JOMBANG — Gerakan Pramuka tidak hanya dituntut untuk tangguh secara fisik dan terampil di alam terbuka, tetapi juga harus memiliki ketahanan jiwa yang matang. Hal tersebut ditekankan oleh Andalan Daerah Urusan Satuan Komunitas Pramuka, Kak Iwan Wahyu Widayat, M.Psi., Psikolog., saat menyampaikan materi khusus mengenai Kesehatan Mental bagi Pramuka dalam rangkaian kegiatan Pelatihan Manajemen Satuan Komunitas Pramuka Se-Jawa Timur yang diselenggarakan di Pusdiklatcab Jombang, Rabu (21/10/2026).
Di hadapan para peserta pelatihan, Kak Iwan memaparkan bahwa kesehatan mental (mental health) merupakan fondasi penting dalam kondisi kesejahteraan mental (mental well-being). Berdasarkan acuan global WHO 2026, kondisi ini memampukan seseorang untuk menghadapi tekanan hidup, menyadari kemampuan diri, belajar serta bekerja dengan baik, hingga berkontribusi secara nyata kepada masyarakat.

“Kesehatan mental bukanlah kondisi hitam-putih antara ‘baik’ atau ‘tidak baik-baik saja’, melainkan sebuah kontinum yang bergerak dinamis. Kita mengenal fasenya dari kondisi sehat (thriving), rentan akibat stres, mengalami masalah mental, hingga gangguan mental yang membutuhkan penanganan klinis lebih lanjut,” ujar Kak Iwan di sela-sela pemaparan materinya.
Urgensi pada Usia Penegak dan Realita Data Nasional
Dalam sesinya, Kak Iwan menyoroti pentingnya perhatian khusus terhadap kesehatan mental usia penegak (16–20 tahun) yang berada pada fase transisi dewasa muda (emerging adult). Dari segi biologis, perkembangan otak remaja memperlihatkan bahwa amigdala yang mengatur emosi berkembang sangat cepat, sementara korteks prefrontal yang bertanggung jawab untuk berpikir logis serta pengambilan keputusan matang baru akan berkembang penuh pada usia pertengahan 20-an.
Kondisi tersebut diperparah oleh berbagai tantangan modern seperti transisi peran akademik, ekosistem digital yang memicu perbandingan sosial dan perundungan siber (cyberbullying), krisis identitas diri, hingga stigma sosial negatif. Kak Iwan juga membeberkan data prevalensi nasional yang memprihatinkan, di mana 34,9% atau sekitar 15,5 juta remaja mengalami masalah emosional dan perilaku, serta tingginya kesenjangan layanan (treatment gap) akibat hambatan stigma sosial.

Ambalan sebagai Protective Factor dan Penerapan Dasa Darma
Menjawab tantangan tersebut, Kak Iwan menegaskan bahwa Ambalan memiliki peran vital sebagai lingkungan pelindung (protective factor). Sistem Sangga dalam kepramukaan menyediakan dukungan sosial alami (natural social support), aktivitas alam terbuka (ecotherapy), serta ruang aman (safe space) bagi para anggota untuk bertumbuh tanpa penghakiman.
Menariknya, nilai-nilai luhur kepanduan turut diterjemahkan dalam kerangka psikologi positif. Kak Iwan merinci bagaimana Dasa Darma dapat diaplikasikan untuk menjaga kesehatan jiwa, seperti pengamalan Darma ke-6 (aktivasi perilaku penstimulasi dopamin), Darma ke-8 (ketahanan terhadap stres), hingga Darma ke-10 (restrukturisasi kognitif).
Selain itu, pelatihan ini juga memperkenalkan alur Peer PFA (Psychological First Aid) di tingkat Ambalan yang berlandaskan pada metode LIHAT (pengamatan perilaku), DENGAR (penyediaan ruang aman dan validasi emosi), serta HUBUNGKAN (rujukan tepat kepada Pembina, Guru BK, atau tenaga medis).
“Pramuka yang tangguh bukan berarti bebas dari rasa cemas, melainkan memiliki ketahanan untuk bangkit serta peduli terhadap kawan di sekitarnya,” pesan Kak Iwan sekaligus menutup sesinya dengan ajakan untuk aktif melakukan Safe Space Check-In dan menghapus stigma demi menciptakan ambalan yang peduli jiwa.
Pusdatin Kwarda Jatim