Pramuka SMAN 1 Kenduruan Gudep 10.059/10.060 kembali menunjukkan komitmennya terhadap lingkungan melalui pelaksanaan Challenge 3 bertema “Gudep Tanpa Sampah”. Tantangan ini menjadi rangkaian penting yang menegaskan tekad gudep dalam menciptakan sekolah yang lebih bersih dan bertanggung jawab terhadap pengelolaan sampah. Seluruh kegiatan dilaksanakan di lingkungan sekolah dan diikuti oleh seluruh anggota yang terlibat dalam program aksi lingkungan tahun ini.
Kegiatan diawali dengan gerakan bersih-bersih menyeluruh, terutama di area kantin sekolah yang merupakan titik paling rawan sampah. Para anggota menyisir setiap sudut, memungut sampah yang berserakan, sekaligus memisahkan langsung sampah organik dan anorganik ke dalam wadah terpisah. Langkah ini dilakukan untuk menekankan pentingnya pemilahan sebagai dasar pengelolaan sampah yang benar sejak dari sumbernya.
Sampah organik yang terkumpul kemudian diolah menjadi kompos. Daun kering, rumput, dan sisa makanan dicacah lalu dimasukkan ke dalam keranjang komposter. Setiap lapisan disusun rapi, disiram sedikit air, diberi campuran tanah, dan ditutup agar proses pengomposan berjalan optimal. Kegiatan ini memberikan pengalaman praktis mengenai bagaimana limbah organik dapat diubah menjadi sumber daya baru yang bermanfaat untuk tanaman sekolah.
Pada hari berikutnya, anggota Pramuka menempelkan tulisan “Organik” dan “Anorganik” pada seluruh tempat sampah sekolah. Langkah sederhana ini menjadi penanda penting agar seluruh warga sekolah mengetahui lokasi pemilahan sampah dengan jelas. Aksi ini sekaligus menyampaikan pesan bahwa kebersihan sekolah adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya petugas kebersihan atau anggota Pramuka.
Kegiatan berlanjut dengan kampanye langsung anti sampah yang dilakukan dengan mendatangi titik-titik rawan seperti kantin, taman, dan depan kelas. Para anggota memberikan edukasi ramah kepada siswa yang kedapatan hampir salah membuang sampah. Selain itu, mereka sendiri turut memungut sampah sambil memberi contoh nyata bahwa perubahan dapat dimulai dari tindakan kecil namun konsisten.
Upaya pengurangan sampah plastik juga dilakukan melalui gerakan membawa wadah makan dan minum dari rumah. Saat membeli jajanan di kantin, anggota Pramuka menggunakan wadah pribadi tanpa meminta plastik sekali pakai. Penjual kantin mendukung penuh kegiatan ini, bahkan beberapa siswa lain mulai ikut membawa wadah sendiri di hari berikutnya. Kebiasaan kecil ini memberikan dampak besar dalam mengurangi volume sampah harian sekolah.
Inovasi berikutnya adalah membuat pot gantung dari botol bekas. Botol dipotong, dibersihkan, diberi lubang tali, lalu diisi media tanam sebelum digantung di area yang terlihat kosong. Selain mengurangi sampah plastik, kegiatan ini mempercantik lingkungan sekolah dan menunjukkan bahwa kreativitas bisa menjadi solusi dalam pengelolaan sampah. Pot botol ini juga menjadi simbol bahwa barang bekas masih memiliki nilai bila diolah dengan cara yang tepat.
Challenge 3 ditutup dengan pembuatan eco-enzim menggunakan kulit buah, gula, dan air. Kulit buah yang berasal dari kegiatan konsumsi sehat anggota tidak dibuang, tetapi dimanfaatkan sebagai bahan utama fermentasi. Seluruh bahan dimasukkan ke botol besar dan disimpan selama tiga bulan untuk menjadi cairan pembersih ramah lingkungan. Kegiatan penutup ini mengajarkan bahwa sampah organik memiliki banyak potensi jika diolah dengan bijak.
Melalui seluruh rangkaian Challenge 3 ini, Pramuka SMAN 1 Kenduruan membuktikan bahwa menuju sekolah nol sampah bukan sekadar wacana, tetapi dapat diwujudkan melalui aksi nyata, kreativitas, dan kebiasaan baru yang konsisten. Tantangan ini menjadi bukti bahwa perubahan lingkungan yang lebih baik selalu dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan bersama.
Penulis: Gea Alvia Fadhila
