Pusdiklatda Argasonya Bekali Peserta KMD–KML UNUSA Surabaya dari Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan hingga Administrasi Satuan

Date:

SURABAYA — Pusat Pendidikan dan Pelatihan Daerah (Pusdiklatda) Argasonya Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur memperkuat kompetensi 197 peserta Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) dan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan (KML) melalui rangkaian materi fundamental hingga pengelolaan satuan di Kampus Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Selasa, 28 Juli 2026.

Memasuki hari kedua dari total tujuh hari pelaksanaan kursus, peserta mendapatkan materi Prinsip Dasar Kepramukaan, Metode Kepramukaan, Metode Membina, Postur Peserta Didik, Postur Pembina, serta Administrasi Satuan. Keseluruhan materi tersebut dirancang untuk membentuk pemahaman peserta secara utuh, mulai dari landasan nilai, pendekatan pendidikan, keteladanan pembina, pemahaman terhadap peserta didik, hingga kemampuan mengelola satuan secara tertib.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Pusdiklatda Argasonya Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur dan UNUSA. Kursus diikuti 197 peserta yang dipersiapkan untuk menjalankan tugas pengabdian sebagai pembina Pramuka di gugus depan dan lingkungan pendidikan setelah menyelesaikan seluruh rangkaian pelatihan.

Melalui materi Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan, Pusdiklatda Argasonya menanamkan pemahaman bahwa pembinaan Pramuka tidak hanya berupa permainan, kegiatan lapangan, ataupun aktivitas menarik di alam terbuka. Setiap kegiatan harus memiliki landasan nilai, arah pendidikan, dan metode yang jelas agar mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna kepada peserta didik.

Pemahaman tersebut menjadi penting karena Gerakan Pramuka mempunyai kekhasan dibandingkan organisasi lain yang bergerak dalam ruang pelayanan dan pembinaan generasi muda. Gerakan Pramuka memberikan perhatian terhadap anggota dewasa sekaligus peserta didik muda, mulai dari Prasiaga, Siaga, Penggalang, Penegak, hingga Pandega.

Setiap golongan memiliki karakteristik perkembangan, kebutuhan, dan pendekatan pembinaan yang berbeda. Oleh karena itu, pembina tidak cukup hanya mampu menyelenggarakan kegiatan. Pembina perlu memahami alasan pendidikan, tujuan, nilai, dan metode yang mendasari setiap aktivitas dalam satuan.

Materi Metode Membina melengkapi pemahaman tersebut dengan memberikan bekal mengenai cara mendampingi peserta didik secara tepat. Pembina diarahkan agar mampu menciptakan proses pendidikan yang menarik, menantang, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan perkembangan masing-masing golongan.

Dalam kelas KMD Golongan Siaga, pembelajaran dikemas secara partisipatif melalui simulasi, diskusi kelompok, praktik langsung, serta kegiatan di alam terbuka. Peserta tidak hanya menerima materi secara verbal, tetapi juga melihat, bergerak, mengalami, berdiskusi, dan merefleksikan proses pembinaan.

Kombinasi pembelajaran di dalam ruangan dan di alam terbuka memungkinkan berbagai modalitas belajar terlibat secara optimal. Simulasi yang kuat membantu peserta menghubungkan konsep dengan situasi nyata yang akan mereka hadapi ketika membina di gugus depan.

Pimpinan Kursus, Kak Lilis, memberikan semangat, motivasi, dan inspirasi mengenai pentingnya memahami fondasi pendidikan kepramukaan. Menurutnya, pemahaman yang mendalam terhadap hal-hal mendasar diperlukan agar kegiatan pembinaan tidak kehilangan tujuan dan identitasnya.

“Prinsip Dasar dan Metode Kepramukaan merupakan bagian yang mendasari proses pembinaan. Pemahaman terhadap keduanya sangat penting agar setiap kegiatan yang dilakukan benar-benar memiliki tujuan pendidikan dan mampu memberikan pengalaman yang bermakna bagi peserta didik,” ujar Kak Lilis saat menyampaikan penguatan kepada peserta.

Selain materi fundamental, peserta memperoleh penguatan mengenai Postur Peserta Didik dan Postur Pembina. Materi ini menekankan bahwa pendidikan kepramukaan harus memperhatikan perkembangan manusia secara menyeluruh, baik dari sisi karakter, mental, sikap, penampilan, maupun kemampuan berinteraksi.

Postur pembina tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyampaikan materi atau memimpin kegiatan. Pembina merupakan figur teladan yang diamati dan ditiru oleh peserta didik. Karena itu, pembina dituntut menunjukkan keselarasan antara perkataan, tindakan, karakter, kesantunan, dan penampilannya.

Pembina juga perlu memiliki kesiapan mental, kemampuan membawa diri, cara berkomunikasi yang baik, serta kesantunan dalam berpakaian. Keteladanan tersebut menjadi bagian penting dalam membangun suasana pendidikan yang sehat dan membentuk kebiasaan positif di lingkungan satuan.

Sementara itu, materi Postur Peserta Didik membantu peserta kursus memahami perkembangan anak secara utuh. Pembinaan tidak hanya diarahkan pada kecakapan teknis, tetapi juga pada pembentukan akhlak, mental, sikap percaya diri, kemampuan tampil, kebersihan diri, serta kesantunan dalam berpakaian dan berinteraksi.

Rangkaian hari kedua juga membahas Administrasi Satuan. Materi ini menjadi bekal bagi peserta agar mampu mengelola kegiatan pembinaan secara tertib, terencana, dan dapat dipertanggungjawabkan. Administrasi diposisikan sebagai bagian yang mendukung kesinambungan program dan keteraturan pengelolaan satuan.

Penguasaan administrasi diperlukan agar pembina mampu menata kegiatan, mencatat proses pembinaan, serta menjaga keterhubungan antara perencanaan dan pelaksanaan program. Dengan pengelolaan yang tertib, aktivitas kepramukaan diharapkan tidak berjalan secara spontan tanpa arah, tetapi memiliki tujuan, dokumentasi, dan kesinambungan.

Keseluruhan materi hari kedua menunjukkan bahwa pembina Pramuka perlu memiliki kompetensi yang komprehensif. Pembina bukan hanya pelaksana permainan atau pemimpin kegiatan lapangan, melainkan pendidik, teladan, perancang pengalaman belajar, pendamping perkembangan peserta didik, sekaligus pengelola satuan.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang proses pembelajaran. Sebanyak 197 peserta terlibat dalam kegiatan di dalam maupun di luar ruangan dengan semangat yang kuat. Pola pembelajaran berbasis pengalaman membuat suasana kursus lebih dinamis dan membantu peserta memahami penerapan materi dalam praktik pembinaan.

Melalui KMD dan KML ini, Pusdiklatda Argasonya berupaya memastikan peserta tidak hanya mahir secara teknis, tetapi juga memahami fondasi, metode, postur, dan tata kelola satuan. Kompetensi tersebut diperlukan untuk menghadirkan pembinaan Pramuka yang terarah, tertib, menyenangkan, dan berdampak terhadap pembentukan karakter generasi muda.

Rangkaian kursus akan terus berlangsung hingga tujuh hari pelaksanaan. Seluruh materi dan pengalaman belajar diarahkan untuk menyiapkan pembina Pramuka yang mampu mendampingi, menginspirasi, serta menumbuhkan peserta didik melalui proses pendidikan kepramukaan yang berkualitas dan berkelanjutan.

Pusdatin Kwarda Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


Share post:

Subscribe

Popular

More like this
Related