PASURUAN, 6 Juli 2026 — Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Pasuruan menyelenggarakan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan (KML) Golongan Penggalang pada 6–11 Juli 2026 di SDN Pohgading, Kecamatan Pasrepan, Kabupaten Pasuruan. Kegiatan yang diikuti 42 peserta, terdiri atas 17 putra dan 25 putri, ini menjadi langkah strategis untuk memperkuat kompetensi Pembina Pramuka dalam merancang pembinaan Penggalang yang inovatif, menantang, aman, dan berkarakter.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Pasuruan selaku Ketua Kwartir Cabang Gerakan Pramuka Pasuruan, Kak H. M. Shobih Asrori. Kehadiran pimpinan Kwarcab menjadi penegasan bahwa peningkatan kualitas pembina merupakan bagian penting dari penguatan pendidikan kepramukaan di wilayah Pasuruan, terutama dalam menghidupkan Gugus Depan sebagai pangkalan pembentukan karakter peserta didik.
KML Golongan Penggalang merupakan jenjang lanjutan setelah Kursus Mahir Dasar (KMD). Kursus ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas, wawasan, serta keterampilan praktis para pembina agar mampu mengelola program pembinaan Pramuka Penggalang usia 11–15 tahun secara lebih terarah. Melalui kegiatan ini, pembina dibekali kemampuan manajerial, pedagogik, dan teknis agar dapat menghadirkan latihan kepramukaan yang relevan dengan perkembangan psikologis remaja.
Pelaksanaan KML Kwarcab Pasuruan berpedoman pada kurikulum Pusdiklatnas dengan beban 72 jam pelajaran dan berlangsung selama enam hari berturut-turut. Selama kursus, peserta mendapatkan penguatan materi mengenai manajemen pasukan Penggalang, inovasi metode latihan, pendalaman teknik kepramukaan lanjutan, serta praktik lapangan secara langsung melalui pendekatan learning by doing.
Pimpinan Kursus KML Kwarcab Pasuruan, Siti Rohmatul Ummah, M.Pd., menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan teknis pembina, tetapi juga membentuk kemampuan kepemimpinan dan tata kelola Gugus Depan.
“Kursus ini didesain untuk mencetak manager gugus depan yang profesional bisa menyelenggarakan kegiatan kepramukaan dengan terbaik dan piawai dalam memimpin lembaga,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pembina memiliki posisi strategis sebagai penggerak utama pendidikan kepramukaan di satuan pendidikan. Pembina tidak cukup hanya mampu melaksanakan latihan rutin, tetapi juga dituntut mampu mengelola Gugus Depan sebagai ruang pendidikan karakter yang aktif, tertib, inovatif, dan berdampak langsung bagi peserta didik.
Dalam arahannya, Ketua Kwarcab Pasuruan menyoroti pentingnya Gerakan Pramuka sebagai wadah pendidikan karakter di tengah tantangan era digital. Menurutnya, kegiatan kepramukaan perlu menjadi ruang alternatif yang sehat dan produktif untuk membantu anak-anak menjauh dari ancaman kecanduan gawai.
“Gerakan Pramuka memiliki peran krusial sebagai wadah pendidikan karakter yang efektif untuk mengalihkan anak-anak dari ancaman kecanduan gawai di era digital. Sejarah kepanduan di tanah air telah mengakar kuat sejak sebelum kemerdekaan dan memiliki andil nyata dalam perjuangan bangsa. Karena itu, ilmu dari KML ini harus diwujudkan dalam tindakan nyata, dengan memastikan setiap Gugus Depan kembali aktif, inovatif, dan menjadi pangkalan pendidikan yang unggul,” katanya.
Pesan tersebut menjadi penegasan bahwa keberhasilan KML tidak hanya diukur dari selesainya proses kursus, tetapi juga dari implementasi nyata setelah peserta kembali ke Gugus Depan masing-masing. Para peserta diharapkan mampu menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL), menempuh masa Narakarya 2, dan melanjutkan proses menuju lisensi formal sebagai Pembina Mahir.
Lebih dari itu, KML ditargetkan melahirkan sosok pembina yang komprehensif: unggul secara pedagogik, mahir secara teknis, dan tertib secara manajerial. Para pembina juga dibekali kepekaan terhadap psikologi remaja agar mampu merancang metode latihan yang interaktif, menantang, serta aman, terutama dalam kegiatan di alam terbuka.
Penguasaan teknik kepramukaan lanjutan menjadi salah satu capaian penting dalam kursus ini. Melalui pendalaman Tekpram, optimalisasi sistem beregu, serta percepatan pencapaian kecakapan seperti SKU, SKK, dan Pramuka Garuda, lulusan KML diproyeksikan menjadi motor penggerak utama pembinaan Pramuka Penggalang di Gugus Depan.
Pelaksanaan KML juga memberi manfaat transformatif bagi para pembina. Pola pembinaan yang sebelumnya berpotensi berjalan sebagai rutinitas diarahkan menjadi proses pendidikan yang lebih hidup, kontekstual, dan bermakna. Pembina dilatih untuk memanfaatkan potensi alam serta lingkungan sekitar sebagai sumber belajar yang kaya, sehingga kegiatan Pramuka tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membentuk kemandirian, ketangguhan, dan karakter peserta didik.
Melalui kegiatan ini, Kwarcab Pasuruan menegaskan komitmennya untuk memperkuat sumber daya Pembina Pramuka sebagai ujung tombak pendidikan karakter. Dengan meningkatnya kompetensi pembina, Gugus Depan diharapkan semakin aktif, administrasi pembinaan semakin tertib, dan pangkalan-pangkalan Pramuka di sekolah mampu berkembang sebagai episentrum pendidikan karakter yang unggul, inklusif, serta berdaya saing.

