Bincang Santai Kak Rektor UNUSA Surabaya pada KMD–KML Argasonya: AI Bisa Mengubah Dunia, tetapi Tak Mampu Menggantikan Adab dan Karakter

Date:

SURABAYA — Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (UNUSA), Prof. Dr. Ir. Tri Yogi Yuwono, DEA, IPU, ASEAN.Eng., menegaskan bahwa pendidikan kepramukaan memiliki peran strategis dalam memperkuat karakter, adab, solidaritas, dan semangat gotong royong di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat. Pesan tersebut disampaikan dalam sambutannya pada kegiatan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar (KMD) dan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Lanjutan (KML) UNUSA.

Menurut Tri Yogi, kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan artifisial atau artificial intelligence (AI), dapat mendisrupsi berbagai lini kehidupan. Namun, teknologi tidak dapat menggantikan nilai kemanusiaan, karakter, serta adab yang tumbuh melalui proses pendidikan dan pengalaman sosial.

“Teknologi bisa sangat mendisrupsi lini-lini kehidupan, tetapi AI tidak pernah bisa menjadi pengganti karakter,” ujar Tri Yogi.

Ia menyampaikan rasa bangga dapat berada di tengah kegiatan KMD dan KML UNUSA. Pihak universitas, menurutnya, juga merasa bangga dapat mengirimkan para peserta untuk mengikuti kursus tersebut karena Gerakan Pramuka memiliki kekhasan dalam membangun solidaritas, gotong royong, dan penghormatan terhadap adab.

Nilai-nilai tersebut dinilai sangat penting sebagai bekal peserta ketika kembali mengabdi di gugus depan maupun lingkungan masyarakat. Melalui kursus pembina, peserta tidak hanya memperoleh pengetahuan teknis tentang kepramukaan, tetapi juga mendapatkan ruang pembelajaran untuk memperkuat kemampuan interpersonal, kepemimpinan, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

“KMD dan KML ini menjadi bagian dari upaya menguatkan soft skill seluruh peserta agar semakin berkarakter dan beradab,” katanya.

Tri Yogi mengingatkan bahwa kegiatan kepramukaan tidak seharusnya berhenti pada aktivitas permainan atau kegiatan di alam terbuka. Lebih dari itu, Gerakan Pramuka harus mampu melahirkan tindakan nyata yang membawa manfaat serta dampak bagi masyarakat.

Ia kemudian membagikan pengalamannya ketika berada di Prancis. Saat itu, Pramuka Prancis menghubunginya dan memintanya menjadi duta budaya Indonesia. Dalam kegiatan tersebut, berbagai tarian daerah Indonesia disajikan dalam sebuah pertunjukan untuk masyarakat Prancis.

Pertunjukan budaya tersebut diselenggarakan sebagai kegiatan berbayar. Dana yang diperoleh dari kegiatan itu selanjutnya dikembalikan kepada masyarakat melalui sebuah proyek sosial di salah satu kampung di Sumatera dalam bentuk pembangunan sumur.

Pengalaman tersebut, menurut Tri Yogi, menunjukkan bahwa aktivitas kepramukaan dapat menghubungkan pendidikan karakter, kebudayaan, solidaritas internasional, dan pengabdian sosial dalam satu rangkaian kegiatan yang memberikan manfaat nyata.

Pramuka, lanjutnya, harus mampu membentuk anggota yang tidak hanya terampil mengikuti kegiatan lapangan, tetapi juga memiliki kepekaan dalam membaca persoalan masyarakat. Setiap aktivitas idealnya diarahkan untuk menghasilkan perubahan, manfaat, dan kontribusi yang dapat dirasakan lingkungan sekitar.

Semangat tersebut menjadi salah satu pesan utama yang ditekankan kepada para peserta KMD dan KML. Setelah menyelesaikan kursus, para peserta diharapkan mampu mengimplementasikan pengetahuan, pengalaman, serta nilai-nilai yang diperoleh dalam proses pembinaan di gugus depan.

Peserta juga diharapkan dapat menjadi pembina yang mampu menanamkan solidaritas, budaya gotong royong, adab, serta kepedulian sosial kepada peserta didik. Dengan demikian, proses pendidikan kepramukaan tidak hanya menghasilkan individu yang memiliki keterampilan, tetapi juga generasi yang memiliki karakter kuat dan kesadaran untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.

Dalam sambutannya, Tri Yogi turut menyampaikan doa dan harapan agar seluruh peserta kursus dapat memberikan dampak positif di lingkungan masing-masing. Keberhasilan kursus, menurut pesan yang disampaikan, tidak semata-mata diukur dari terselesaikannya rangkaian kegiatan, tetapi dari perubahan sikap dan kontribusi peserta setelah kembali menjalankan tugas pengabdian.

UNUSA juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pusat Pendidikan dan Pelatihan Daerah (Pusdiklatda) Argasonya Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur atas kolaborasi yang telah terjalin dalam penyelenggaraan kegiatan KMD dan KML bagi seluruh peserta.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian penting dalam mempertemukan lingkungan perguruan tinggi dengan sistem pendidikan dan pelatihan kepramukaan. Melalui kerja sama itu, peserta memperoleh kesempatan untuk mengembangkan kemampuan pembinaan sekaligus memperkuat nilai karakter dan adab.

Kegiatan KMD dan KML diharapkan tidak hanya menjadi proses peningkatan kompetensi pembina, tetapi juga menjadi titik awal lahirnya pengabdian yang lebih luas. Para peserta diharapkan mampu membawa semangat pendidikan kepramukaan ke gugus depan dan masyarakat, serta menjadikannya sebagai kekuatan untuk membangun lingkungan yang lebih solid, berkarakter, beradab, dan saling peduli.

Pusdatin Kwarda Jatim

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


Share post:

Subscribe

Popular

More like this
Related

Ketika Pramuka Menjadi Ruang Pemulihan: Perjalanan Peserta KMD–KML UNUSA Menemukan Makna Baru

SURABAYA — Pelaksanaan Kursus Pembina Pramuka Mahir Tingkat Dasar...

Bulan Bakti Pramuka 2026, Kwarda Jatim Ajak Anggota Pramuka Bergerak dan Mengabdi untuk Masyarakat

SURABAYA – Kwartir Daerah (Kwarda) Gerakan Pramuka Jawa Timur...

Seleksi Petugas Apel Hari Pramuka ke-65, Kwarda Jatim Siapkan Generasi Pramuka Disiplin dan Berkarakter

SURABAYA – Kwartir Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur menggelar...

376 Anggota Pramuka Berebut Menjadi Petugas Apel Hari Pramuka ke-65, Kwarda Jatim Siapkan Generasi Teladan

SURABAYA – Semangat pengabdian dan kedisiplinan anggota Gerakan Pramuka...