21 Hari Challenge Lomba Iklim: Bukan Sekadar Tantangan, Namun Panggilan Jiwa Kepanduan

Pramuka selalu mempunyai hubungan yang erat dengan alam dan lingkungan. Kegiatan-kegiatan Pramuka yang dekat dengan alam dan menyatu dengan lingkungan menjadikan anggota aktif Pramuka memiliki kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Setidaknya, hal-hal inilah yang ingin dipertajam dan diwujudkan oleh Kwarda Jatim dalam Lomba Iklim Gudep Pramuka 2025.

Pangkalan SDN Jemur Wonosari I/417 Surabaya menangkap momentum Lomba Iklim Gudep Pramuka Jawa Timur 2025 ini sebagai bagian dari tekad SDN Jemur Wonosari I/417 Surabaya mewujudkan visi, misi, dan tujuan sekolah serta pangkalan. Berbagai tantangan/challenge yang diberikan menjadi pelecut semangat semua anggota aktif Pramuka di pangkalan agar terus melakukan berbagai aksi nyata lingkungan.

Waktu 21 hari yang dirancangkan oleh Kwarda Jatim menjadi waktu yang cukup untuk memulai sebuah pembiasaan. Tantangan 21 hari bukan sekadar tentang menahan diri dari kebiasaan lama, tetapi tentang memberi ruang bagi kebiasaan baru yang lebih ramah lingkungan untuk tumbuh dan mengakar. Saat seseorang melakukan tindakan ramah lingkungan selama 21 hari berturut-turut, otak mulai mengenalinya sebagai pola baru—bukan lagi sebagai beban, melainkan sebagai kebutuhan. Dua puluh satu hari adalah jembatan antara niat dan kebiasaan. Di sanalah perubahan kecil, seperti membawa botol minum sendiri atau memilah sampah, berubah menjadi identitas diri.

Pangkalan SDN Jemur Wonosari I/417 Surabaya sendiri adalah pangkalan yang selama ini telah aktif dalam berbagai program kepedulian lingkungan hidup dengan berbagai pembiasaan yang diikuti oleh seluruh warga sekolah. Bahkan, pangkalan SDN Jemur Wonosari I/417 Surabaya telah meraih Juara II Lomba Wirausaha Gudep Pramuka Jawa Timur 2025. Aksi nyata kepedulian lingkungan yang selama ini telah diupayakan menjadi semakin mantap dikerjakan secara masif oleh seluruh warga sekolah dengan adanya berbagai tantangan dalam Lomba Iklim.

Sebagai pangkalan yang telah mewujudkan Sekolah Zero Waste sejak tahun 2022, maka SDN Jemur Wonosari I/417 Surabaya mempunyai tantangan dalam hal lain untuk mewujudkan kepedulian lingkungan. Masalah yang masih perlu terus diupayakan adalah konsistensi dalam ber-Zero Waste dan pengelolaan sampah organik terutama untuk sisa makanan, sayur, dan kulit buah. Berbagai upaya aksi nyata pun dilakukan untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, di antaranya melakukan kerja bakti untuk mengumpulkan sampah organik berupa daun kering yang jumlahnya sangat melimpah di pangkalan ini, terus mengisi komposter sekolah baik itu komposter beton, lubang resapan biopori, Takakura, membudidayakan maggot, dan membuat eco-enzyme.

Upaya-upaya konservasi air serta penanaman dan pemeliharaan tanaman pun terus dilakukan, bukan hanya sekadar untuk memenuhi challenge (tantangan) yang diberikan, namun diniatkan untuk merawat dan melestarikan bumi ini agar nyaman dan sehat untuk ditinggali. Niat yang murni, tekad yang bulat untuk menjaga bumi—bukankah itu semua menunjukkan bahwa kita adalah Pandu Sejati?

Bagi pangkalan SDN Jemur Wonosari I/417 Surabaya, setiap tantangan harus berdampak bagi lingkungan dan menggugah hati seluruh anggota aktif yang ada di pangkalan, bahkan juga masyarakat sekitar. Sebagai Pandu Sejati, kepedulian terhadap lingkungan bukan lagi sekadar program atau kegiatan insidental, melainkan menjadi bagian dari jati diri dan cara hidup. Setiap tetes air yang dihemat, termasuk air lerinya, setiap bibit yang ditanam, dan setiap sampah yang dipilah merupakan wujud tanggung jawab kita kepada bumi yang telah memberi kehidupan. Tindakan-tindakan kecil ini, ketika dilakukan terus-menerus, membentuk kebiasaan yang menumbuhkan karakter peduli, disiplin, dan bertanggung jawab.

Lebih dari itu, kepedulian lingkungan mengajarkan kita untuk peka terhadap sekitar, belajar tentang keseimbangan alam, serta memahami bahwa setiap pilihan kita memiliki dampak. Tantangan 21 hari hanyalah pintu awal untuk membangun kesadaran baru bahwa bumi bukanlah tempat yang bebas dieksploitasi, melainkan rumah yang harus dirawat bersama. Apabila kebiasaan ini terus dipelihara, maka kelak akan tumbuh generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga bijaksana dalam bersikap terhadap alam. Generasi yang memahami bahwa cinta pada bumi bukan slogan, melainkan tindakan nyata yang dilakukan setiap hari, sekecil apa pun bentuknya.

Karena pada akhirnya, menjadi Pandu Sejati bukan ditentukan oleh sebutan atau atribut yang melekat, melainkan oleh keberanian untuk bertindak, kesetiaan untuk merawat, dan konsistensi untuk melestarikan bumi yang kita cintai.

Pramuka Jatim Tangguh, Bumi Teduh!

Pusdatin Kwarda Jatim