BANYUWANGI, 21 Oktober 2026 — LP Ma’arif PCNU Banyuwangi mengintegrasikan edukasi pencegahan penyalahgunaan narkoba dalam rangkaian Kemah Hari Santri Nasional (HSN) 2026 sebagai upaya memperkuat pendidikan karakter generasi muda. Menggandeng Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Banyuwangi, kegiatan ini diarahkan untuk membangun kesadaran santri terhadap bahaya narkoba sekaligus menanamkan nilai kedisiplinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial melalui pendidikan kepramukaan.

Edukasi tersebut dikemas dalam Workshop Interaktif Anti Narkoba bertema “Khitah Santri, Benteng Moral Bangsa” yang berlangsung di Bumi Perkemahan Bima Sakti, Rabu (21/10/2026), pukul 09.00 WIB. Sebanyak 48 anggota Pramuka Penegak dari delapan lembaga pendidikan mengikuti pembekalan yang disampaikan langsung oleh Kepala BNNK Banyuwangi, Kombes Pol. Rachmat Kurniawan, S.H., S.I.K., M.M.Kehadiran BNNK Banyuwangi memberikan dimensi pembelajaran yang lebih luas dalam pelaksanaan Kemah HSN 2026. Selain menjadi sarana pembinaan keterampilan dan karakter melalui kepramukaan, perkemahan juga dimanfaatkan untuk mengenalkan persoalan sosial yang berkaitan langsung dengan kehidupan remaja, khususnya ancaman penyalahgunaan narkoba.

Melalui pendekatan tersebut, LP Ma’arif PCNU Banyuwangi berupaya menghubungkan nilai-nilai pendidikan pesantren dan madrasah dengan kebutuhan pembinaan generasi muda. Pendidikan karakter tidak hanya diarahkan pada penguasaan pengetahuan dan pembiasaan kedisiplinan, tetapi juga pada kemampuan peserta mengenali risiko, menjaga pergaulan, serta mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Dalam penyampaian materinya, Rachmat Kurniawan menegaskan bahwa santri mempunyai kedudukan strategis dalam menjaga moralitas bangsa. Menurutnya, pesantren dan madrasah merupakan lingkungan pendidikan yang berperan penting dalam membentuk karakter, menanamkan kedisiplinan, serta mempersiapkan generasi muda menghadapi tantangan masa depan.

“Santri itu adalah pilar bangsa karena kita belajar di pesantren. Madrasah adalah penopang moral masa depan, termasuk membentuk kedisiplinan,” ungkapnya di hadapan peserta.

Pesan tersebut menempatkan pendidikan karakter sebagai fondasi penting dalam upaya pencegahan penyalahgunaan narkoba. Santri diharapkan tidak hanya memahami nilai-nilai moral yang diajarkan di lingkungan pendidikan, tetapi juga mampu menerapkannya ketika menghadapi berbagai pengaruh negatif dalam kehidupan sehari-hari.

Rachmat juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan remaja terhadap lingkungan pergaulan. Ia menekankan bahwa ancaman penyalahgunaan narkoba dapat muncul melalui berbagai bentuk sehingga generasi muda perlu memiliki pengetahuan dan kesadaran untuk melindungi dirinya.

“Remaja itu harus waspada pada pergaulan bebas dalam mencegah bahayanya narkoba. Narkoba tidak hanya berbentuk pil, tetapi juga bisa berbentuk makanan,” pesannya.

Peringatan tersebut menjadi bagian penting dari pembekalan karena pencegahan narkoba tidak cukup hanya dilakukan melalui penyampaian informasi. Remaja juga perlu dibiasakan untuk bersikap kritis, memahami konsekuensi suatu tindakan, serta memiliki keberanian menolak perilaku yang dapat membahayakan diri dan masa depannya.

Workshop yang dilaksanakan secara interaktif ini turut menekankan pentingnya membangun kesadaran bersama di lingkungan pendidikan. Salah satu gagasan yang disampaikan adalah Aksi Gema Bersinar, sebuah ajakan untuk menguatkan semangat antinarkoba di lingkungan pesantren dan sekolah Ma’arif.

Ajakan tersebut membawa tiga pesan utama, yakni menjaga diri, menyebarkan kebaikan, dan menguatkan ukhuwah. Ketiganya menjadi nilai yang relevan dengan kehidupan santri sekaligus prinsip pembinaan dalam Gerakan Pramuka.

Menjaga diri menjadi bentuk tanggung jawab pribadi untuk menghindari perilaku berisiko. Menyebarkan kebaikan menekankan pentingnya memberikan pengaruh positif kepada lingkungan sekitar, sedangkan menguatkan ukhuwah mendorong terbentuknya hubungan persaudaraan yang saling mendukung dan mengingatkan.

Integrasi pendidikan antinarkoba dengan kegiatan kepramukaan memiliki nilai strategis karena Pramuka Penegak berada pada fase perkembangan yang menuntut kemandirian, kemampuan mengambil keputusan, serta tanggung jawab sosial. Melalui kegiatan ini, peserta memperoleh pembekalan yang menghubungkan nilai moral dengan persoalan nyata dalam kehidupan remaja.

Keterlibatan 48 Pramuka Penegak dari delapan lembaga pendidikan juga membuka peluang penyebarluasan pesan pencegahan narkoba ke lingkungan sekolah, madrasah, dan pesantren masing-masing. Pengetahuan yang diperoleh diharapkan dapat menjadi bekal bagi peserta untuk membangun kebiasaan positif serta meningkatkan kepedulian terhadap teman sebaya.

Bagi lingkungan pendidikan, kegiatan tersebut memperlihatkan pentingnya kolaborasi antara lembaga pendidikan dan institusi yang memiliki kompetensi dalam pencegahan narkoba. Kehadiran BNNK Banyuwangi memberikan penguatan substansi edukasi, sementara kegiatan kepramukaan menyediakan ruang pembinaan karakter yang dekat dengan pengalaman peserta.

Momentum Hari Santri Nasional 2026 sekaligus menjadi pengingat bahwa kontribusi santri terhadap bangsa tidak hanya diwujudkan melalui pendidikan keagamaan, tetapi juga melalui perilaku yang mencerminkan integritas, kedisiplinan, dan tanggung jawab sosial.

Melalui tema “Khitah Santri, Benteng Moral Bangsa”, kegiatan ini menegaskan pentingnya menjadikan nilai kesantrian sebagai landasan menghadapi tantangan sosial. Penguatan karakter dan kesadaran antinarkoba dipandang sebagai dua aspek yang saling melengkapi dalam mempersiapkan generasi muda yang memiliki ketahanan diri.Semangat tersebut dirangkum dalam pesan “Santri Mulia, Santri Hebat Tanpa Narkoba”, yang mengajak peserta menjadikan kehidupan bebas narkoba sebagai bagian dari komitmen menjaga martabat diri, keluarga, dan lembaga pendidikan.

Melalui kolaborasi dengan BNNK Banyuwangi, LP Ma’arif PCNU Banyuwangi menghadirkan pembelajaran yang mempertemukan pendidikan kepramukaan, nilai kesantrian, dan edukasi pencegahan narkoba. Kegiatan ini diharapkan memberikan manfaat yang berkelanjutan melalui penerapan pesan-pesan positif oleh peserta di lingkungan masing-masing.

“Santri hebat mulai tanpa narkoba,” tegas Rachmat Kurniawan, menutup pesan edukatif yang menempatkan kesadaran pribadi sebagai langkah awal membangun generasi berkarakter, bermoral, dan bertanggung jawab terhadap masa depannya.

Pusdatin Kwarda Jatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *