Kolaborasi Pusdiklatda Argasonya–UNUSA Perkuat Kompetensi Peserta KMD dan KML di Alam Terbuka

Date:

MOJOKERTO — Peserta Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) dan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan (KML) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA) mengikuti sesi praktik di alam terbuka bersama Pusat Pendidikan dan Pelatihan Daerah (Pusdiklatda) Argasonya Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, di kawasan Obis, pada 31 Juli hingga 2 Agustus 2026.

Kegiatan lapangan tersebut dirancang untuk memberikan pengalaman langsung kepada calon pembina mengenai proses pendidikan kepramukaan yang dilaksanakan di alam terbuka. Peserta tidak hanya menerima pengetahuan secara teoritis, tetapi juga mengalami sendiri proses merencanakan, melaksanakan, mengelola, dan mengevaluasi kegiatan yang nantinya dapat diterapkan ketika kembali membina peserta didik di gugus depan.

Sekretaris Pusdiklatda Argasonya Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur, Kak Ali Shodiqin, mengatakan pembelajaran di alam terbuka menjadi salah satu bagian penting dalam pendidikan kepramukaan. Melalui interaksi langsung dengan lingkungan, peserta diharapkan memahami alam sebagai ruang belajar yang dapat menumbuhkan kepekaan, kemandirian, keterampilan hidup, serta kepedulian terhadap sesama.

Menurut dia, proses pendidikan di alam memberi kesempatan kepada peserta untuk menggunakan kemampuan melihat, mendengar, mengamati, dan berpikir. Pengalaman tersebut selanjutnya dapat membentuk pola pikir yang lebih matang serta mendorong seseorang meningkatkan kualitas dirinya.

“Proses pendidikan kepramukaan itu berada di alam. Di sana peserta belajar bagaimana alam harus dipelajari. Mereka belajar melihat dan mendengar, kemudian berpikir ke depan untuk meningkatkan kualitas dirinya. Dari proses itu, nilai cinta alam dan kasih sayang sesama manusia akan tumbuh,” kata Kak Ali Shodiqin.

Ia menjelaskan, pembelajaran di alam terbuka juga memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan keterampilan yang berhubungan langsung dengan kehidupan sehari-hari. Keterampilan itu tidak hanya dipahami sebagai kemampuan teknis dalam kegiatan kepramukaan, tetapi juga kecakapan menghadapi persoalan, bekerja sama, mengambil keputusan, dan menyelesaikan tugas secara mandiri.

Dalam kegiatan berkemah, misalnya, peserta harus mengatur kebutuhan pribadi dan kelompok, membagi tugas, menjaga kebersihan, menyiapkan perlengkapan, serta menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan. Seluruh proses tersebut menjadi pengalaman pendidikan yang sulit diperoleh apabila pembelajaran hanya berlangsung melalui penjelasan di dalam ruangan.

Kak Ali menggambarkan bahwa pengalaman beberapa hari mengikuti perkemahan dapat memberikan pembelajaran yang sangat luas karena peserta berhadapan langsung dengan situasi nyata. Mereka tidak sekadar mengetahui konsep, tetapi menjalani proses, menghadapi tantangan, dan menemukan cara menyelesaikan persoalan yang muncul selama kegiatan.

Pengalaman langsung tersebut diharapkan dapat dibawa kembali oleh peserta KMD dan KML ke gugus depan. Sebagai calon pembina dan pembina, mereka harus mampu menerjemahkan pengalaman lapangan menjadi kegiatan pendidikan yang relevan bagi peserta didik.

Dampaknya tidak hanya diharapkan terlihat selama kegiatan Pramuka. Setelah kembali ke rumah, peserta didik diharapkan mampu membantu orang tua, mengurus kebutuhan pribadinya, serta tidak terus-menerus bergantung kepada ayah dan ibu. Di lingkungan sekolah, mereka juga diharapkan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan mampu memberi contoh positif kepada teman-temannya.

Bagi peserta KMD dan KML, praktik alam terbuka menjadi bekal untuk memahami peran pembina sebagai perancang kegiatan pendidikan. Mereka belajar memperkirakan bentuk perkemahan, menyusun tahapan kegiatan, mengidentifikasi kebutuhan, mengantisipasi berbagai kemungkinan, serta menentukan dampak pendidikan yang ingin dicapai.

“Ketika nanti mereka membina adik-adik dan merencanakan kegiatan berkemah, mereka sudah memiliki pengalaman. Mereka akan berpikir bagaimana merencanakan kegiatan, apa saja yang mungkin terjadi, bagaimana manajemennya, dan dampak apa yang ingin dicapai,” ujarnya.

Melalui proses tersebut, peserta dilatih agar tidak menyelenggarakan kegiatan sekadar untuk memenuhi agenda. Setiap program harus memiliki tujuan yang jelas, perencanaan yang terukur, pengelolaan yang baik, dan hasil pendidikan yang dapat dirasakan peserta didik.

Kegiatan lapangan yang berlangsung pada sesi kedua KMD–KML UNUSA ini sekaligus menegaskan posisi alam terbuka sebagai media pendidikan. Lingkungan digunakan bukan hanya sebagai tempat berkegiatan, tetapi sebagai ruang untuk membangun karakter, kepemimpinan, kepedulian sosial, kecintaan terhadap alam, dan keterampilan hidup.

Dengan pengalaman tersebut, peserta diharapkan mampu menjadi pembina yang tidak hanya menguasai teori kepramukaan, tetapi juga sanggup merancang kegiatan yang aman, terarah, mendidik, dan berdampak. Ketika kembali ke gugus depan, mereka diharapkan dapat menghadirkan proses pembinaan yang mendorong peserta didik tumbuh menjadi pribadi mandiri, peduli, terampil, dan siap memberi manfaat bagi keluarga, sekolah, serta lingkungan sekitarnya.

Pusdatin Kwarda Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


Share post:

Subscribe

Popular

More like this
Related

Ketika Pramuka Menjadi Ruang Pemulihan: Perjalanan Peserta KMD–KML UNUSA Menemukan Makna Baru

SURABAYA — Pelaksanaan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar...

Bulan Bakti Pramuka 2026, Kwarda Jatim Ajak Anggota Pramuka Bergerak dan Mengabdi untuk Masyarakat

SURABAYA – Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur...

Seleksi Petugas Apel Hari Pramuka ke-65, Kwarda Jatim Siapkan Generasi Pramuka Disiplin dan Berkarakter

SURABAYA – Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur menggelar...