BANYUWANGI — Suasana peringatan Hari Santri Nasional menjadi momentum bagi para pendidik anak usia dini untuk memperkuat kebersamaan dan meningkatkan kompetensi pembinaan karakter. Ikatan Guru PAUD Ma’arif (IGPM) Kecamatan Genteng menggelar kegiatan Temu Pembina Prasiaga di Gerbang Raung, Sabtu (24/10/2026), dengan melibatkan kurang dari 120 pendidik PAUD.

Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan para guru untuk mengembangkan kemampuan pembinaan keprasiagaan yang sesuai dengan karakteristik perkembangan anak usia dini. Selain memperkuat kompetensi pedagogis, pertemuan ini diarahkan untuk menanamkan nilai religius, kedisiplinan, kemandirian, dan semangat kebangsaan.

Melalui momentum Hari Santri Nasional, IGPM Genteng berupaya mengintegrasikan nilai pendidikan kepramukaan dengan semangat keagamaan dan keteladanan. Pendekatan tersebut diharapkan mampu memperkuat peran pendidik dalam membentuk karakter anak sejak tahap awal pendidikan.

Sejumlah tokoh organisasi pendidikan dan kepramukaan turut menghadiri kegiatan tersebut. Mereka meliputi Ketua Sakoma Kabupaten Banyuwangi, Ketua Sakoma Kecamatan Genteng, Ketua IGTKI Kecamatan Genteng Rudiyanto, serta Ketua IGPM Kecamatan Genteng Chusnul Chotimah.

Kehadiran berbagai unsur organisasi tersebut mencerminkan perhatian bersama terhadap pentingnya penguatan pendidikan karakter melalui pembinaan keprasiagaan. Pertemuan ini sekaligus menjadi sarana membangun komunikasi dan mempererat hubungan kelembagaan di lingkungan pendidikan Ma’arif.

Penguatan Kompetensi Pembina Prasiaga

Peningkatan kapasitas pendidik menjadi salah satu perhatian utama dalam penyelenggaraan Temu Pembina Prasiaga tersebut. Para pembina diharapkan semakin terampil merancang pengalaman belajar yang menyenangkan, aman, dan relevan dengan tahapan perkembangan peserta didik.

Kemampuan pedagogis menjadi aspek penting karena pembinaan anak usia dini memerlukan pendekatan yang berbeda dengan peserta didik pada jenjang pendidikan lebih tinggi. Setiap aktivitas perlu mempertimbangkan kebutuhan perkembangan, kesiapan emosional, serta kemampuan anak dalam mengikuti proses pembelajaran.

Dalam rumusan capaian kegiatan, pembina diarahkan untuk mengembangkan pembelajaran keprasiagaan yang kolaboratif, adaptif, dan berorientasi pada kebutuhan peserta didik. Pendekatan tersebut juga diharapkan selaras dengan prinsip pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka.

Selain kemampuan merancang kegiatan, keteladanan pendidik menjadi unsur penting dalam pembentukan karakter anak. Pembina diharapkan mampu menghadirkan contoh nyata mengenai kedisiplinan, tanggung jawab, keimanan, dan kecintaan terhadap tanah air.

Penguatan kompetensi kepemimpinan juga menjadi bagian dari sasaran pengembangan kemampuan peserta. Melalui peningkatan kapasitas tersebut, para pendidik diharapkan semakin percaya diri mengelola kegiatan pembinaan yang mendidik sekaligus menyenangkan.

Menanamkan Nilai Keagamaan dan Kebangsaan

Peringatan Hari Santri Nasional memberikan dimensi religius dalam pelaksanaan Temu Pembina Prasiaga IGPM Genteng. Nilai keimanan, akhlak mulia, dan semangat perjuangan ulama menjadi bagian dari pesan pendidikan yang ingin diperkuat melalui kegiatan tersebut.

Pengembangan karakter religius ditempatkan berdampingan dengan penanaman nilai kebangsaan dan nasionalisme. Keduanya dipandang sebagai landasan dalam membentuk generasi yang memiliki kesadaran spiritual, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap bangsa.

Melalui pendekatan keprasiagaan, nilai tersebut diharapkan dapat dikenalkan secara bertahap melalui pengalaman belajar yang dekat dengan kehidupan anak. Pembelajaran yang menyenangkan menjadi salah satu pendekatan untuk membantu peserta didik memahami kebiasaan positif sejak dini.

Bagi anak usia dini, pembinaan keprasiagaan diharapkan mendukung pertumbuhan keberanian, kemandirian, dan kedisiplinan dalam kehidupan sehari-hari. Penguatan karakter tersebut menjadi bagian dari tujuan pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademis.

Penyelenggara juga menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pembelajaran yang aman dan mendukung perkembangan seluruh peserta didik. Dengan demikian, pendidikan karakter dapat berlangsung melalui pengalaman positif dan keteladanan yang konsisten.

Mempererat Solidaritas dan Sinergi Pendidikan Ma’arif

Selain berorientasi pada penguatan kompetensi, Temu Pembina Prasiaga menjadi wadah silaturahmi bagi para pendidik PAUD Ma’arif di Kecamatan Genteng. Pertemuan tersebut diharapkan memperkuat hubungan profesional sekaligus membangun semangat kebersamaan antarguru.

Komunikasi yang terbangun melalui kegiatan bersama dapat menjadi modal penting dalam pengembangan praktik pembelajaran di masing-masing lembaga. Para pendidik diharapkan semakin terbuka untuk saling bertukar pengalaman, pendekatan, dan gagasan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan anak.

Pada tingkat kelembagaan, kegiatan ini diarahkan untuk memperkuat sinergi antarsatuan pendidikan Ma’arif dalam mengembangkan pendidikan karakter. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mendorong keselarasan pembinaan nilai religius, kedisiplinan, dan nasionalisme sejak usia dini.

Penguatan hubungan antarlembaga juga menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan yang saling mendukung. Melalui komunikasi yang berkelanjutan, para pendidik diharapkan mampu mengembangkan pembelajaran yang lebih efektif dan berorientasi pada perkembangan peserta didik.

Membangun Fondasi Karakter Sejak Usia Dini

Temu Pembina Prasiaga IGPM Genteng menempatkan penguatan kapasitas guru sebagai salah satu fondasi penting dalam pendidikan karakter anak. Kemampuan pedagogis, kepemimpinan, dan keteladanan pendidik menjadi sasaran pengembangan yang diharapkan membawa manfaat bagi proses pembelajaran.

Meski belum disertai data evaluasi mengenai perubahan kompetensi peserta maupun perkembangan karakter anak, kegiatan tersebut memiliki arah pembinaan yang jelas. Sasaran yang dirumuskan menekankan peningkatan kualitas pendidik sekaligus penguatan pengalaman belajar yang aman, menyenangkan, dan bermakna.

Melalui peringatan Hari Santri Nasional, IGPM Genteng berharap semangat religiusitas, kebangsaan, dan kebersamaan semakin mengakar dalam praktik pendidikan anak usia dini. Kegiatan ini menjadi bagian dari ikhtiar bersama untuk menyiapkan generasi yang berakhlak mulia, mandiri, disiplin, dan mencintai tanah air.

Pusdatin Kwarda Jatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *