Menanam Kesabaran, Memanen Kehidupan: Muchtar Sundono dan Dunia Pertanian

Date:

“Bertani membutuhkan kesabaran, keuletan, kedisiplinan, dan mental yang kuat. Ketika tanah dikelola dengan sungguh-sungguh, ia akan menghasilkan pangan, menggerakkan kehidupan desa, serta menjaga masa depan generasi berikutnya.” — Kak Muchtar Sundono

Angin kencang selalu membawa kecemasan bagi petani, terutama ketika padi mulai menguning dan masa panen tinggal beberapa hari. Tanaman yang dirawat berbulan-bulan dapat roboh dalam waktu singkat. Hujan deras pun tidak selalu menjadi berkah. Air berlebihan bisa merendam sawah, menurunkan kualitas hasil, bahkan mematikan kedelai yang tidak tahan kondisi terlalu basah. Situasi seperti itu bukan hal asing bagi Kak Muchtar Sundono, Kepala Pusdiklatcab Gerakan Pramuka Mojokerto, yang telah menghadapi berbagai risiko pertanian selama puluhan tahun.

Baginya, bertani bukan pekerjaan yang cukup dijalankan dengan tenaga. Pertanian menuntut kesabaran, ketelitian, pengetahuan, dan kesiapan mental menerima kemungkinan terbaik maupun terburuk. Ketika hasil panen menurun, ia tidak berhenti pada kekecewaan. Masalah dipelajari, penyebabnya dicari, lalu langkah berikutnya disiapkan. Sikap sabar, ulet, dan tekun menjadi pegangan untuk menjaga usaha tetap berjalan. Dari setiap kegagalan, ia belajar bahwa petani harus mampu berdamai dengan ketidakpastian tanpa kehilangan semangat untuk kembali menanam pada musim berikutnya dengan keyakinan baru.

Hubungannya dengan pertanian tumbuh sejak masa kanak-kanak. Pada dekade 1970-an, orang tua mulai mengenalkan cara mengolah tanah, menanam, merawat, dan memahami siklus kehidupan sawah. Ia besar di tengah masyarakat yang menggantungkan penghidupan pada padi, jagung, dan kedelai. Lingkungan itu menjadi sekolah pertama. Dari sana, ia memahami bahwa hasil tidak pernah hadir seketika. Benih harus ditanam, dipelihara, dan dilindungi sebelum menghasilkan panen yang memberi kehidupan bagi keluarga serta masyarakat di lingkungan sekitarnya secara nyata dan berkelanjutan.

Pada 1980, pengalaman yang dikumpulkan sejak kecil membawanya memasuki tahap baru. Ia mulai mengelola usaha pertanian secara mandiri. Langkah itu melanjutkan inspirasi serta pendidikan orang tua, sekaligus menjadi bentuk tanggung jawab terhadap masa depan keluarga. Padi, jagung, dan kedelai dipilih karena dekat dengan kebutuhan masyarakat. Ketiganya bukan sekadar komoditas, melainkan sumber pangan dan ekonomi. Melalui tanaman tersebut, ia belajar bahwa bertani berarti menjaga kesinambungan hidup dari musim ke musim dengan kesungguhan, ketekunan, dan kesadaran penuh.

Setiap komoditas membawa tantangan berbeda. Padi menghadapi ancaman hama wereng, angin puting beliung, dan banjir menjelang panen. Kedelai memerlukan pengelolaan air yang lebih cermat karena hujan berlebihan dapat menghambat pertumbuhan bahkan mematikan tanaman. Pengalaman panjang mengajarkannya bahwa pertanian bukan soal menghilangkan semua risiko. Tugas petani ialah mengenali ancaman, memperkecil kerugian, dan menyiapkan langkah penanganan ketika masalah datang. Ketangguhan mental menjadi modal penting untuk tetap berpikir jernih serta mengambil keputusan tepat setiap saat dengan tanggung jawab.

Pengalaman sebagai pelatih memberi pengaruh nyata terhadap cara ia menghadapi persoalan. Dunia kepelatihan membiasakan seseorang menghadapi tekanan, menyusun rencana, membaca keadaan, dan tetap tenang ketika masalah muncul. Saat sawah terserang hama, diterpa angin, atau terendam banjir, mental yang terlatih membantunya menjaga kejernihan berpikir. Tantangan tidak dihindari, tetapi dikelola. Dari sinilah kepemimpinan menemukan bentuk praktis: mengendalikan diri, menentukan prioritas, menggerakkan orang lain, dan mempertahankan semangat sampai solusi ditemukan bersama masyarakat dalam kondisi paling sulit sekalipun bersama.

Usaha pertanian itu tidak berdiri sebagai kegiatan keluarga semata. Di pedesaan, produksi pangan hampir selalu melibatkan banyak orang. Masyarakat sekitar ikut membantu pengolahan lahan, penyemaian, penanaman, perawatan, hingga panen. Ibu-ibu turut terlibat dalam proses penyemaian dan pekerjaan lain yang sesuai. Pelibatan tenaga lokal menciptakan perputaran ekonomi sekaligus memperkuat hubungan sosial. Dari satu lahan, manfaat mengalir kepada banyak keluarga karena pertanian menjadi ruang saling menopang antara pemilik lahan dan masyarakat sekitar secara berkelanjutan dan saling menguatkan.

Nilai kepramukaan menemukan bentuk nyata dalam kehidupan tersebut. Kesungguhan diperlukan untuk menyelesaikan pekerjaan. Kedisiplinan menentukan ketepatan waktu tanam dan perawatan. Keuletan menjaga semangat ketika hasil tidak sesuai harapan. Kepercayaan diri dibutuhkan untuk mengambil keputusan dalam situasi penuh risiko. Dasa Dharma tidak hanya diucapkan dalam upacara. Cinta alam diwujudkan dengan menjaga tanah tetap subur, sedangkan kasih sayang sesama manusia tampak melalui pelibatan masyarakat dan pembagian manfaat ekonomi secara adil bagi semua pihak yang terlibat langsung bersama.

Bagi Muchtar Sundono, pertanian juga berkaitan dengan masa depan. Lahan yang tidak dikelola produktif berisiko beralih fungsi menjadi kawasan pembangunan. Ketika sawah semakin berkurang, produksi pangan ikut terancam. Dampaknya mungkin tidak langsung terasa, tetapi dalam jangka panjang dapat memengaruhi kemandirian masyarakat. Pembangunan memang diperlukan, namun perlindungan terhadap lahan pertanian tidak boleh diabaikan. Tanah yang subur bukan sekadar aset ekonomi, melainkan sumber pangan, pekerjaan, dan keberlanjutan hidup bagi generasi berikutnya di desa maupun bagi Indonesia tercinta.

Pesannya kepada keluarga besar Pramuka sederhana: kembalilah melihat tanah sebagai ruang pengabdian. Pramuka harus hadir sebagai manusia produktif yang mampu menanam, mengelola, dan menjaga sumber kehidupan. Tidak semua orang harus memiliki sawah luas, tetapi setiap orang dapat memulai dari kemampuan yang tersedia. Dari lahan pertanian di Mojokerto, ia menunjukkan bahwa kekuatan petani tumbuh dari kesediaan menanam kembali setelah gagal, bertahan ketika musim tidak berpihak, dan terus menjaga tanah agar tetap menghadirkan harapan bagi sesama manusia. (Rofi’udin)

Pusdatin Kwarda Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


Share post:

Subscribe

Popular

More like this
Related

Perkuat Sinergi, Kwarda Jatim dan KPH Malang Matangkan Rencana Pengembangan Bumi Perkemahan

MALANG – Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur...

KML Kwarcab Pasuruan Siapkan Pembina Penggalang sebagai Motor Penggerak Gugus Depan

PASURUAN, 6 Juli 2026 — Kwartir Cabang Gerakan Pramuka...