Ketika Pramuka Menjadi Ruang Pemulihan: Perjalanan Peserta KMD–KML UNUSA Menemukan Makna Baru

Date:

SURABAYA — Pelaksanaan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) dan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan (KML) Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya atau UNUSA tahun 2026 tidak hanya membekali peserta dengan pengetahuan dan keterampilan kepramukaan. Kegiatan ini juga mengubah pandangan sejumlah peserta yang sebelumnya menilai Pramuka sebagai aktivitas yang keras, menegangkan, dan penuh tekanan menjadi proses pendidikan yang menyenangkan, humanis, serta relevan bagi profesi guru.

KMD–KML UNUSA 2026 diselenggarakan pada 27 Juli hingga 2 Agustus 2026 melalui kolaborasi UNUSA dengan Pusat Pendidikan dan Pelatihan Daerah Argasonya Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur. Sebanyak 197 peserta mengikuti kegiatan yang terbagi dalam lima kelas, terdiri atas empat kelas KMD dan satu kelas KML.

Para peserta berasal dari beragam latar belakang, termasuk mahasiswa Pendidikan Profesi Guru Prajabatan. Selama tujuh hari, mereka mengikuti rangkaian pembelajaran yang memadukan materi di dalam kelas, praktik keterampilan, simulasi, permainan, diskusi kelompok, serta kegiatan di alam terbuka.

Sejumlah peserta mengaku sempat memiliki kekhawatiran sebelum mengikuti kursus. Kekhawatiran tersebut muncul karena pengalaman kepramukaan sebelumnya lebih banyak dikaitkan dengan kedisiplinan yang keras, teguran, hukuman, jadwal padat, serta suasana latihan yang dianggap menekan.

Namun, pengalaman selama mengikuti KMD–KML UNUSA 2026 memperlihatkan wajah pendidikan kepramukaan yang berbeda. Kedisiplinan tetap diterapkan, tetapi dikemas melalui proses pembelajaran yang interaktif, kreatif, menggembirakan, dan berorientasi pada perkembangan peserta.

Lourna Fitaloka, peserta PPG Prajabatan UNUSA asal Jember, mengatakan dirinya sempat membayangkan KMD sebagai kegiatan yang berat dan menakutkan. Kekhawatiran itu semakin besar karena sebelum kursus berlangsung, ia mengalami gangguan kesehatan berupa keluhan lambung dan pusing hingga harus menjalani istirahat cukup lama.

“Kalau tingkat ketakutan sebelum mengikuti KMD dinilai dari nol sampai sepuluh, mungkin berada di angka sembilan. Saya sempat berpikir bagaimana mengikuti kegiatan dengan kondisi kesehatan seperti itu,” kata Lourna.

Bayangan tersebut berubah setelah kegiatan dimulai. Menurut dia, suasana kursus yang menyenangkan, dukungan para pelatih, serta interaksi positif dengan sesama peserta justru membuatnya lebih nyaman menjalani seluruh rangkaian kegiatan.

“Ternyata KMD tidak seperti yang saya bayangkan. Kegiatannya menyenangkan dan membuat saya ikut bahagia. Ketika berangkat mengikuti kegiatan, kondisi saya terasa baik-baik saja. KMD justru seperti menjadi obat tersendiri,” ujarnya.

Pengalaman serupa disampaikan Hamida Aufa Aulia, peserta PPG Prajabatan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar asal Magetan, Jawa Timur. Ia mengaku sebelumnya memandang Pramuka sebagai kegiatan yang identik dengan sikap galak, hukuman, serta kesalahan kecil yang kerap direspons dengan kemarahan.

Menurut Hamida, jadwal KMD memang cukup padat. Namun, kepadatan kegiatan tersebut tidak terasa sebagai tekanan karena materi disampaikan melalui metode yang menyenangkan. “Meskipun jadwalnya sama-sama padat, perasaannya berbeda karena kegiatannya menyenangkan. Saya sebelumnya belum pernah berpikir bahwa Pramuka dapat dilaksanakan dengan suasana seperti ini,” katanya.

Hamida menilai pendekatan pembelajaran dalam KMD sangat relevan bagi calon guru sekolah dasar. Metode yang diterapkan tidak hanya dapat digunakan dalam latihan Pramuka, tetapi juga dapat diadaptasi dalam proses pembelajaran di kelas. “Ini sangat dibutuhkan oleh guru SD. Bukan hanya untuk diterapkan dalam kegiatan Pramuka, tetapi juga dalam pembelajaran agar anak-anak dapat belajar dengan suasana yang menyenangkan,” ujarnya.

