Jakarta – Kwartir Nasional Gerakan Pramuka bersama Asia-Pacific Region World Organization of the Scout Movement (WOSM) menyelenggarakan Training of Trainers Life Leaders 2026 di Cibubur, Jakarta Timur, pada 26–28 Agustus 2026. Lima perwakilan Pramuka Jawa Timur lolos mengikuti pelatihan tersebut setelah melalui proses kurasi dan seleksi yang menilai rekam jejak pembinaan, kelengkapan administrasi, rekomendasi organisasi, serta komitmen peserta. Mereka adalah Agus Andrianto dari Kwartir Cabang Sidoarjo, Andika Cahyadi dan Restu Anggada Cipta dari Kwartir Cabang Surabaya, Rofi Udin dari Pusdiklatda Jawa Timur, serta Zein Arif Yusuf dari Kwartir Cabang Kediri dalam forum pengembangan kapasitas pembina Pramuka pada tingkat nasional.

Proses menuju forum nasional itu tidak berlangsung sederhana. Setiap calon peserta harus memperoleh surat rekomendasi dari kwartir cabang asal sebelum melanjutkan proses rekomendasi melalui kwartir daerah. Persyaratan tersebut menjadi pintu awal sebelum berkas peserta diproses lebih lanjut. Waktu pendaftaran yang terbatas membuat proses administrasi berlangsung cukup ketat, bahkan Kwartir Nasional sempat memperpanjang masa pendaftaran. Kondisi ini menuntut kesiapan peserta untuk bergerak cepat, berkoordinasi dengan struktur organisasi, serta memastikan seluruh dokumen terpenuhi. Bagi peserta Jawa Timur, tahapan itu menjadi bagian penting sebelum akhirnya dinyatakan dapat mengikuti ToT Life Leaders 2026 di tingkat nasional tertib, lengkap, dan sesuai ketentuan yang ditetapkan.

Selain rekomendasi berjenjang, calon peserta juga diwajibkan menyiapkan portofolio pengalaman membina, sertifikat Safe from Harm 3, serta surat pernyataan minat dan komitmen. Rangkaian persyaratan ini menunjukkan bahwa proses seleksi tidak hanya bertumpu pada kelengkapan administrasi, tetapi juga memperhatikan pengalaman lapangan dan kesungguhan peserta. Portofolio membina menjadi cermin keterlibatan mereka dalam proses pendidikan kepramukaan, sementara surat komitmen menegaskan kesiapan mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Dengan demikian, peserta yang terpilih tidak sekadar hadir sebagai utusan daerah, tetapi membawa rekam jejak, tanggung jawab, dan kesiapan untuk mengembangkan hasil pelatihan setelah kembali ke lingkungan pembinaan masing-masing secara konsisten, terarah, dan berkelanjutan di daerah setempat.

Lima peserta asal Jawa Timur datang dari latar wilayah dan unsur organisasi yang berbeda. Agus Andrianto berasal dari Kwartir Cabang Sidoarjo, Andika Cahyadi dan Restu Anggada Cipta dari Kwartir Cabang Surabaya, Zein Arif Yusuf dari Kwartir Cabang Kediri, sementara Rofi Udin berasal dari Pusdiklatda Jawa Timur. Komposisi ini menghadirkan representasi yang tersebar dan tidak terpusat pada satu wilayah. Kehadiran mereka dalam satu forum nasional menunjukkan adanya ruang pertemuan antara pengalaman pembinaan di tingkat cabang dan daerah. Lima peserta tersebut kemudian disebut sebagai “Pandawa Pramuka Jawa Timur”, menggambarkan lima figur yang membawa pengalaman berbeda menuju agenda yang sama secara nasional.

Keikutsertaan lima wakil Jawa Timur memiliki nilai strategis karena ToT Life Leaders mempertemukan pengalaman pembinaan dari berbagai daerah dalam satu ruang pengembangan kapasitas. Setiap peserta datang membawa konteks, praktik, dan pengalaman organisasi dari lingkungan masing-masing. Pertemuan tersebut membuka peluang pertukaran perspektif sekaligus memperluas cara pandang terhadap tantangan pembinaan. Nilai kegiatan karena itu tidak hanya berada pada proses belajar selama beberapa hari di Cibubur, tetapi juga pada peluang transfer pengalaman setelah peserta kembali. Dalam konteks tersebut, hasil pelatihan menjadi penting ketika mampu diterjemahkan menjadi penguatan pembinaan, pengembangan kapasitas, dan praktik yang relevan di daerah masing-masing secara lebih luas dan berkelanjutan.

Bagi kelima peserta, keberhasilan lolos seleksi sekaligus membawa tanggung jawab setelah kegiatan berakhir. Surat pernyataan minat dan komitmen yang menjadi salah satu syarat seleksi menegaskan bahwa keikutsertaan tidak berhenti pada kehadiran dalam pelatihan. Pengalaman, pengetahuan, dan perspektif yang diperoleh perlu memiliki relevansi bagi lingkungan pembinaan masing-masing. Karena itu, keberangkatan ke Cibubur tidak semata menjadi pencapaian personal. Mereka membawa nama kwartir, wilayah, dan lingkungan pelatihan yang telah memberikan rekomendasi serta kepercayaan. Ukuran penting dari proses ini terletak pada sejauh mana hasil pelatihan dapat dikembangkan kembali menjadi kontribusi nyata bagi pembinaan di daerah secara terukur, relevan, konsisten, dan berkelanjutan setelah kegiatan.

Keberangkatan lima Pramuka Jawa Timur ke ToT Life Leaders 2026 pada akhirnya menjadi cerita tentang rekam jejak, kesiapan, dan komitmen. Dari rekomendasi kwartir cabang dan kwartir daerah, portofolio membina, sertifikat Safe from Harm 3, hingga surat pernyataan minat dan komitmen, seluruh tahapan menjadi bagian dari perjalanan menuju forum nasional. Kini, lima peserta membawa pengalaman daerah masing-masing ke Cibubur untuk mengikuti proses pengembangan kapasitas bersama.

Tantangan berikutnya bukan hanya menyelesaikan pelatihan, tetapi memastikan pengalaman yang diperoleh dapat kembali memberi nilai bagi lingkungan pembinaan. Dari proses seleksi menuju pengabdian, mereka membawa semangat untuk belajar dan memberi dampak secara nyata dan berkelanjutan.

Pusdatin Kwarda Jatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *