Pramukarek.or.id – Program 21 Hari Aksi Iklim yang dijalankan oleh para anggota pramuka SDIT Al Huda Bawean berhasil menjadi salah satu kegiatan edukasi lingkungan paling berkesan sepanjang tahun ini. Selama tiga minggu penuh, para peserta tidak hanya belajar teori, tetapi terjun langsung dalam rangkaian aksi nyata untuk menjaga kelestarian bumi.
Mulai dari penanaman pohon hingga pembuatan laporan lingkungan, program ini dirancang untuk membentuk karakter peduli alam sejak dini. Setiap aktivitas juga dibuat menyenangkan, kreatif, dan relevan dengan permasalahan lingkungan di sekitar mereka.
Kegiatan dimulai dengan penanaman bibit pohon di area sekolah, sebagai langkah awal menghijaukan lingkungan. Dilanjutkan dengan Zero Waste School, program pemilahan sampah berbasis bank sampah, hingga edukasi hemat air melalui Water Guardian Campaign.
Para peserta juga membuat poster, video kampanye, dan tong sederhana untuk menampung air hujan sebagai bentuk inovasi kecil namun berdampak besar. Selain itu, mereka melakukan audit sampah sekolah, mengolah limbah menjadi kerajinan edukatif, serta mempublikasikan laporan lingkungan sebagai bentuk transparansi dan edukasi publik.
Program ini tidak hanya memberikan dampak di lingkungan sekolah, tetapi juga berhasil menggerakkan masyarakat sekolah. Aksi ini menunjukkan bahwa perubahan lingkungan dapat dimulai dari langkah-langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten bersama-sama. Hal ini menjadi bukti bahwa anak-anak memiliki kekuatan besar sebagai agen perubahan. Di balik keberhasilan program ini, para peserta mengaku mendapatkan pengalaman yang penuh tantangan sekaligus membanggakan.
Zarin Raisha, salah satu anggota pramuka, mengungkapkan bahwa mengikuti kegiatan ini membutuhkan komitmen tinggi setiap hari. “Awalnya melelahkan karena harus konsisten setiap hari. Tapi setelah melihat daerah sekolah semakin bersih dan pohon-pohon tumbuh rapi, rasanya bangga sekali. Kami merasa usaha kami tidak sia-sia,” ujarnya.
Faiqatur Riyasah Izziyah juga merasakan momen paling berkesan ketika berhasil mengajak teman sebayanya dan adik-adik kelasnya ikut memilah sampah. Menurutnya, warga sekolah kini mulai lebih peduli setelah diberi penjelasan dengan baik.
Dari sisi pembina, program ini dipandang sebagai proses pembentukan karakter jangka panjang.
Kak Rissky Wahyu Saputra menegaskan bahwa aksi iklim ini bukan hanya lomba, tetapi juga sarana melatih tanggung jawab, kepemimpinan, dan kepedulian sosial dalam diri siswa. “Kami ingin anak-anak memahami bahwa menjaga bumi bukan slogan, tapi tindakan,” ungkapnya.
Hal senada disampaikan oleh Kak Kinanti Safitrinnaja yang bangga melihat kerja keras para peserta. “Mereka tidak hanya menyelesaikan tugas, tetapi menjadi pelopor perubahan. Ini adalah generasi yang siap menjaga masa depan lingkungan,” tuturnya.
Aksi 21 hari ini menegaskan bahwa dari pulau kecil seperti Bawean, lahir gerakan besar yang menginspirasi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. SDIT Al Huda Bawean menunjukkan bahwa aksi kecil yang dilakukan secara konsisten mampu melahirkan perubahan besar bagi bumi. Meski hasil kompetisi dari Kwartir Daerah Jawa Timur masih menunggu waktu, pencapaian terbesar telah diraih: terbentuknya generasi muda yang sadar iklim, peduli lingkungan, dan siap memimpin masa depan. “Dari pramuka untuk bumi, dari pulau untuk dunia.”
Penulis berita: Rissky Wahyu Saputra, S.E