JAKARTA — Kwartir Nasional Gerakan Pramuka bersama Asia-Pacific Region World Organization of the Scout Movement (WOSM) menuntaskan Training of Trainers (ToT) LifeLeaders tingkat nasional 2026 pada Jumat, 28 Agustus 2026, di Taman Wiladatika, Cibubur, Jakarta. Kegiatan yang diikuti para utusan kwartir daerah dari berbagai wilayah Indonesia itu diarahkan untuk memperkuat kapasitas Pramuka dalam merancang aksi sosial dan kebumian yang relevan, kolaboratif, serta mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
LifeLeaders tahun ini memberikan perhatian khusus pada isu kebumian, yang menjadi salah satu bagian penting dalam Better World Framework Programme melalui Earth Tribe. Fokus tersebut memperkuat peran Pramuka agar semakin terlibat dalam upaya penyelesaian berbagai persoalan yang berkaitan dengan bumi, lingkungan, dan kehidupan masyarakat melalui pendekatan yang terstruktur dan partisipatif.
Kolaborasi Kwartir Nasional Gerakan Pramuka dan Asia-Pacific Region WOSM tersebut menjadi bagian dari komitmen bersama untuk creating a better world. Melalui LifeLeaders, peserta didorong tidak hanya mengenali persoalan yang ada di lingkungannya, tetapi juga terlibat bersama masyarakat dalam menemukan dan mengembangkan solusi yang sesuai dengan kebutuhan nyata di lapangan.
Salah satu penguatan utama selama pelatihan adalah penguasaan metodologi design thinking. Para peserta mengikuti proses pembelajaran yang dipandu fasilitator profesional bersama Koordinator Nasional LifeLeaders Indonesia. Metodologi tersebut digunakan sebagai kerangka untuk mengeksplorasi permasalahan, mengembangkan gagasan, menguji kemungkinan solusi, hingga menghasilkan prototipe yang dapat divalidasi sebelum diterapkan.
Pendekatan tersebut menempatkan keterlibatan banyak pihak sebagai unsur penting dalam proses pemecahan masalah. Peserta tidak diarahkan untuk langsung menentukan jawaban atas suatu persoalan, melainkan menjalani tahapan untuk memahami masalah, mengeksplorasi berbagai kemungkinan pemecahan, mengembangkan solusi, mengujinya, serta memperoleh umpan balik sebagai bagian dari proses validasi.
Kata kunci yang ditekankan dalam proses itu adalah inovasi. Creative thinking digunakan sebagai motor untuk membuka kemungkinan lahirnya berbagai alternatif solusi, sementara design thinking membantu peserta membawa gagasan tersebut melalui proses yang lebih terstruktur, mulai dari eksplorasi masalah hingga pengujian dan validasi solusi.
Selama pelatihan, seluruh peserta terlibat aktif dalam setiap tahapan. Mereka berlatih menemukan persoalan, mengeksplorasi berbagai dimensinya, memetakan kemungkinan penyelesaian, hingga menyusun prototipe solusi. Peserta mengikuti proses tersebut secara langsung sehingga memahami bahwa solusi yang kuat tidak lahir hanya dari asumsi, tetapi melalui proses penggalian, pengujian, dan validasi bersama pihak-pihak yang berkaitan dengan persoalan.
Koordinator Nasional LifeLeaders Indonesia, Kak Yesika, menyampaikan apresiasi terhadap capaian peserta selama pelatihan. Menurutnya, keterlibatan aktif dan kemampuan peserta membangun kolaborasi menjadi modal penting dalam membawa semangat LifeLeaders ke berbagai daerah.
“Kami puas atas semua capaian yang telah ditunjukkan seluruh peserta. Keaktifan dan sikap kolaboratif yang telah diperlihatkan membuat kami yakin bahwa misi besar untuk memberikan dampak baik dapat diraih,” kata Kak Yesika.
Setelah menyelesaikan ToT tingkat nasional tersebut, para peserta yang merupakan duta kwartir daerah membawa tanggung jawab untuk meneruskan pengetahuan, metodologi, dan pengalaman yang diperoleh kepada lingkungan kepramukaan di daerah masing-masing. Para peserta juga memperoleh rekognisi dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka berupa badge LifeLeaders.
LifeLeaders memiliki salah satu tujuan besar untuk semakin memperkuat keterhubungan Gerakan Pramuka dengan gagasan menjadi bagian dari warga dunia. Berbagai aktivitas kepramukaan didorong untuk tersambung dengan Better World Framework Programme serta 17 isu besar dalam Scouts for SDGs.
Dalam konteks pelaksanaan tahun ini, perhatian terhadap isu kebumian melalui Earth Tribe mempertegas bahwa aksi Pramuka diharapkan semakin dekat dengan persoalan nyata yang berkaitan dengan lingkungan dan kehidupan masyarakat. Kerangka tersebut menjadi jalur bagi peserta untuk menghubungkan proses pembelajaran LifeLeaders dengan aksi yang memiliki relevansi lebih luas dalam upaya mewujudkan dunia yang lebih baik.
Rangkaian Training of Trainers LifeLeaders tingkat nasional 2026 ditutup di aula training Taman Wiladatika, Cibubur, Jakarta, oleh Wakil Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, Mayor Jenderal TNI (Purn.) Toto Siswanto, S.I.P., M.M.Dalam penutupan, Toto mengapresiasi keaktifan serta interaksi peserta selama kegiatan yang dipandu para fasilitator. Namun, ia menekankan bahwa selesainya pelatihan bukan merupakan akhir dari proses.
Pesan utama yang disampaikan kepada seluruh peserta adalah pertanyaan mengenai langkah yang akan dilakukan setelah pelatihan: “What next?
”Pertanyaan tersebut menjadi penegasan bahwa keberhasilan LifeLeaders tidak hanya diukur dari selesainya rangkaian Training of Trainers tingkat nasional, tetapi dari apa yang dilakukan peserta setelah kembali ke daerah masing-masing.
Dengan membawa metodologi design thinking, semangat inovasi dan kolaborasi, fokus aksi kebumian melalui Earth Tribe, serta keterhubungan dengan Better World Framework dan Scouts for SDGs, para peserta kini memasuki tahapan terpenting: menerjemahkan pengetahuan yang diperoleh menjadi aksi nyata yang mampu membantu menyelesaikan persoalan bersama masyarakat dan menghadirkan dampak positif melalui Gerakan Pramuka.
Pusdatin Kwarda Jatim