Waka Kwarnas Prof. Asrorun Niam: Pramuka Harus Lakukan ‘Continuous Improvement’, Bukan Sekadar ‘Zero Sum Game’ dengan Pemerintah

SURABAYA, Jawa Timur – Wakil Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Bidang Organisasi, Hukum, Perencanaan, dan Pengembangan, Prof. Dr. H. M. Asrorun Niam Sholeh, M.A., menyerukan transformasi mendasar dalam pengelolaan Gerakan Pramuka. Membuka Musyawarah Daerah (Musda) Jawa Timur 2025 di Surabaya, Selasa (9/12), Prof. Niam menekankan pentingnya organisasi untuk tidak terjebak pada kejayaan masa lalu, melainkan terus melakukan perbaikan berkelanjutan (continuous improvement) di tengah dinamika zaman.

Hadir mewakili Ketua Kwarnas, Kak Budi Waseso yang berhalangan hadir karena tugas serupa di Jawa Barat, Prof. Niam menyampaikan pidato yang memadukan nilai akademis, religius, dan strategi organisasi modern.

Dalam arahannya, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah ini menggarisbawahi bahwa evaluasi organisasi tidak boleh statis. Beliau memperkenalkan kaidah continuous improvement atau perbaikan terus-menerus sebagai landasan gerak Pramuka ke depan.

“Kondisi lebih baik dari kini, akan muncul terus yang disebut sebagai continuous improvement. Perbaikan terus-menerus. Karena bisa jadi menurut kita hari ini baik, esok dan esok lusa belum tentu baik. Hari ini excellent, esok atau lusa bisa jadi itu sudah kedaluwarsa,” tegas Prof. Niam.

Beliau memperkuat argumennya dengan mengutip kaidah fiqih yang dimodifikasi untuk konteks organisasi modern, yakni Al ishlahu ila ma huwal ashlah, tsummal ashlah, tsummal ashlah.

“Komitmen untuk terus memperbaiki, memperbaiki, dan terus memperbaiki. Karena pada hakikatnya kehidupan kita adalah gerak yang bersifat dinamis,” jelasnya.

Menyoroti hubungan antara Gerakan Pramuka dengan pemerintah daerah, Prof. Niam menegaskan posisi Pramuka sebagai mitra strategis yang konstruktif. Beliay menolak anggapan bahwa hubungan organisasi dengan pemerintah adalah kompetisi.

“Keberadaan Gerakan Pramuka adalah mitra strategis yang bersifat saling menguatkan dan juga menguntungkan. Bukan zero sum game. Dan juga bukan dalam posisi menjadi sparing,” ujarnya.

Beliau menjelaskan bahwa fungsi Pramuka adalah sebagai penyeimbang yang objektif. “Kita mengingatkan pada saat yang baik kita dukung, pada saat yang kurang kita tambah, pada saat yang luput kita perbaiki. Itulah komitmen Gerakan Pramuka,” tambahnya.

Suasana Musda yang formal menjadi cair ketika Prof. Niam menunjukkan sisi adaptifnya terhadap kemajuan zaman. Merespons pantun yang dilontarkan Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak, Prof. Niam berseloroh bahwa adaptasi teknologi mutlak diperlukan, bahkan untuk hal sederhana seperti membalas pantun.
Beliau mengaku memanfaatkan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) untuk menyusun rimanya, sebuah simbolisasi jenaka tentang pentingnya bersinergi dengan teknologi masa kini.

“Ini saya tadi bikin pantun sambil [memanfaatkan AI]. Karena Kak Emil ini teknokrat jadi harus agak ilmiah,” candanya yang disambut tawa hadirin, menyiratkan pesan tersirat bahwa insan Pramuka harus luwes beradaptasi dengan era digital.

Kehadiran Prof. Niam di Surabaya juga menjadi momen emosional tersendiri. Beliau mengungkapkan bahwa penugasannya ke Jawa Timur terasa spesial karena merupakan tanah kelahirannya.

“Saya lahir di Nganjuk, di Kertosono. Kemudian sekolah di Jember. Baru kemudian kuliah di Jakarta. Dan enggak pulang-pulang. Karena belum dipanggil Kak Arum Sabil ini,” kelakarnya yang menunjukkan kedekatan personal dengan Ketua Kwarda Jatim.

Menutup arahannya, Prof. Niam mengingatkan esensi musyawarah sebagai ruang demokrasi yang mempersatukan, bukan memecah belah. Beliau berharap Musda Jatim dapat diselesaikan dengan mufakat tanpa harus melalui voting yang melelahkan.

“Saya ikut banyak permusyawaratan di berbagai organisasi. Sering kali terdapat anomali… berangkatnya bersama tapi pulangnya kadang sendiri-sendiri karena beda pilihan,” kritiknya terhadap fenomena organisasi masa kini.

“Tetapi saya yakin, Musda Gerakan Pramuka, musyawarah adalah nafas kehidupannya. Mufakat adalah komitmen kebersamaannya,” pungkas Prof. Niam menutup sambutannya di Musyawarah Daerah Gerakan Pramuka Jawa Timur Tahun 2025.

Pusdatin Kwarda Jatim