JAKARTA — Ketua Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur, Kak H. M. Arum Sabil, S.P., S.H., M.KL., menilai warisan pemikiran Sri Sultan Hamengku Buwono IX tidak cukup hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah Gerakan Pramuka. Nilai pengabdian, keberpihakan kepada masyarakat, dan keberanian melakukan pembaruan harus terus dihidupkan melalui kerja nyata Pramuka di tengah masyarakat.
Semangat tersebut mengemuka seiring peluncuran buku “Takhta, Darma, & Karsa: Pemikiran, Karya, dan Keteladanan Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX” di Auditorium Sukarman, Lantai 2, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Jakarta, Kamis (13/8/2026).
Bagi Kak Arum Sabil, gagasan besar Sri Sultan HB IX tentang Pramuka sebagai kekuatan pendidikan dan pengabdian masyarakat memiliki relevansi yang sangat kuat dengan tantangan Indonesia saat ini.
“Pramuka harus terus bergerak mengikuti perkembangan zaman. Nilai pengabdian yang diwariskan Sri Sultan HB IX harus kita terjemahkan menjadi karya nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” demikian semangat yang menjadi pijakan gerakan Pramuka Jawa Timur di bawah kepemimpinannya.
Kak Arum Sabil melihat trilogi Takhta, Darma, dan Karsa yang menjadi gagasan utama buku tersebut bukan sekadar konsep filosofis. Ketiganya merupakan nilai yang dapat menjadi pedoman bagi setiap anggota Pramuka dalam menjalankan pengabdian.
Takhta merupakan kekuasaan atau amanah, darma adalah pengabdian, sementara karsa merupakan kehendak luhur yang menggerakkan keduanya untuk kepentingan masyarakat dan bangsa.
Dalam konteks Gerakan Pramuka, menurut Kak Arum Sabil, kekuatan organisasi tidak boleh berhenti pada simbol, seragam, maupun kegiatan seremonial. Kekuatan sesungguhnya terletak pada kemampuan anggota Pramuka menghadirkan solusi dan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Pandangan tersebut sejalan dengan gagasan Sri Sultan HB IX yang pada 1971 menyampaikan pidato “Scout Action for Community Development” di Tokyo. Dalam gagasannya, Sri Sultan mendorong kepanduan agar tidak hanya berkutat pada kegiatan petualangan, tetapi bergerak menjadi kekuatan pembangunan masyarakat.
Gagasan tersebut kemudian mendapat pengakuan internasional melalui penganugerahan Bronze Wolf Award kepada Sri Sultan HB IX pada 1973.
Semangat itu kini terus dihidupkan di Jawa Timur.
Di bawah kepemimpinan Kak Arum Sabil, Kwarda Jawa Timur mendorong transformasi gerakan Pramuka menjadi gerakan yang produktif dan berdampak. Pramuka diarahkan untuk tidak hanya menjadi peserta kegiatan, tetapi menjadi pelaku perubahan di tengah masyarakat.
Orientasi tersebut tercermin dalam berbagai agenda Kwarda Jawa Timur yang menyentuh kebutuhan masyarakat, mulai dari ketahanan pangan, pemberdayaan ekonomi, pembangunan rumah layak huni, pengabdian sosial, hingga penguatan kapasitas generasi muda.
Bagi Kak Arum Sabil, pendekatan tersebut merupakan bentuk aktualisasi darma dalam kehidupan Pramuka masa kini.
“Yang kita warisi dari para pendahulu bukan hanya nama besar dan sejarahnya, tetapi nilai perjuangannya. Tugas kita adalah meneruskan nilai itu dalam bentuk tindakan yang sesuai dengan kebutuhan zaman,” menjadi pesan penting dalam semangat pengembangan Pramuka Jawa Timur.
Karena itu, peluncuran buku Takhta, Darma, & Karsa dipandang Arum Sabil sebagai momentum refleksi bagi seluruh jajaran Gerakan Pramuka. Buku tersebut mengingatkan bahwa Sri Sultan HB IX tidak membangun Pramuka hanya sebagai organisasi kepanduan, tetapi sebagai instrumen pembentukan manusia yang memiliki karakter, kepedulian, dan keberanian untuk mengabdi.
Dari Takhta untuk Rakyat, dari Pramuka untuk Masyarakat
Filosofi “Takhta untuk Rakyat” yang diwariskan Sri Sultan HB IX juga menemukan relevansinya dengan semangat pengabdian Pramuka Jawa Timur.
Ketua Kwarda DIY GKR Hayu dalam peluncuran buku tersebut menegaskan bahwa kekuasaan atau takhta sejatinya merupakan instrumen pengabdian (darma) yang digerakkan oleh kehendak luhur (karsa) demi kesejahteraan masyarakat dan kedaulatan bangsa.
Nilai tersebut, menurut Kak Arum Sabil, sangat penting ditanamkan kepada generasi muda di tengah perubahan sosial yang semakin cepat.
Pramuka harus menjadi ruang pendidikan yang melatih anak muda untuk memiliki kepedulian, ketangguhan, kepemimpinan, sekaligus kesediaan untuk bekerja bagi kepentingan orang lain.
“Pramuka jangan hanya bertanya apa yang bisa kita dapatkan, tetapi apa yang bisa kita berikan. Di situlah hakikat darma dan karsa,” menjadi spirit yang relevan dengan arah gerakan Pramuka Jawa Timur.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI Prof. Dr. Abdul Mu’ti yang hadir sebagai pembicara kunci juga menyoroti pentingnya buku tersebut sebagai rujukan pendidikan karakter dan integrasi kepramukaan berbasis sekolah.
Menurutnya, keimanan kepada Tuhan menjadi salah satu karakter penting yang membedakan Pramuka Indonesia dengan kepanduan lainnya dan tercermin dalam Dasa Darma.
Sementara itu, Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Kak Budi Waseso memberikan apresiasi atas penerbitan buku tersebut. Ia menegaskan bahwa Pramuka tidak boleh berhenti pada simbol, tetapi harus tetap dekat dengan masyarakat dan memberikan manfaat nyata bagi bangsa dan negara.
Pesan tersebut menjadi semakin penting bagi Kak Arum Sabil. Menurutnya, perkembangan zaman justru menuntut Pramuka semakin adaptif tanpa kehilangan jati dirinya.
Warisan Sri Sultan HB IX, kata dia, harus menjadi energi untuk melahirkan generasi yang mampu menghadapi perubahan, tetapi tetap memiliki karakter dan kepedulian sosial.
“Api karsa dan api pengabdian harus terus menyala. Jangan sampai Pramuka hanya menjadi cerita masa lalu. Pramuka harus menjadi bagian dari solusi masa depan,” menjadi semangat yang terus dikembangkan Kwarda Jawa Timur.
Menjaga Api Pengabdian
Peluncuran buku tersebut juga ditandai dengan rencana Yayasan Tunas Bakti Indonesia Emas membentuk “Bapak Pramuka Indonesia Fellowship” yang ditargetkan diluncurkan pada 12 April 2027. Fellowship tersebut diharapkan menjadi wadah pelestarian nilai keteladanan, darma, dan karsa Sri Sultan HB IX.
Bagi Kak Arum Sabil, upaya tersebut penting agar generasi muda tidak hanya mengenal Sri Sultan HB IX sebagai tokoh sejarah, tetapi memahami gagasan dan nilai perjuangannya.
Sebab, tantangan generasi muda saat ini berbeda dengan masa Sri Sultan HB IX. Namun, nilai dasarnya tetap sama: keberanian mengambil tanggung jawab, ketulusan mengabdi, dan keberpihakan kepada kepentingan masyarakat.
Karena itu, semangat Sri Sultan HB IX akan terus relevan selama Pramuka mampu menerjemahkannya dalam tindakan.
Dari takhta lahir tanggung jawab. Dari darma lahir pengabdian. Dan dari karsa lahir keberanian untuk bergerak. Semangat itulah yang kini ingin terus dinyalakan Kak Arum Sabil bersama Gerakan Pramuka Jawa Timur.
Pusdatin Kwarda Jatim

