“Keberhasilan membutuhkan keuletan, keyakinan, dan keberanian membaca peluang. Setiap usaha seharusnya tidak hanya memberi hasil bagi keluarga, tetapi juga menghadirkan manfaat bagi masyarakat dan Indonesia.” — Kak Harjito
Ketahanan pangan sering tumbuh dari keberanian melihat kemungkinan baru di tengah kebiasaan lama. Di Blitar, hamparan sawah umumnya ditanami padi dan palawija. Namun, seorang Pelatih Pembina Pramuka bernama Harjito memilih jalur berbeda. Tumbuh dalam keluarga desa, dibesarkan oleh ayah yang pernah mengemban amanah sebagai kepala desa, ia akrab dengan dunia pertanian sejak kecil. Kedekatan itu membentuk kepekaan terhadap lahan, masyarakat, dan peluang usaha yang dapat dikembangkan secara lebih produktif bagi kehidupan keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Pada 2015–2016, ia mulai menanam jeruk keprok Pontianak di lahan persawahan. Pilihan itu lahir dari keinginan menghadirkan variasi komoditas sekaligus menguji kemungkinan baru dalam pengelolaan tanah. Jeruk dipilih karena relatif mudah dirawat, disukai pasar, dan mulai berbuah pada usia empat sampai lima tahun. Masa produktifnya dapat bertahan delapan hingga sepuluh tahun. Kehadiran kebun tersebut memberi warna baru, memperkaya pemanfaatan lahan, dan membuka peluang ekonomi yang sebelumnya belum banyak dilihat warga sekitar, khususnya para petani setempat.
Eksperimen itu berkembang menjadi usaha yang lebih terstruktur. Selain membudidayakan buah, ia membuka pembibitan jeruk untuk memenuhi kebutuhan kebun sendiri dan masyarakat sekitar. Langkah tersebut berawal dari kesulitan memperoleh bibit berkualitas. Alih-alih terus bergantung pada pemasok lain, ia mempelajari proses pembibitan secara mandiri. Keputusan itu memperkuat keberlanjutan usaha sekaligus menambah sumber pendapatan. Di areal yang sama, pengelolaan ikan koi dikembangkan agar setiap bagian lahan menghasilkan manfaat dan nilai ekonomi lebih tinggi secara mandiri dan berkelanjutan.
Tantangan berikutnya muncul ketika tanaman mulai menghasilkan buah. Persoalan utama bukan lagi perawatan, melainkan pemasaran. Pada tahun-tahun awal, ia memanen, membawa, dan menjual jeruk sendiri ke pasar. Proses itu menuntut tenaga, kesabaran, serta keberanian membangun relasi. Dari pengalaman tersebut, jaringan dagang perlahan terbentuk. Para pedagang mulai mengenali kualitas buah dan pola panennya. Pada musim berikutnya, mereka datang langsung ke kebun, sehingga distribusi menjadi lebih singkat, efisien, dan menguntungkan bagi petani serta semua pihak yang terlibat.
Pemanfaatan WhatsApp memperluas jangkauan pasar. Informasi tentang bibit, buah, dan waktu panen disebarkan kepada jaringan konsumen serta pedagang. Teknologi sederhana itu membuat komunikasi berlangsung lebih cepat dan membantu produk terserap dengan baik. Relasi yang luas mendorong kolaborasi dengan petani lain melalui Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Kabupaten Blitar. Ketika permintaan melebihi kapasitas kebun, kebutuhan pasar dapat dipenuhi bersama. Kerja sama tersebut menunjukkan bahwa pertanian berkembang lebih kuat melalui jaringan, kepercayaan, dan saling berbagi solusi secara berkelanjutan.
Dampak usaha itu terasa langsung bagi masyarakat sekitar. Pengelolaan kebun menyerap tenaga kerja untuk membersihkan lahan, merawat tanaman, melakukan pembibitan, menyemprot hama, dan membantu panen. Pembagian tugas tersebut membuka peluang pendapatan sekaligus memperkuat hubungan sosial. Kebun tidak hanya menghasilkan buah, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal. Masyarakat melihat bahwa pertanian dapat dikelola secara kreatif, modern, dan bernilai tinggi apabila pemiliknya berani mengembangkan sistem kerja, membangun pasar, serta melibatkan lingkungan sekitar secara nyata dalam setiap tahap pengelolaannya.
Kecerdasan membaca peluang terlihat ketika 250 batang jeruk pernah ditawar sekitar Rp60 juta secara borongan. Ia tidak langsung menerima tawaran itu. Sebaliknya, muncul gagasan mengubah kebun menjadi wisata petik buah. Pengunjung tidak dikenai tiket masuk dan hanya membayar Rp10.000 per kilogram hasil petikan. Program yang dibuka setiap Jumat, Sabtu, dan Minggu selama tiga pekan menghasilkan omzet sekitar Rp130 juta. Inovasi tersebut membuktikan bahwa pengelolaan pascapanen dapat meningkatkan nilai komoditas secara signifikan bagi petani dan masyarakat.
Wisata petik jeruk kemudian berkembang menjadi ruang edukasi. Anak-anak PAUD, siswa taman kanak-kanak, kelompok PKK, unsur dinas pendidikan, dan masyarakat umum datang untuk mengenal proses pertanian secara langsung. Bupati Blitar juga pernah berkunjung. Kebun berubah menjadi tempat belajar tentang tanaman, ketekunan, dan hubungan manusia dengan alam. Sebagian hasil panen turut dibagikan kepada masyarakat. Melalui cara itu, keberhasilan usaha tidak berhenti pada keuntungan pribadi, tetapi meluas menjadi pengalaman, pengetahuan, dan manfaat sosial bagi banyak orang sekaligus.
Nilai kepramukaan tampak kuat dalam seluruh proses tersebut. Ketelitian hadir saat memilih bibit dan merawat tanaman. Kedisiplinan terlihat dalam jadwal pemeliharaan. Ketangguhan muncul ketika menghadapi kendala pasar. Cinta alam diwujudkan melalui pengelolaan lahan, sedangkan kasih sayang sesama manusia tampak dalam pelibatan warga dan pembagian manfaat. Pengalaman itu layak dibawa ke ruang kursus sebagai contoh bahwa Pelatih Pembina Pramuka dapat mengajarkan kewirausahaan, kreativitas, kemandirian, dan pengabdian melalui praktik kehidupan nyata yang dekat dengan kebutuhan masyarakat sekitar.
Ke depan, pengembangan diarahkan pada penyempurnaan pembibitan, peremajaan tanaman, dan penguatan wisata pertanian. Lahan jeruk yang telah berusia sepuluh tahun perlu dibongkar, diselingi tanaman padi, lalu dipersiapkan kembali. Pesan utamanya sederhana: siapa pun dapat membangun ketahanan pangan, bahkan tanpa sawah luas. Polybag di teras, halaman, atau atap dapat ditanami sayuran. Dari kebun jeruk di Blitar, tersampaikan pelajaran bahwa keuletan, teknologi, dan keberanian membaca peluang mampu mengubah lahan menjadi sumber manfaat nyata yang berkelanjutan bagi Indonesia.

