Surabaya, 19 September 2026 — Pusat Pendidikan dan Pelatihan Daerah (Pusdiklatda) Argasonya melaksanakan Kursus Mahir Pembina Tingkat Dasar (KMD) di Gugus Depan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya (UNIPA). Kegiatan yang berlangsung pada 14–20 September 2026 di kampus Universitas PGRI Adi Buana Surabaya itu diikuti 193 peserta.
KMD tersebut menjadi bagian dari komitmen kelembagaan kampus dalam menyiapkan pembina Pramuka yang kompeten dan memiliki kemampuan terbaik untuk nantinya diterjunkan di tengah masyarakat, khususnya lingkungan pendidikan.
Tidak hanya berorientasi pada penyelesaian rangkaian kursus, penyelenggaraan KMD dirancang sebagai ruang bagi peserta untuk menjalani proses pembentukan diri. Kursus diharapkan melahirkan pembina yang mampu membawa nilai kebaikan serta memberikan manfaat bagi lingkungan tempat mereka berkarya.
Kepala Pusdiklatda Argasonya, Kak Dr. Jainudin, M.Si. menegaskan bahwa kursus perlu ditempatkan sebagai instrumen pendidikan yang memberikan ruang bagi peserta untuk terus berkembang.
“Kursus harus menjadi media bagi setiap Pramuka yang mengikutinya untuk berproses dan bertumbuh menjadi pribadi-pribadi yang bisa membawa kebaikan dan kemaslahatan bagi dunia pendidikan dan lingkungan terdekatnya,” kata Kak Jainudin.
Kegiatan yang didesain selama tujuh hari tersebut menggunakan kurikulum Sistem Pendidikan dan Pelatihan (Sisdiklat) Gerakan Pramuka yang tertuang dalam Petunjuk Penyelenggaraan atau Jukran Nomor 048 tahun 2018 yang diterbitkan Kwartir Nasional Gerakan Pramuka. Dalam pelaksanaannya, peserta dibagi dalam proses pembelajaran yang berorientasi pada pembinaan golongan Siaga dan Penggalang.
Di luar materi utama kursus, Pusdiklatda Argasonya menghadirkan pendekatan khas melalui pengembangan muatan lokal. Pada penyelenggaraan KMD di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya, materi tersebut dikonstruksikan dengan mengambil saripati nilai-nilai luhur yang hidup di lingkungan kampus.
Nilai itu dikembangkan melalui konsep HastaBrata, yakni nilai-nilai kebaikan yang mengambil inspirasi dari keteladanan semesta. Beberapa unsur yang digunakan antara lain Surya atau matahari, Maruta atau angin, Kartika atau bintang, Pertiwi atau bumi, serta Candra atau bulan.
Nilai-nilai tersebut tidak berhenti sebagai materi konseptual. Pusdiklatda Argasonya mengonstruksikannya menjadi bagian dari pengalaman belajar peserta kursus.
Salah satu implementasinya dilakukan melalui sebuah aplikasi yang digunakan untuk membantu mengenali karakter HastaBrata masing-masing peserta. Melalui proses tersebut, peserta memperoleh laporan kepribadian berdasarkan nilai-nilai yang dikembangkan dalam HastaBrata.
Hasil pengenalan karakter itu kemudian diturunkan kembali menjadi aktivitas pendidikan yang lebih aplikatif. Para peserta ditantang mengembangkan game atau permainan HastaBrata yang mengandung unsur pendidikan serta disusun sesuai Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan.
Permainan yang telah dirancang selanjutnya dipraktikkan kepada sesama peserta kursus. Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga mengalami proses mengenali karakter, menerjemahkan nilai, merancang metode pembelajaran, hingga mempraktikkannya secara langsung.
Pelatih Pusdiklatda Argasonya, Kak Mahsun Ismail, yang menjadi pemantik awal pengembangan ide muatan lokal tersebut, mengatakan bahwa Argasonya memiliki komitmen untuk meninggalkan sesuatu yang bernilai pada setiap kursus yang diselenggarakan.
“Pusdiklatda berkomitmen untuk membuat sebuah legacy di setiap kursus yang diselenggarakan. Dalam konteks UNIPA, permainan HastaBrata adalah kekhasan dan legacy tersebut,” ujar Kak Mahsun Ismail.
Pendekatan itu sekaligus menjadikan muatan lokal bukan sekadar pelengkap kurikulum. Nilai yang berasal dari lingkungan tempat kursus berlangsung dikembangkan menjadi pengalaman pendidikan yang dapat dikenali, dipahami, diolah, dan dipraktikkan oleh peserta.
Melalui KMD ini, Pusdiklatda Argasonya dan Universitas PGRI Adi Buana Surabaya menempatkan pendidikan pembina Pramuka sebagai bagian dari proses menyiapkan sumber daya manusia yang kelak berinteraksi langsung dengan peserta didik dan masyarakat pendidikan.
Kursus yang berlangsung hingga 20 September 2026 tersebut diharapkan tidak berhenti pada penguasaan materi dan keterampilan kursus, tetapi menghasilkan proses pertumbuhan pribadi sekaligus pengalaman pendidikan yang dapat dibawa peserta ketika menjalankan perannya sebagai pembina Pramuka di lingkungan masing-masing.
Pusdatin Kwarda Jatim