Ia menambahkan, sejumlah materi yang awalnya terasa berat tetap dapat dipahami karena disampaikan dengan pendekatan yang interaktif. Materi baru yang sebelumnya belum pernah dipelajari menjadi lebih mudah diterima ketika dikemas melalui permainan, simulasi, diskusi, dan aktivitas kelompok.

Bagi Hamida, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa penilaian negatif terhadap Pramuka sering kali muncul karena seseorang belum memperoleh pengalaman kepramukaan yang tepat. “Bagi teman-teman yang pernah patah hati dengan Pramuka, mungkin sebenarnya hanya belum mengenal Pramuka secara lebih utuh,” katanya.

Khalfin Deby Setyawan, peserta PPG Prajabatan Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar asal Jombang dan lulusan Universitas Terbuka, juga mengaku sempat mempersiapkan mental sebelum kegiatan dimulai.

Ia melihat latar belakang para pelatih yang memiliki pengalaman serta jabatan penting sehingga membayangkan kursus akan berlangsung sangat serius dan kaku. Namun, kesan itu segera berubah ketika kegiatan dimulai dengan tepuk, permainan, interaksi kelompok, serta pembelajaran praktis.

“Awalnya saya melihat para pelatih dan berpikir kegiatan ini akan sangat serius. Ternyata kami diajak mengikuti berbagai tepuk dan aktivitas yang menyenangkan. Kalau sebelumnya tingkat takutnya sembilan, setelah mengikuti kegiatan tingkat bahagianya bisa sebelas,” ujarnya.

Khalfin mengakui, pada masa sekolah ia termasuk peserta didik yang kurang menyukai kegiatan Pramuka. Pengalaman latihan yang dianggap keras membuatnya beberapa kali tidak mengikuti kegiatan. Pandangannya mulai berubah setelah membantu temannya dalam kegiatan kepramukaan dan semakin menguat saat mengikuti KMD.

Melalui kursus tersebut, ia mendapatkan kesempatan mempelajari cara mendampingi anak, mengajarkan keterampilan, bermain bersama peserta didik, serta mengemas kegiatan kepramukaan sebagai proses pendidikan yang menggembirakan.

Selain pengalaman peserta, KMD–KML UNUSA 2026 juga memuat materi fundamental yang dibutuhkan calon pembina. Pada rangkaian pembelajaran hari kedua, peserta memperoleh materi Prinsip Dasar Kepramukaan, Metode Kepramukaan, Metode Membina, Postur Peserta Didik, Postur Pembina, serta Administrasi Satuan.

Materi tersebut diarahkan untuk memperkuat pemahaman bahwa pendidikan kepramukaan memiliki prinsip, metode, dan sistem pembinaan yang khas. Pembina tidak hanya dituntut mampu menyampaikan kegiatan, tetapi juga memahami karakteristik peserta didik, membangun hubungan pendidikan yang tepat, mengelola satuan, serta menciptakan pengalaman belajar yang bermakna.

Bagi peserta dari program pendidikan guru, keterampilan tersebut memiliki manfaat strategis. Pengalaman selama kursus dapat menjadi bekal untuk menciptakan pembelajaran yang aktif, kolaboratif, menyenangkan, dan berpusat pada peserta didik, baik di gugus depan maupun di ruang kelas.

Kolaborasi antara UNUSA dan Pusdiklatda Argasonya Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur melalui KMD–KML 2026 dengan demikian tidak berhenti pada pemberian sertifikat atau penyelesaian program kursus. Kegiatan ini menjadi ruang transformasi cara pandang peserta terhadap Pramuka sekaligus penguatan kapasitas calon guru dan pembina.

Dari kekhawatiran menjadi kegembiraan, dari pengalaman yang dianggap penuh tekanan menjadi pembelajaran yang humanis, KMD–KML UNUSA 2026 menunjukkan bahwa pendidikan kepramukaan dapat tetap disiplin tanpa kehilangan suasana menyenangkan. Melalui pendekatan tersebut, peserta diharapkan mampu menghadirkan pengalaman serupa bagi anak-anak dan peserta didik yang kelak mereka dampingi.

Pusdatin Kwarda Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


Share post:

Subscribe

Popular

More like this
Related

Bulan Bakti Pramuka 2026, Kwarda Jatim Ajak Anggota Pramuka Bergerak dan Mengabdi untuk Masyarakat

SURABAYA – Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur...

Seleksi Petugas Apel Hari Pramuka ke-65, Kwarda Jatim Siapkan Generasi Pramuka Disiplin dan Berkarakter

SURABAYA – Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur menggelar...

376 Anggota Pramuka Berebut Menjadi Petugas Apel Hari Pramuka ke-65, Kwarda Jatim Siapkan Generasi Teladan

SURABAYA – Semangat pengabdian dan kedisiplinan anggota Gerakan Pramuka...