Blitar — Setelah vakum selama beberapa tahun sejak terakhir digelar pada 2019 sebelum masa pandemi, Gerak Jalan Tradisional Bakung–Lodoyo kembali diselenggarakan pada akhir tahun 2025. Kegiatan ini berlangsung pada Jumat malam, 12 Desember 2025, sebagai upaya melestarikan tradisi sekaligus memperkuat ingatan sejarah perjuangan di wilayah Blitar Selatan.
Gerak jalan dimulai dari Monumen Trisula, Desa Bakung, Kecamatan Bakung, dan berakhir di Alun-Alun Lodoyo, Kecamatan Sutojayan, Kabupaten Blitar. Rute ini dipilih karena memiliki nilai historis yang kuat dan menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Kabupaten Blitar, khususnya di wilayah selatan.
Kegiatan tahunan ini diikuti oleh 60 pleton Pramuka Penegak yang berasal dari berbagai Gugus Depan, Satuan Karya, serta Dewan Kerja Ranting se-Blitar Raya. Selain menjadi ajang kebersamaan, gerak jalan ini juga dimaknai sebagai sarana napak tilas sejarah dan media pembelajaran di luar kelas yang menanamkan nilai nasionalisme, disiplin, serta semangat kebangsaan kepada para peserta.
Pelepasan peserta dilakukan secara resmi oleh Bupati Blitar Rijanto Selaku Kamabicab bersama jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) dari Lapangan Trisula Desa Bakung pada Jumat malam, 12 Desember 2025. Kegiatan ini terselenggara melalui sinergi antara Pemerintah Kabupaten Blitar dengan Gerakan Pramuka Kwartir Cabang Kabupaten Blitar yang bertindak sebagai panitia pelaksana.
Para peserta menempuh jarak kurang lebih sekitar 35 kilometer dengan berjalan kaki sepanjang malam hingga mencapai garis akhir di kawasan Alon – Alon Lodoyo. Rute Bakung–Lodoyo dipilih karena memiliki nilai historis yang kuat dan menjadi bagian penting dari perjalanan sejarah Kabupaten Blitar, khususnya di wilayah selatan.
Bupati Blitar Rijanto menjelaskan bahwa pemilihan rute tersebut berkaitan erat dengan peristiwa Operasi Trisula pada tahun 1968 Blitar Selatan yang berakhir di Wilayah Bakung dan dibangunnya monumen peringatan yang kini dikenal sebagai lokasi Monumen Trisula. Oleh karena itu, gerak jalan ini dimaksudkan sebagai bentuk napak tilas atas perjuangan yang pernah terjadi di kawasan tersebut.
Melalui kegiatan ini, Rijanto berharap para peserta tidak hanya terlatih secara fisik, tetapi juga memiliki pemahaman sejarah serta karakter yang kuat. Ia menegaskan pentingnya melestarikan Gerak Jalan Tradisional Bakung–Lodoyo sebagai agenda rutin daerah guna menumbuhkan generasi muda yang tangguh, berjiwa kebangsaan, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
Penulis: Fajar Rohmatul Iman