KEDIRI — Minggu (30/11/2025), pemandangan unik dan penuh warna menghiasi area pangkalan SMPN 4 Kota Kediri. Hari ini menjadi momen puncak bagi anggota Gerakan Pramuka SMPN 4 Kota Kediri yang resmi menuntaskan 3 challenge Lomba Iklim Gugus Depan (Gudep) Jawa Timur 2025 yang diselenggarakan Kwarda Jatim.
Perubahan iklim (climate change) bukan lagi sekadar isu di berita internasional, melainkan ancaman nyata yang mulai dirasakan dampaknya di lingkungan sekitar, seperti cuaca ekstrem dan kenaikan suhu udara. Menyadari hal ini, Gerakan Pramuka SMP Negeri 4 Kota Kediri (Spipat) mengambil langkah progresif melalui partisipasi mereka dalam Lomba Iklim Gugus Depan Jatim 2025.
Aksi kreatif hari ini didasari oleh keprihatinan terhadap dampak negatif sampah plastik yang tidak terkelola. Botol plastik adalah material yang sulit terurai dan membutuhkan waktu hingga ratusan tahun untuk hancur di alam. Jika dibiarkan begitu saja, sampah ini akan menumpuk di tempat pembuangan akhir (TPA), mencemari tanah, hingga menyumbat saluran air yang bisa memicu banjir. Oleh karena itu, pada puncak momen Iklim Gudep kali ini Pramuka Spipat memilih untuk memutus mata rantai masalah tersebut dengan cara memanfaatkannya kembali melalui aksi berkreasi menggunakan limbah botol plastik.
Suasana pangkalan terasa hidup ketika tangan-tangan terampil anggota Pramuka mulai asyik memotong dan membentuk botol-botol tersebut. Gelak tawa dan diskusi seru terdengar di sela-sela kegiatan, menunjukkan betapa antusiasnya mereka dalam menciptakan sesuatu yang baru dari barang yang dianggap sampah. “Kegiatan ini membuat anak-anak Pramuka Spipat lebih kompak dan kreatif dalam mengolah sampah di lingkungan sekolah,” ujar Kak Sugeng selaku pembina Pramuka pangkalan SMPN 4 Kota Kediri.
Lebih jauh lagi, kegiatan ini membawa dampak positif bagi lingkungan dan karakter siswa. Dari sisi lingkungan, beban sampah plastik sekolah menjadi berkurang drastis. Sementara bagi siswa, kegiatan ini melatih kreativitas serta kepedulian terhadap lingkungan. Mereka belajar bahwa menjaga bumi tidak hanya soal teori, tetapi bisa dilakukan dengan cara asyik: mengubah barang yang dibuang menjadi barang yang disayang. Menurut anggota Pramuka Spipat, aksi nyata ini juga harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya saat kegiatan lomba, dan diharapkan menjadi inspirasi bagi siswa lain di Kota Kediri untuk mulai melihat sampah bukan sebagai masalah, melainkan peluang untuk berkarya demi bumi yang lebih hijau dan lestari.
Aksi Spipat Scouting ini dilakukan selama 21 hari, mulai tanggal 10 sampai 30 November 2025, didokumentasikan dan dipublikasikan melalui akun Instagram anggota Pramuka Spipat, yaitu “spipat_scout”.
Penulis: Himmatul Lathifah
