SURABAYA – Sebanyak 40 peserta Kursus Pelatih Pembina Pramuka Tingkat Dasar Jawa Timur dinyatakan lulus seluruhnya. Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur mengapresiasi keberhasilan para peserta sekaligus mendorong mereka menjadi pembina yang adaptif, produktif, dan berkelanjutan dalam menghadapi tantangan pendidikan generasi muda. Penutupan kursus berlangsung di Aula Kwarda Jatim, Sabtu (24/10/2026).

Sambutan pengarahan mewakili Ketua Kwarda Jatim, Kak H. M. Arum Sabil, disampaikan oleh Sekretaris Kwarda Jatim, Kak Bambang Suyanto. Dalam arahannya, Kak Bambang menegaskan bahwa berakhirnya kursus bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar dalam membentuk karakter generasi muda melalui pendidikan kepramukaan.

“Kursus boleh berakhir, tetapi proses belajar, pengabdian, dan perjuangan membangun karakter kaum muda tidak boleh berhenti,” demikian pesan yang ditekankan dalam pengarahan tersebut.

Menurutnya, ilmu dan keterampilan yang diperoleh selama kursus harus diterapkan secara nyata di kwartir maupun gugusdepan masing-masing. Para peserta diharapkan tidak sekadar membawa pulang sertifikat, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas pembinaan, mengembangkan metode latihan yang kreatif, serta memberikan dampak positif bagi peserta didik dan masyarakat.

Kak Chemy sapaannakrabnya juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh pelatih dan penyelenggara yang telah mencurahkan ilmu, tenaga, dan pengabdian dalam mendukung pelaksanaan kursus.

Pembina Harus Menjadi Teladan

Kak Bambang mengingatkan bahwa hakikat pendidikan kepramukaan tidak berhenti pada penyampaian pengetahuan, tetapi harus diwujudkan melalui keteladanan, pengalaman, pembiasaan, dan pengabdian. Nilai-nilai Tri Satya dan Dasa Darma, lanjutnya, harus hidup dalam perilaku sehari-hari seorang pembina. Disiplin, kepedulian, dan tanggung jawab tidak cukup hanya diajarkan, tetapi harus ditunjukkan melalui tindakan nyata.

Para pembina diharapkan mampu menjadikan gugusdepan sebagai ruang belajar kehidupan yang membentuk peserta didik menjadi pribadi mandiri, berkarakter, berintegritas, peduli terhadap lingkungan, serta siap menghadapi tantangan masa depan. Di tengah perubahan zaman, pembina juga dituntut memahami karakter Generasi Z dan Generasi Alfa yang tumbuh dalam lingkungan digital. Karena itu, metode pembinaan perlu terus diperbarui dengan memanfaatkan teknologi, kreativitas, dan pendekatan yang lebih menarik tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur Gerakan Pramuka.

Pramuka 2030: Bertahan, Berubah, atau Ditinggalkan

Salah satu pesan penting dalam pengarahan tersebut adalah perlunya kesiapan Gerakan Pramuka menghadapi masa depan melalui semangat “Pramuka 2030: Bertahan, Berubah, atau Ditinggalkan.”

Pesan ini menjadi ajakan reflektif bagi seluruh pembina agar berani beradaptasi dan melakukan pembaruan. Gerakan Pramuka harus mampu menjawab kebutuhan generasi muda, menghadirkan kegiatan yang menyenangkan dan bermakna, serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kak Chemy juga menekankan tiga prinsip penting dalam pengembangan Gerakan Pramuka Jawa Timur, yakni adaptif, produktif, dan berkelanjutan. Adaptif berarti mampu menyesuaikan metode pembinaan dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri. Produktif berarti melahirkan karya, prestasi, inovasi, dan kegiatan yang bermanfaat.

Sementara berkelanjutan berarti memastikan setiap program memberikan dampak jangka panjang, bukan sekadar menjadi kegiatan sesaat. Ketiga prinsip tersebut diharapkan menjadi pedoman bagi para peserta setelah kembali ke daerah pengabdian masing-masing.

Lulus Kursus, Saatnya Membuktikan Pengabdian

Kwarda Jatim mendorong seluruh peserta menyusun rencana tindak lanjut yang konkret, mulai dari berbagi pengetahuan dengan sesama pembina, meningkatkan mutu latihan di gugusdepan, mengembangkan metode pembinaan kreatif, hingga memperkuat kolaborasi dengan kwartir dan berbagai pihak.

Perubahan, menurut pesan pengarahan tersebut, tidak harus dimulai melalui program besar. Langkah sederhana yang dilakukan secara konsisten oleh seorang pembina dapat menjadi awal perubahan besar dalam kehidupan peserta didik.

Kak Chemy berharap para lulusan mampu menjadi penggerak pembaruan di lingkungan masing-masing sekaligus berkontribusi menjadikan Jawa Timur sebagai barometer Gerakan Pramuka Indonesia, terutama dalam kualitas pembinaan, inovasi, pembentukan karakter, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dibawah asuhan para pelatih Pusdiklatda Argasonya Jawa Timur dengan Pinsus Kak Ali Shodiqin, dengan tim pelatih Kak Sunyoto Hadi Prayitno, Kak Lilis Suryatin, Kak Nurmawati, dan Kak Tri Panjianto. Keberhasilan kursus yang diikuti 40 peserta dan seluruhnya dinyatakan lulus ini menjadi momentum untuk memperkuat kualitas sumber daya pembina di Jawa Timur.

Menutup arahannya, Sekretaris Kwarda Jatim menyampaikan selamat kepada seluruh peserta atas kelulusan yang diraih serta apresiasi kepada para pelatih dan penyelenggara atas dedikasi mereka.

Pesan utamanya jelas: keberhasilan kursus bukan semata-mata diukur dari kelulusan atau ijazah, melainkan dari kemampuan para pembina menerapkan ilmu, menjadi teladan, dan menghadirkan perubahan nyata bagi generasi muda.

Dengan semangat adaptif, produktif, dan berkelanjutan, Gerakan Pramuka Jawa Timur diharapkan terus berkembang serta mengambil peran strategis dalam menyiapkan generasi muda yang tangguh dan berkarakter menuju Indonesia Emas 2045. (Achmat Maskurochman)

Pusdatin Kwarda Jatim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *