peduli terhadap perjuangannya.

Berjuang Sendiri demi Keluarga

Setiap hari, sebelum aktivitas warga dimulai, Mak Yoyo sudah bersiap menjalani rutinitasnya. Ia pergi ke Pasar Gondang untuk membeli aneka sayuran yang kemudian dijual berkeliling kepada warga di sekitar tempat tinggalnya.

Dari hasil berjualan itulah ia berusaha memenuhi kebutuhan hidup sekaligus merawat kedua orang tuanya yang telah lanjut usia. Di tengah keterbatasan, Mak Yoyo menjalani tanggung jawab itu dengan keteguhan hati.

Sementara itu, anaknya belum kembali dari perantauan. Keadaan tersebut membuat Mak Yoyo harus mengandalkan tenaganya sendiri untuk menjalani hari demi hari.

Di balik senyum dan kesibukannya menawarkan sayuran kepada warga, tersimpan perjuangan panjang seorang perempuan yang tidak menyerah pada keadaan. Ia tetap bekerja, tetap merawat orang tuanya, dan tetap berusaha menjalani kehidupan sebaik mungkin.

Namun, ada satu hal yang selama ini menjadi kekhawatirannya: kondisi rumah yang sudah rusak parah dan terancam roboh. Keinginan untuk memperbaikinya selalu terbentur keterbatasan biaya.

Untuk seorang penjual sayur keliling yang harus membagi penghasilan demi kebutuhan sehari-hari, memperbaiki rumah tentu bukan perkara mudah.

“Alhamdulillah, Omahku Dadi Adem Tentrem”

Kini, kekhawatiran itu perlahan berganti menjadi kebahagiaan.

Dengan mata penuh haru, Mak Yoyo mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan renovasi rumah yang dilakukan oleh anggota Pramuka Tulungagung.

“Alhamdulillah, omahku dadi adem tentrem, Mas. Iki omahe arep ambruk, arep ndandani gak iso,” tuturnya dalam bahasa Jawa.

Artinya, ia bersyukur karena rumahnya kini terasa lebih nyaman dan menenteramkan. Sebelumnya, rumah tersebut nyaris roboh, sementara dirinya tidak memiliki kemampuan untuk memperbaikinya.

Bagi sebagian orang, rumah yang layak mungkin merupakan sesuatu yang biasa. Namun, bagi Mak Yoyo, perubahan kondisi rumahnya adalah anugerah besar yang membawa ketenangan setelah sekian lama hidup dalam kekhawatiran.

Dengan penuh rasa bahagia, ia kembali mengungkapkan perasaannya.

“Dibangun Pramuka, omahku maleh apik,” pungkasnya.

Kalimat sederhana itu menyimpan makna yang begitu dalam. Ada rasa lega, syukur, dan kebahagiaan dari seorang perempuan yang akhirnya bisa melihat rumahnya menjadi lebih baik berkat kepedulian sesama. Di rumah itulah Mak Yoyo dan kedua orang tuanya menjalani hari-hari. Kini, harapan untuk tinggal dengan lebih nyaman terasa semakin dekat.

Pramuka Bukan Sekadar Tepuk Tangan dan Bernyanyi

Aksi nyata tersebut menjadi gambaran bahwa Gerakan Pramuka tidak hanya hadir melalui kegiatan perkemahan, upacara, tepuk tangan, atau nyanyian. Lebih dari itu, Pramuka memiliki tanggung jawab moral untuk hadir di tengah masyarakat dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara langsung.

Andalan Abdimas Kwarcab Tulungagung, Kak Suwarno, menegaskan bahwa kegiatan sosial seperti renovasi rumah Mak Yoyo merupakan wujud nyata pengabdian Pramuka kepada masyarakat.

“Kita memang membutuhkan aksi nyata di masyarakat, bahwa Pramuka tidak hanya bertepuk tangan dan bernyanyi,” katanya.

Menurutnya, nilai-nilai kepramukaan harus diwujudkan melalui tindakan yang membawa manfaat, terutama bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan.

Kesempatan membantu Mak Yoyo menjadi bukti bahwa nilai Satya dan Darma Pramuka bukan sekadar rangkaian kata yang diucapkan dalam latihan. Nilai-nilai tersebut harus hidup dalam tindakan, keberanian untuk peduli, serta kesediaan mengulurkan tangan kepada sesama.

“Kita juga berkesempatan merealisasikan bahwa Pramuka juga punya Darma rela menolong dan tabah. Bravo BP 13!” pungkas Kak Suwarno.

Ungkapan itu sekaligus menjadi apresiasi bagi anggota Brigade Penolong yang terlibat dalam aksi kemanusiaan tersebut.

Ketika Darma Pramuka Menjadi Kebahagiaan

Kisah Mak Yoyo mengingatkan kita bahwa kepedulian tidak selalu harus diwujudkan melalui sesuatu yang besar dan mewah. Terkadang, memperbaiki rumah yang hampir roboh sudah cukup untuk mengubah kehidupan seseorang, menghadirkan rasa aman, dan mengembalikan ketenangan yang lama dirindukan.

Bagi anggota Pramuka yang terlibat, mungkin renovasi itu merupakan bagian dari tugas pengabdian. Namun, bagi Mak Yoyo, hasilnya jauh lebih berarti: sebuah rumah yang lebih layak, tempat beristirahat setelah seharian berjualan sayur, sekaligus tempat merawat kedua orang tuanya dengan lebih tenang.

Dari Desa Blendis, Tulungagung, terpancar pesan sederhana namun kuat: Pramuka akan selalu berarti ketika kehadirannya mampu menghadirkan harapan bagi sesama.

Inilah wajah Pramuka yang sesungguhnya. Bukan hanya tentang seragam cokelat yang dikenakan, bukan pula tentang barisan yang rapi, melainkan tentang hati yang tergerak ketika melihat sesama membutuhkan pertolongan.

Sebab, ketika seorang anggota Pramuka memilih untuk peduli, ketika tangan-tangan saling bergotong royong, dan ketika sebuah rumah kembali berdiri dengan lebih layak, di situlah nilai-nilai kepramukaan menemukan maknanya.

Rumah Mak Yoyo kini lebih baik. Hatinya lebih tenang. Dan bagi Gerakan Pramuka Jawa Timur, kebahagiaan sederhana itu menjadi pengingat bahwa pengabdian terbaik adalah pengabdian yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. (Achmat Maskurochman)

Pusdatin Kwarda Jatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *