JAKARTA — Sebanyak 30 peserta dari kwartir daerah se-Indonesia mengikuti LifeLeaders Training 2026: Be Indonesia Scout Impact Innovators for Earth yang berlangsung pada 26–28 Agustus 2026 di Aula Pelatihan Taman Wiladatika, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Kegiatan ini membawa pesan kuat bahwa Gerakan Pramuka tidak cukup hanya besar dalam jumlah, tetapi juga perlu mampu menghadirkan dampak nyata, terukur, terdokumentasi, dan terhubung dengan agenda pembangunan berkelanjutan dunia.
LifeLeaders Training ditempatkan dalam kerangka besar Scouts for SDGs, bagian dari komitmen World Organization of the Scout Movement atau WOSM untuk memperkuat kontribusi gerakan kepanduan terhadap Sustainable Development Goals (SDGs).
Melalui pelatihan ini, para peserta tidak hanya diperkuat dalam aspek kepemimpinan, tetapi juga didorong untuk mampu membaca persoalan, menemukan kebutuhan nyata, merancang solusi, menggerakkan orang lain, serta menghasilkan perubahan yang memberi manfaat bagi masyarakat dan lingkungan.
Wakil Ketua Kwartir Nasional Bidang Kerja Sama Dalam Negeri dan Luar Negeri, Mayjen TNI (Purn) Toto Siswanto, S.IP., M.M., menegaskan bahwa Scouts for SDGs menjadi kerangka penting untuk melihat kontribusi Gerakan Pramuka dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
“Kerangka besar LifeLeader adalah Scouts for SDGs. Sejak 2015, semua negara tanpa kecuali bergerak menyelenggarakan SDGs ini, pada aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan. Targetnya adalah agar dunia menjadi lebih baik, better world,” ujar Toto Siswanto.
Ia juga menyoroti posisi strategis Indonesia sebagai negara dengan jumlah anggota Pramuka yang sangat besar. Besarnya jumlah tersebut, menurutnya, perlu diikuti kemampuan untuk menunjukkan kualitas kontribusi yang diberikan.
“Indonesia memiliki jumlah anggota Pramuka terbanyak di dunia. Isu service hour atau jam bakti menjadi hal yang perlu diatensi, karena semua aktivitas perlu untuk dicatat dan didokumentasikan dengan tertib,” katanya.
Pernyataan tersebut menjadi salah satu pesan penting LifeLeaders Training 2026. Aktivitas pengabdian yang dilakukan anggota Pramuka perlu semakin dipahami bukan sekadar sebagai rangkaian kegiatan, tetapi sebagai kontribusi yang harus mampu dilihat dampaknya.
Karena itu, service hours atau jam bakti menjadi bagian yang perlu mendapatkan perhatian. Setiap kegiatan pelayanan masyarakat, aksi lingkungan, maupun bentuk pengabdian lainnya perlu terdokumentasi dengan baik dan dihubungkan dengan ekosistem WOSM.
Dalam konteks tersebut, peserta LifeLeaders diharapkan memahami bagaimana kegiatan kepramukaan dapat dikaitkan dengan SDGs, sekaligus bagaimana kontribusi tersebut dapat dicatat sebagai service hours. Dengan demikian, aktivitas yang dilakukan anggota Pramuka tidak hanya berlangsung di lapangan, tetapi juga dapat menjadi rekam jejak kontribusi terhadap gerakan global untuk dunia yang lebih baik.
WOSM saat ini menempatkan berbagai inisiatif pendidikannya dalam empat area dampak utama. Pertama, Environment and Sustainability, yang berfokus pada perubahan iklim, perlindungan alam, biodiversitas, konsumsi berkelanjutan, energi bersih, serta berbagai aksi lingkungan. Salah satu inisiatif yang berada dalam area ini adalah Earth Tribe.
Kedua, Peace and Community Engagement, yang mencakup perdamaian, dialog, toleransi, inklusi, pelayanan masyarakat, kemanusiaan, serta keterlibatan warga. Salah satu inisiatif yang dikenal luas dalam area tersebut adalah Messengers of Peace.
Ketiga, Life Skills, yang berfokus pada pengembangan kepemimpinan, kemampuan memecahkan masalah, kreativitas, resiliensi, kolaborasi, serta kemampuan mengambil keputusan. LifeLeaders berada pada ruang ini dengan mendorong peserta berkembang menjadi pemimpin yang kuat, kreatif, sekaligus memiliki empati.
Keempat, Health and Well-being, yang menitikberatkan pada kesehatan fisik, mental, sosial, pola hidup sehat, serta ketangguhan individu maupun komunitas. Salah satu inisiatif yang dikembangkan dalam area ini adalah HealthAllies.
Keempat area tersebut memperlihatkan bahwa kepramukaan mempunyai ruang kontribusi yang sangat luas: menjaga bumi, membangun masyarakat yang damai, mengembangkan kapasitas manusia, serta memperkuat kesejahteraan individu dan komunitas.
LifeLeaders Training kemudian menjadi salah satu ruang untuk menjembatani semua gagasan tersebut ke dalam kepemimpinan yang berorientasi pada dampak.
Salah satu ide strategis yang berkembang adalah memperluas metodologi LifeLeaders melalui pusat pendidikan dan pelatihan atau pusdik. Para pelatih dinilai memiliki posisi penting karena menjadi salah satu penggerak utama proses pendidikan kepramukaan.
Jika metodologi LifeLeaders dapat didiseminasikan kepada para pelatih, gagasan mengenai kepemimpinan berdampak, Scouts for SDGs, dan pencatatan service hours berpotensi menjangkau lebih banyak pembina serta anggota Pramuka di berbagai daerah. Efek berlipat inilah yang menjadi salah satu potensi terbesar dari kegiatan tersebut.
Para peserta LifeLeaders tidak lagi hanya dipandang sebagai peserta pelatihan, melainkan sebagai aset kwartir dan pembawa gagasan perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka diharapkan mampu membawa kembali metodologi yang diperoleh, menyesuaikannya dengan kebutuhan daerah, dan mendorong lahirnya kegiatan kepramukaan yang semakin relevan dengan persoalan masyarakat.
Dukungan Kwartir Nasional menjadi penting untuk menyambungkan spirit LifeLeaders tersebut dengan jaringan pusdik. Dengan pola itu, hasil pelatihan tidak berhenti pada 30 orang yang mengikuti kegiatan, tetapi dapat berkembang melalui proses pendidikan, pelatihan, pembinaan, dan aktivitas kepramukaan di berbagai wilayah Indonesia.
LifeLeaders Training 2026 pada akhirnya membawa satu pesan mendasar: besarnya Gerakan Pramuka perlu diterjemahkan menjadi besarnya manfaat.
Bukan hanya seberapa banyak kegiatan diselenggarakan, tetapi seberapa jauh kegiatan tersebut mampu menyelesaikan persoalan, membantu masyarakat, menjaga lingkungan, mengembangkan kapasitas kaum muda, dan meninggalkan jejak dampak yang dapat dipertanggungjawabkan.
Dari Taman Wiladatika, 30 peserta membawa spirit yang sama ke daerah masing-masing: menjadikan kepemimpinan Pramuka sebagai kekuatan untuk menghasilkan dampak, dan menjadikan setiap aksi sebagai bagian dari ikhtiar bersama mewujudkan dunia yang lebih baik.
Pusdatin Kwarda Jatim