JAKARTA — Kwartir Nasional Gerakan Pramuka bersama Asia-Pacific Region, World Organization of the Scout Movement (WOSM), memperkuat kapasitas 30 peserta utusan kwartir daerah se-Indonesia melalui Training of Trainers (ToT) LifeLeaders 2.0 yang berlangsung pada 26–28 Agustus 2026 di Meeting Hall Agus Salim, Taman Wiladatika Cibubur, Jakarta. Pelatihan ini diarahkan untuk memperkuat kemampuan peserta dalam merancang aksi sosial dan lingkungan yang lebih terstruktur, kolaboratif, serta memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Di tengah beragam persoalan sosial dan lingkungan yang ditemukan dalam wilayah layanan kepramukaan, LifeLeaders menghadirkan pendekatan yang tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan. Peserta didorong memahami alasan mendasar mengapa perubahan perlu dilakukan, menemukan persoalan yang tepat, merancang solusi berdasarkan kebutuhan, kemudian menghubungkannya dengan gerakan yang lebih luas di tingkat daerah hingga nasional.
Pendekatan tersebut dibangun melalui tiga penguatan utama. Pertama, peserta diperkuat dalam memahami alasan atau why di balik setiap perubahan dan aksi yang akan dijalankan. Cara berpikir tersebut dihubungkan dengan Scouts for SDGs dan Better World Framework, sehingga setiap aktivitas tidak dipandang sebagai kegiatan yang berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari upaya bersama untuk menciptakan dunia yang lebih baik.
Kerangka itu menjadi penting karena aktivitas sosial yang dilakukan Pramuka di berbagai daerah memiliki konteks dan persoalan yang berbeda. Dengan memahami hubungan antara kebutuhan lokal dan tujuan perubahan yang lebih luas, peserta diharapkan mampu mengarahkan aksi agar memiliki tujuan yang jelas dan relevan terhadap persoalan yang hendak diselesaikan.
Penguatan kedua dilakukan melalui penggunaan design thinking sebagai metodologi berpikir yang terstruktur dalam menemukan solusi terhadap permasalahan. Pendekatan ini menempatkan proses pemahaman masalah dan pencarian solusi sebagai tahapan penting sebelum sebuah aksi dijalankan.
Design thinking juga membuka ruang keterlibatan banyak pihak selama proses penyelesaian masalah. Kolaborasi, kerja tim, serta pola pikir inovatif menjadi bagian penting agar solusi yang dirancang tidak hanya berasal dari asumsi individu, tetapi lahir melalui proses bersama yang berorientasi pada kebutuhan dan permasalahan yang benar-benar ditemukan di lapangan.
Penguatan ketiga adalah pembangunan National Acts, yaitu gerakan nasional LifeLeaders yang melibatkan berbagai tingkatan organisasi Gerakan Pramuka. Kwartir daerah diharapkan menggerakkan kwartir cabang dan kwartir ranting, sebelum akhirnya menjangkau peserta didik sebagai kekuatan utama di gugus depan.
Melalui pola tersebut, aksi LifeLeaders diarahkan menjadi gerakan yang memiliki kesinambungan dari tingkat nasional sampai satuan pendidikan kepramukaan. Aktivitas yang dikembangkan akan berorientasi pada aksi sosial berbasis LifeLeaders serta kegiatan lingkungan melalui Earth Tribe.
Peserta ToT LifeLeaders 2.0 asal Sulawesi Selatan, Risman Hasli, mengatakan hasil pelatihan akan ditindaklanjuti melalui program yang telah berjalan di daerah. Salah satu peluang implementasinya adalah menghubungkan pendekatan LifeLeaders dengan proses pencapaian Pramuka Garuda yang memiliki unsur proyek sosial.
“Kami akan tindak lanjuti kegiatan ini dalam implementasi nyata, disambungkan dengan penempuhan Pramuka Garuda yang juga memiliki program projek sosial. Program ini akan direlasikan dengan program daerah,” ungkap Risman.
Integrasi tersebut membuka ruang agar hasil pelatihan tidak berhenti pada peserta ToT. Pengetahuan dan metodologi yang diperoleh dapat diterjemahkan menjadi program daerah, kemudian diteruskan hingga kegiatan peserta didik di gugus depan sesuai kebutuhan dan persoalan yang mereka hadapi.
Pada penyelenggaraan LifeLeaders 2.0 tahun 2026, perhatian khusus juga diberikan pada isu lingkungan melalui Earth Tribe. Fokus tersebut diarahkan pada pengembangan inovasi kegiatan yang dapat dilakukan anggota Gerakan Pramuka sebagai bagian dari upaya menjaga kelestarian bumi.
Andalan Nasional Gerakan Pramuka Bidang Hubungan Luar Negeri, Yesika, menegaskan bahwa keberhasilan pelatihan harus dilihat dari seberapa besar dampak yang kemudian dapat dirasakan masyarakat.
“Dampak kegiatan ini harus optimal dirasakan oleh masyarakat Indonesia, dan yang spesial di Training LifeLeaders 2.0 tahun 2026 fokus pada isu Earth Tribe, program inovasi kegiatan yang berhubungan dengan apa yang bisa dilakukan untuk kelestarian bumi,” ungkap Yesika.
Dengan peserta yang berasal dari berbagai kwartir daerah di Indonesia, ToT LifeLeaders 2.0 menjadi titik awal untuk membawa pendekatan tersebut kembali ke wilayah masing-masing. Peserta tidak hanya membawa materi pelatihan, tetapi juga kerangka berpikir untuk menghubungkan persoalan lokal, metodologi penyelesaian masalah, kolaborasi, dan aksi nyata dalam satu gerakan yang berkesinambungan.
Melalui Scouts for SDGs, Better World Framework, design thinking, National Acts, serta penguatan Earth Tribe, LifeLeaders 2.0 diarahkan untuk memperkuat posisi anggota Gerakan Pramuka sebagai pelaku perubahan. Ujung dari seluruh proses tersebut adalah lahirnya aksi sosial dan lingkungan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta berkontribusi pada upaya bersama menjadikan dunia lebih baik.
Pusdatin Kwarda Jatim