Pramukarek.or.id, Jember – Kwartir Daerah Jawa Timur kini kembali dengan eksistensi yang menarik. Tak hanya kegiatan pramuka produktif biasa, berkemah, atau pun sosial kemanusiaan. Kini, telah hadir inovasi baru yang telah terbukti memunculkan bibit-bibit generasi penerus bangsa yang bisa menerapkan kode kehormatan pramuka di dalam kehidupan sehari-hari. tidak hanya sekadar berkata, namun dengan adanya aksi nyata dan tekad yang kuat, anak-anak pramuka siaga hingga penegak telah berkomitmen untuk menjadikan lingkungan di sekitarnya asri dan bebas dari sampah.
Tak heran, terdapat banyak informasi mengenai bencana alam yang sering kali tidak digubris oleh kebanyakan orang. Sebenarnya, kesadaran bukan tumbuh sesaat ketika ditegur atau bahkan diingatkan. Namun, kesadaran yang sejati adalah kesadaran yang tumbuh perlahan dari dalam hati, dari dalam jiwa. Seperti saat ini, dengan kepekaan dan kepedulian yang besar, Kwartir Daerah Jawa Timur telah menginovasikan sebuah lomba, yaitu lomba iklim gudep pramuka Jawa Timur, dengan tema “Pramuka Jatim Tangguh, Bumi Teduh”.
Perlu dipahami, bahwa perlombaan ini bukanlah hanya perlombaan biasa yang hanya melibatkan sedikit perjuangan, namun dibutuhkan konsistensi dan komitmen dari seluruh peserta lomba. Para peserta lomba dituntut untuk dapat bertanggung jawab dan berdedikasi tinggi terhadap gudep masing-masing.
Lomba iklim gudep Jatim yaitu lomba yang diadakan selama dua puluh satu hari lamanya. Panitia telah mengemas kegiatan yang cukup padat itu dengan sangat sempurna. Bulan November, menjadikan pramuka Jawa Timur unggul dan hijau. Perlu diketahui, bahwa perlombaan ini dibagi menjadi tiga challenge. Challenge pertama (10-16 November 2025) bertema “Hijaukan Gudepku”, challenge kedua (17-23 November 2025) bertema “Jaga Setetes Air”, sedangkan untuk challenge ketiga (24-30 November 2025) bertema ” Gudep Tanpa Sampah”.
Jika dilihat dari tema kegiatan setiap challenge, tentunya pengamatan yang tajam akan menemukan sebuah keterkaitan antar ketiga challenge. Challenge-challenge tersebut bukan hanya tentang tema semata, namun bagaimana setiap gudep dari pramuka siaga hingga penegak dapat berinovasi dan menciptakan ide-ide kreatif bagaimana gudepnya dapat menjadi yang terbaik.
Pramuka SMKN Kalibaru, ambalan Mustika Asyhari telah siap dan berkomitmen untuk mengikuti perlombaan tersebut. Bukan keikutsertaan semata, melainkan bagaimana agar setiap anggota pramuka, pembina, maupun warga sekolah dan masyarakat dapat bekerja sama untuk menyelesaikan setiap challenge dengan kreativitas dan pemaksimalan potensi yang ada.
Setiap hari, sepulang sekolah, anggota pramuka dan para pembina utama yaitu Fitri Utami, A. Md., dan Deni Riski Maulana, S. A. P., selalu hadir serta menunjukkan diri di garda terdepan. Ini bukan hanya sekadar kesombongan semata untuk mengharumkan nama sekolah dalam ajang perlombaan, namun bagaimana para anggota pramuka bisa membuat kegiatan perlombaan ini menjadi awal untuk berkomitmen untuk keberlanjutan ke depan.
Kegiatan ini harus dipelopori oleh semangat yang tinggi dan daya juang yang maksimal. Perjuangan awal dimulai dengan inisiatif yang tinggi, bagaimana para pembina dan anggota pramuka dapat menyusun strategi untuk memaksimalkan kegiatan yang ada. Menmang tidak mudah dan membutuhkan tenaga ekstra, terutama pada challenge pertama, yaitu penghijauan gudep. Penghijauan tersebut bunan hanya tentang menanam, tapi bagaimana komitmen dan tanggung jawab anggota pramuka dalam menjaga keberlangsungan kehidupan sesama makhluk Tuhan. Menanam jauh lebih mudah daripada merawat. Karena sejatinya, tanaman juga makhluk hidup yang memiliki perasaan.
Challenge kedua dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Kaborasi dengan sesama warga sekolah menjadi kunci utama keberhasilan. Para anggota pramuka mengemas challenge ini agar dapat terhubung dengan challenge pertama.
Tak terasa, waktu terus berjalan, challenge ketiga telah menanti, menandakan perlombaan ini sebentar lagi akan usai. Namun, komitmen dan tanggung jawab akan terus berjalan seiring dengan berjalannya waktu. Bagaimana anggota pramuka SMKN Kalibaru sapat menyukseskan kegiatan jni agar menjadi proyek keberlanjutan hingga dapat melibatkan seluruh warga sekoalh dan mengajarkan betapa pentingnya kesadaran diri dari hati.
Penulis: Ririn Dwi Arisanti
