SURABAYA, Indonesia (17/10) – Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur mengaplikasikan metode pelatihan interaktif untuk materi Dialogue for Peace dan Scout for SDGs. Sesi ini bermuara langsung pada tema besar JOTA-JOTI Kwarda Jatim tahun ini, yakni mewujudkan Youth Voices for SDGs. Sesi ini berlangsung di Markas Kwarda Jawa Timur, Surabaya pada rangkaian luring JOTA-JOTI, 16 hingga 18 Oktober 2026.
Materi ini dipandu langsung oleh Kak Muh. Vika Syauqy, S.P., M.Si. dari Dewan Kerja Daerah (DKD) Jawa Timur, yang juga memegang tanggung jawab pada Bidang Penelitian dan Evaluasi (Litbang). Fokus utamanya adalah melatih kemampuan komunikasi, empati, dan argumentasi dari 76 perwakilan Kwartir Cabang yang hadir.
Kak Syauqy membuka sesi dengan simulasi memotret yang menggunakan gerakan seluruh anggota tubuh. Peserta kemudian diberikan tantangan lanjutan berupa blind vision, di mana mereka harus memotret rekan setimnya dengan kondisi mata tertutup dan hanya mengandalkan instruksi suara yang spesifik dari rekan mereka.
Pelatihan beralih ke simulasi diskusi panel yang mengangkat isu-isu berat dan kontekstual. Topik yang diperdebatkan oleh peserta mencakup pelestarian kebudayaan, sistem demokrasi, hingga dinamika dan urgensi realita Gerakan Pramuka, untuk mengkaji secara kritis apakah program kepramukaan saat ini sudah benar-benar relevan dan sesuai dengan realita kebutuhan masyarakat di lapangan.
Dalam debat pro dan kontra tersebut, peserta diwajibkan menerapkan prinsip “listen carefully” (mendengarkan dengan saksama) sebelum merespons, untuk menghindari kesimpulan sepihak. Mereka lalu harus membalas argumen lawan bicara dengan prinsip “speak clearly” (berbicara dengan jelas dan lugas) agar gagasan dapat tersampaikan secara efektif.
Tahap akhir simulasi ini difokuskan pada kemampuan literasi. Peserta diarahkan untuk mengaplikasikan prinsip “write your ideas” dengan menuangkan seluruh gagasan debat mereka ke dalam teks tulis.
Tulisan para peserta ini disusun dalam format esai argumentatif yang terstruktur secara sistematis. Simulasi ini dirancang agar anggota Pramuka tidak hanya fasih berbicara secara lisan, tetapi juga memiliki kapasitas menuliskan ide kritis secara tajam dan dapat dipertanggungjawabkan.
Keseluruhan alur ini merupakan simulasi intensif untuk mencetak peserta menjadi agen perubahan (changemaker) dan duta perdamaian masa depan yang lengkap; yang tidak hanya jago berbicara dan berpikir kritis, tetapi juga mampu merumuskan idenya ke dalam bentuk tulisan yang membawa dampak nyata bagi publik, serta setiap peserta mampu berdampak langsung ke masyarakat dalam bentuk aksi bakti dalam implementasinya.
Pusdatin Kwarda Jatim